Ambisi Bali Emisi Nol Bersih 2045 di Pekan Iklim Bali 2026

Ambisi Bali Emisi Nol Bersih 2045 di Pekan Iklim Bali 2026
Ilustrasi - Foto: Unsplash
Bacakan Artikel

“Pengalaman di Sanur dapat menjadi ruang pembelajaran untuk melihat bagaimana pengurangan emisi bisa beriringan dengan meningkatnya produktivitas ekonomi lokal, dimana kebijakan, inisiatif masyarakat, dan partisipasi sektor usaha dapat dihubungkan dalam satu agenda perubahan”, ujar Suzanty Sitorus, Komite Pengarah Koalisi Bali Emisi Nol Bersih sekaligus Direktur Eksekutif ViriyaENB dalam kesempatan tersebut.

Di saat yang bersamaan, mitigasi risiko dan dampak dari perubahan iklim  yang masih menjadi problema bersama harus terus diupayakan. Dalam pidato kunci, Hanif Faisol Nurofiq, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan menyampaikan “Risiko iklim seperti karhutla bukan sebuah takdir, dan kita tidak bisa tinggal diam. Dengan posisi tepat berada di garis khatulistiwa, negara kita sangat rentan pada perubahan iklim. Pemerintah pusat dapat memberikan arahan, tetapi keberhasilannya bergantung pada daerah. Komitmen tersebut membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten serta koordinasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota agar dapat diterjemahkan menjadi program yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik tiap wilayah.”

Pada sesi-sesi selanjutnya, Forum Kebijakan Publik membahas berbagai aspek transisi baik dari transportasi publik dan penataan ruang publik, pemanfaatan energi surya, inklusivitas dan transisi berkeadilan, hingga penguatan UMKM hijau. Forum Kebijakan Publik merupakan bagian dari Pekan Iklim Bali 2026, yang berlangsung pada 13–17 Oktober 2026, diselenggarakan oleh Koalisi Bali Emisi Nol Bersih dengan dukungan ViriyaENB.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2