Singgah di Karts Pattunuang, Menemukan Banga Batu di Balik Benteng Batuan Purbakala

Singgah di Karts Pattunuang, Menemukan Banga Batu di Balik Benteng Batuan Purbakala
Singgah di Karts Pattunuang, Menemukan Banga Batu (Dracaena multiflora )di Balik Benteng Batuan Purbakala, Foto: Ist
Bacakan Artikel
St. Nashwa Wahdania Azis

Mahasiswa Magang dari Prodi Sosiologi Universitas Negeri Makassar

"Masyarakat lokal menyebutnya banga batu, atau pandan hutan. Nama ilmiahnya Dracaena multiflora dari famili Asparagaceae," ujar Pak Taufik Ismail, petugas Pengendali Ekosistem Hutan dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang mendampingi ekspedisi kami.

Ia menjelaskan bahwa Dracaena multiflora tumbuh secara alami tanpa campur tangan budidaya manusia. Tumbuhan ini memiliki daya tahan ekologis luar biasa karena sanggup melintasi pergantian dua musim ekstrem, kemarau dan penghujan dengan beradaptasi pada variasi substrat mulai dari tanah humus, celah bebatuan cadas, hingga kawasan yang berdekatan dengan tepian sungai.

Dari penelusuran literatur ekologi kawasan Wallacea, Dracaena multiflora memang dikenal sebagai spesies endemik yang tangguh di ekosistem batu kapur. Secara morfologi, batangnya dapat tumbuh tinggi menjulang hingga sekitar 10 meter dengan tekstur sedikit kasar bermotif tajam. Daunnya memanjang, kaku, bertekstur agak keras, serta berwarna hijau tua pekat.

Uniknya, meski menyandang nama lokal pandan hutan, ia sama sekali tidak memiliki aroma wangi khas layaknya pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) yang kerap kita gunakan sebagai bahan penyedap masakan di dapur atau dibuat ketupat.

Lanskap karst Pattunuang memberikan kejutan tersendiri dalam menyembunyikan keanekaragaman hayatinya. Tegakan tebing kapur di Maros terjal dan tinggi membumbung, membuat banga batu terkadang sulit teramati dari bawah jika ia bertengger di celah tebing atas.

Taufik sempat membandingkannya dengan karakter lanskap karst di Kabupaten Pangkep yang cenderung lebih rendah, di mana tajuk banga batu jauh lebih mudah terlihat oleh mata telanjang. 

Keunikan lain terkuak saat mengamatinya lebih dekat, batangnya tampak sulur vanili (Vanilla planifolia) tumbuh merambat dan menempel erat pada batang banga batu. Temuan symbiotik ini memperlihatkan bagaimana banga batu berperan penting sebagai pohon inang (penopang) bagi tumbuhan merambat di habitatnya.

Kehadiran banga batu tak hanya menjadi pilar penyeimbang ekosistem, tetapi juga menyimpan keterikatan erat dengan kearifan lokal masyarakat sekitar kawasan Bantimurung Bulusaraung.

Daunnya yang seratnya kuat dan lentur bisa dimanfaatkan oleh warga lokal sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) untuk dianyam menjadi kerajinan tangan seperti tikar, tas, keranjang, hingga topi tradisional. Interaksi ini memperlihatkan harmoni alami antara kebutuhan hidup manusia dan vegetasi hutan liar.

Perjalanan singkat di Pattunuang menyisakan perenungan mendalam. Banga batu yang tumbuh menyendiri di antara himpitan batu purba bukan sekadar hiasan hijau penjelas keasrian hutan karst Maros.

Ia adalah penyangga kehidupan, rumah bagi spesies lain, sekaligus penyedia bahan kehidupan bagi warga di sekitarnya. Mengambil manfaat dari alam adalah bagian dari peradaban, namun membiarkannya tetap tumbuh liar dan lestari di habitat aslinya adalah penanda kedewasaan kita dalam berinteraksi dengan bumi.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan