Ahli Primata Bersatu Mencari Jalan Agar Kera Besar Tetap Aman dari Corona
Klikhijau.com – Para ahli primata di dunia sedang berjejaring dan mencari solusi bersama agar kera besar aman dari infeksi virus corona. Bukan tanpa alasan, kera besar agaknya memang rentan terseran v...
Klikhijau.com – Para ahli primata di dunia sedang berjejaring dan mencari solusi bersama agar kera besar aman dari infeksi virus corona. Bukan tanpa alasan, kera besar agaknya memang rentan terseran virus yang ditularkan dari manusia.
Dilansir dari laman ScienceMag (1 Mei 2020), kera besar punya riwayat terserang virus pernapasan yang menyapu 56 simpanse di komunitas Kanyawara di Taman Nasional Kibale di Uganda, tempat para peneliti telah mempelajari perilaku simpanse selama 33 tahun.
Lebih dari 40 kera jatuh sakit; lima meninggal. "Simpanse tampak seperti boneka lemas di lantai hutan, batuk dan bersin. Benar-benar menyedihkan," kenang pakar ekologi penyakit Tony Goldberg dari University of Wisconsin, Madison.
Pemicu penyakitnya saat itu adalah Rhinovirus C, virus flu biasa pada manusia, yang ditemukan para peneliti setelah menganalisis secara genetik sampel dari simpanse bayi yang mati. Goldberg "100% yakin" virus itu berasal dari manusia — mungkin turis, peneliti, pekerja, atau penduduk desa.
Virus pernapasan manusia sudah menjadi penyebab utama kematian di komunitas simpanse di Kibale dan di Taman Nasional Gombe Stream di Tanzania.
[irp]
Kini, ketika COVID-19 menyebar diprediksi juga berpotensi mengancam populasi kera besar di Asia dan Afrika. Karenanya, para peneliti dan dokter hewan sedang bersiap-siap untuk melindungi kera serta masyarakat setempat.
Pembatasan jarak dengan kera besar dilakukan demi mengurangi kontak dengan kera. Hal ini dilakukan agar tidak ada perpindahan virus, sebab bila telanjur menular penyelesaiannya menjadi sangat sulit mengingat kera cenderung hidup berkelompok.
Setiap kali virus pernapasan menyapu, sekitar seperempat simpanse telah mati, kata primatolog Roman Wittig dari Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi.
Kematian-kematian itu, ditambah dengan perburuan dan hilangnya habitat, populasi simpanse hutan Taï kini telah menyusut dari 3.000 pada tahun 1999 menjadi 300 hingga 400 hari ini, katanya.
Virus pernapasan juga telah menyebabkan hingga 20% kematian mendadak pada gorilla dan hanya 1063 gorila gunung yang tersisa. Separuh tinggal di Taman Nasional Bwindi Impenetrable di Uganda, tempat 40.000 turis berkunjung setiap tahun.
[irp]