7 Aksi Praktis Atasi Sampah Makanan di Rumah
Klikhijau.com – Sampah makanan setiap harinya mengepung dapur di rumah kita. Tanpa kita sadari, ada begitu banyak bagian dari apa yang kita makan hanya terbuang sia-sia. Faktanya, sampah makanan ke...
Klikhijau.com – Sampah makanan setiap harinya mengepung dapur di rumah kita. Tanpa kita sadari, ada begitu banyak bagian dari apa yang kita makan hanya terbuang sia-sia.
Faktanya, sampah makanan kebanyakan hanya menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Lalu, apa yang salah? Apakah karena pola pengelolaan bahan makanan sehari-hari kita yang dibuat tanpa perencanaan? Atau karena kebiasaan kita tak menghabiskan makanan?
Dua-duanya bisa jadi pemicu. Lihat saja, betapa porsi makanan yang dibuat kerap tak sebanding dengan kapasitas konsumsi. Namun, yang paling memprihatinkan tentu saja adalah kebiasaan tak menghabiskan makanan dan membuangnya tanpa dosa.
Data sampah makanan
Berdasar data FAO, Indonesia kini menghasilkan 13 juta metrik ton sampah makanan per tahunnya. Jumlah ini amat mencengankan sebab bila dikalkulasi, beratnya sama dengan 500 kali berat Monumen Nasional. Bahkan, data dari The Economist Intelligence Unit menyebutkan Indonesia merupakan negara pembuang makanan kedua terbesar di dunia. Setiap orang Indonesia menghasilkan setidaknya 300 kg sisa makanan per tahun. [irp] Jumlah makanan terbuang tersebut sejatinya cukup untuk memberi makan 11% populasi Indonesia. Atau setara dengan 28 juta penduduk setiap tahunnya, mirip dengan angka jumlah penduduk miskin di Indonesia. Kontributor sampah makanan tersebut berasal dari hotel, restoran, catering, supermarket, gerai ritel, dan perilaku masyarakat yang gemar tidak menghabiskan sisa makanannya.Dampaknya pada lingkungan
Lalu, bagaimana dampaknya pada lingkungan? Bila sampah makanan terbuang begitu saja ke TPA dan tak terkelola baik melalui pemilahan, maka sampah jenis ini akan menghasilkan gas metana (CH4) saat proses pembusukannya. Gas CH4 ini termasuk ke dalam gas rumah kaca yang dapat memicu terjadinya pemanasan global. Bahkan 21 kali lebih kuat untuk membuat bumi semakin hangat dibandingkan gas karbon dioksida (CO2). Indonesia telah mencatat sebuah tragedi kemanusiaan akibat sampah makanan yakni longsor di TPA Leuwigajah, Cimahi tahun 2005 silam. Tragedi ini disebabkan oleh akumulasi gas CH4 pada gunungan sampah, karena gas metana memiliki sifat mudah terbakar. Tragedi ini juga terjadi di sejumlah TPA lainnya di beberapa daerah. [irp] Selain dampak ekologi, sampah makanan juga menimbulkan masalah sosial seperti ketimpangan pangan. Bayangkan saja, betapa banyak orang yang memiliki keterbatasan dengan sumber pangan, namun di sisi lain ada sejumlah orang yang justru membuang sisa makanannya begitu saja ke lingkungan.Tips mengatasi beban sisa makanan
Melihat data volume sampah makanan yang begitu besar plus dampaknya pada lingkungan, sejatinya kita semua ikut andil dalam menekan jenis sampah organik. Apa saja yang bisa dilakukan? Aksi kecil dimulai dari diri sendiri dapat diterapkan. Berikut 7 aksi praktis yang bisa dijalankan:-
Bergabung dengan komunitas
-
Belanja seperlunya
-
Masak sesuai porsi keluarga di rumah
-
Ambil makanan sesuai porsi dan habiskan
-
Memahami cara menyimpan makanan
-
Lebih kreatif mengolah sisa makanan
-
Budayakan berbagi makanan