Air Mata Buaya Nyata Adanya, Bukan Hanya Kiasan, Ini Penjelasannya

Klikhijau.com – Air mata buaya, kiasan itu terlalu sering bertandang ke pendengaran kita. Sebuah ungkapan untuk menunjukkan “ketidakpercayaan” pada seseorang yang menangis. Sebab air matanya tak me...

Air Mata Buaya Nyata Adanya, Bukan Hanya Kiasan, Ini Penjelasannya
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Klikhijau.com – Air mata buaya, kiasan itu terlalu sering bertandang ke pendengaran kita. Sebuah ungkapan untuk menunjukkan “ketidakpercayaan” pada seseorang yang menangis.

Sebab air matanya tak menunjukkan keadaan yang sesungguhnya, sederhananya air mata sang buaya adalah air mata yang menipu atau kamu bisa menyebutnya palsu.

Tapi benarkah air mata buaya hanya sekadar kiasan? Atau buaya memang bisa menangis—mengeluarkan air matanya?

Dilansir Kompas, Selasa 7 Mei 2019 lalu, buaya ternyata bisa menangis ketika makan. Fakta ini sebenarnya sudah diketahui sejak beberapa abad lalu.

[irp posts="4722" name="Suatu Sore yang Membiakkan Rasa Penasaran Tentang Kelinci, Rupanya Begini Faktanya"]

Referensi paling awal tentang hal ini dimuat dalam buku terlaris abad ke-14 berjudul The Voyage and Travel karya Sir John Madeville. Madeville mendeskripsikan buaya sebagai ular panjang yang suka berendam di air saat malam hari dan berada di tanah atau bersembunyi di gua saat siang.

"Mereka membunuh manusia dan memakannya sambil menangis," bunyi salah satu kutipan di dalam buku.   Buaya memang menangis atau setidaknya mengeluarkan air mata, ketika makan.

Namun hal ini bukan berarti buaya sedih atau memiliki sisi sensitif, tapi ada penjelasan fisiologi untuk fenomena ini. Pada 2007, Science Daily melaporkan bahwa ahli zoologi Ken Vliet dan konsultan neurologi Dr. D. Malcolm Shaner melakukan pengamatan mendalam terhadap buaya saat makan dan menemukan reptil besar itu mengeluarkan air mata berupa buih dan gelembung di sekitar mata mereka.

Vliet menyimpulkan, produksi air mata itu berasal dari desisan dan teriakan yang dibuat binatang liar ini ketika melahap mangsa.

"Hal ini memaksa udara dari sinus untuk merangsang kelenjar air mata guna menghasilkan air mata berlebih. Beberapa udara yang keluar menghasilkan buih dan gelembung di sekitar mata," ujar Vliet.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2