Tertinggi di Asia Tenggara, Indonesia Darurat Sampah Elektronik 1,9 Juta Ton, Lintasarta dan EwasteRJ Dorong Ekonomi Sirkular
Klikhijau.com - Indonesia menghadapi tantangan besar terkait timbulan sampah elektronik (e-waste). Data Global E-Waste Monitor 2024 dari International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations Institute for Training and Research (UNITAR) mencatat, Indonesia menghasilkan sekitar 1,9 juta ton sampah elektronik pada 2022. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu penghasil e-waste terbesar di dunia, sekaligus yang tertinggi di Asia Tenggara.
Merespons persoalan tersebut, penyedia penyedia layanan infrastruktur digital Lintasarta menggandeng komunitas pengelola limbah elektronik EwasteRJ menggelar program #AksiCintaBumi bertema “Transforming E-Waste, Empowering Our Future”. Berlangsung sejak Agustus hingga November 2026, program ini menargetkan pengumpulan 380 kilogram e-waste di wilayah Jakarta, Tangerang Selatan, dan Depok.
Inisiatif ini dirancang untuk menggeser cara pandang publik terhadap gawai dan perangkat elektronik bekas. Perangkat yang sudah tidak terpakai tidak lagi diposisikan sebagai sampah akhir yang dibuang begitu saja, melainkan sebagai material bernilai yang dapat dipulihkan melalui skema ekonomi sirkular.
Head Corporate Secretary, Legal, and Regulatory Lintasarta, Billy Nikolas Simanjuntak, menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Sebagai penyedia layanan digital terintegrasi melalui Lintasarta Intelligent Core—yang mencakup Connectivity, Cloud, Cybersecurity, hingga Collaboration-AI—perusahaan bergantung pada perangkat fisik seperti server, GPU, storage, dan jaringan yang seluruhnya memiliki batas masa pakai.
"Melalui #AksiCintaBumi, Lintasarta ingin mendorong kesadaran bahwa perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan bukan berarti kehilangan seluruh nilainya. Dengan pengelolaan yang tepat kita dapat memperpanjang nilai teknologi, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam ekonomi sirkular," kata Billy.
Pengelolaan limbah dalam program ini dipastikan tidak hanya berhenti pada tahap pengumpulan. Lintasarta dan EwasteRJ membagi alur penanganan berdasarkan kondisi teknis perangkat. Gawai yang masih berfungsi akan melewati proses identifikasi untuk perbaikan (refurbishment) atau guna ulang (second life). Sementara itu, perangkat yang telah habis masa pakainya akan dibongkar untuk dipilah komponen serta material berharganya.
Limbah elektronik menuju karya seni
Uniknya, sebagian material hasil pemulihan limbah elektronik tersebut akan ditransformasikan menjadi karya seni edukatif berbentuk Garuda dan Peta Indonesia dengan tema Unity in Action. Karya ini menjadi simbol kolaborasi sekaligus medium visual untuk mengedukasi publik mengenai potensi ekonomi sirkular.
Founder EwasteRJ, Rafa Jafar, menyampaikan bahwa pengelolaan e-waste memerlukan ekosistem yang berkelanjutan dari hilir ke hulu.
"E-waste adalah bagian dari siklus hidup teknologi. Di dalam perangkat yang sudah tidak digunakan masih terdapat komponen dan material yang memiliki nilai. Melalui kolaborasi seperti #AksiCintaBumi, kita ingin memastikan perangkat tersebut masuk ke ekosistem yang tepat—untuk digunakan kembali ketika masih memungkinkan, dipulihkan materialnya, dan dikembalikan ke dalam siklus yang produktif," ujar Rafa.
Guna memperluas jangkauan edukasi, program yang menjadi bagian dari pilar Lintasarta Peduli Negeri ini turut melibatkan pelajar dan mahasiswa. Kampanye pengumpulan dan pemilahan limbah ini merangkul Universitas Indonesia, SMA Labschool Cirendeu, komunitas Trash Ranger Indonesia, serta para environmental creators.
Melalui sinergi antara pelaku industri, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat umum, pemanfaatan kembali gawai bekas diharapkan menjadi standar baru pengelolaan limbah teknologi di Indonesia.