Sampai Kapan Kita Tanpa Pendidikan Siaga Bencana?

Klikhijau.com - Agus Wibowo (Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan BNPB) terkagum-kagum dengan model pendidikan siaga bencana di Cina. Ketika berkunjung ke Beijing Jiaotong University, Agus melihat...

Sampai Kapan Kita Tanpa Pendidikan Siaga Bencana?
Bacakan Artikel

Bayangkan, data BNPB pada 2017 saja terdapat 2.372 kejadian bencana dalam berbagai bentuk. Merenggut 377 jiwa, 49.963 rumah dan menghancurkan 1.276 fasilitas publik, dan menyebabkan 3,49 juta jiwa terdampak bencana.

Pakar lingkungan dari Universitas Hasanuddin, Andang Suryana Soma, P.hD., mengakui perlunya model pendidikan siaga bencana.

Hal itu harus dimulai sejak dini yakni pendidikan kepedulian lingkungan dan siaga bencana serta pendidikan attitute saling menghargai sesama manusia. Ini dimulai dari tingkat paling dasar atau Taman Kanak-kanak (TK).

Selain itu, kata Andang, pendidikan ke masyarakat dewasa juga perlu dilakukan. Sifatnya bisa non formal dengan melibatkan kelompok pemerhati lingkungan.

"Pendidikan siaga bencana juga perlu diterapkan secara berkala, misalnya setiap tahun ajaran baru. Fungsinya adalah untuk meminimalisir korban apabila terjadi bencana," kata Alumni Kyushu University Jepang ini.

Selain itu, pemerintah juga harus memulai berpikir membuat peringatan dini apabila terjadi bencana. Caranya adalah dengan mengintegrasikan dengan sistem telekomunikasi handphone.

"Hal seperti ini sudah diterapkan di Jepang. Jadi, walaupun orang Indonesia berlibur ke Jepang, tetapi terkoneksi dengan jaringan di Jepang, maka tetap akan mendapatkan pesan peringatan," tutupnya.

Cina, Jepang bahkan Filipina telah menerapkan pendidikan siaga bencana sejak usia dini. Lalu, kita kapan?

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2