Saatnya Indonesia Belajar Menangkap Sampah Ala Australia

oleh -594 kali dilihat
Cara Australia mengatasi sampah pada kanal
Cara Australia mengatasi sampah pada kanal/foto-terkini.id
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Australia, Klikhijau.com – Jelang senja pada suatu hari, saya menyusuri jalan Inpeksi Kanal di samping Universitas Muslim Indonesia (UMI). Pemandangan yang saya temukan di kanal sepanjang jalan itu hampir tak jauh beda dengan kanal-kanal yang lain di Makassar dan sekitarnya, keruh dan banyak sampah.

Persoalan sampah pada kanal dan drainase sepertinya bukan hanya dialami Makassar, tetapi semua kota di Indonesia.  Kebiasaan membuang sampah sembarangan telah mentradisi dalam masyarakat yang sulit diraibkan. Karena kesadaran akan bahaya sampah yang kurang.

Apalagi didukung oleh pemerintah yang masih kurang optimal dalam upaya mengatasi sampah, khususnya kanal dan drainase, sehingga setiap hujan mengguyur, sampah-sampah akan menumpuk di sana.

Sepertinya pemerintah harus banyak bercermin pada negara lain dalam mengatasi persoalan sampah, khususnya sampah yang menghuni kanal yang didominasi plastik, untuk hal ini pemerintah Indonesia patut berguru kepada Australia.

KLIK INI:  2030 Taiwan Bebas dari Sampah Plastik, Indonesia Kapan Ya?

Pada musim panas 2018 lalu,  pihak berwenang di kota Kwinana Australia memasang sistem penyaringan baru di Henley Reserve untuk mengatasi sampah. Penasaran mengenai cara Australia “menangkap” sampah. Baca artikel terkini.id berikut:

Sistem ini sangat sederhana. Baik pemerintah maupun warga negara dengan cepat melihat manfaat menggunakannya, dan mereka puas.

Sistem penyeringan air ini terdiri dari jaring yang ditempatkan di saluran keluar pipa drainase yang membantu menangkap puing-puing dan menjaga lingkungan terlindung dari kontaminasi.

KLIK INI:  Swedia Darurat karena Kekurangan Sampah, Indonesia Darurat karena Sebaliknya

Pipa-pipa tersebut mengalirkan air dari area perumahan ke area yang bersih sampah. Sampah sampah dari tempat-tempat itu bisa sangat besar dan berbahaya bagi lingkungan.

Selain itu, sampah ini biasanya hanyut oleh hujan lebat yang menarik semuanya ke sistem drainase.

Pemerintah kota mulai dengan memasang dua jaring dan terkejut dengan hasilny. Saat sistem filtrasi baru, mereka berhasil menangkap lebih dari 800 pon sampah dalam beberapa minggu.

Jadi, sudah diputuskan untuk memasang “perangkap” sampah itu di seluruh kota dan meminimalkan polusi terhadap satwa liar dan lingkungan di sekitarnya.

KLIK INI:  Karena Sampah, Ribuan Wisatawan Mancanegara Batal ke Lombok

Meskipun pemasangan dan pembuatan jaring ini membutuhkan biaya (masing-masing sekitar $ 10.000), keseluruhan sistem masih cukup menguntungkan karena mereka memberikan penghematan biaya yang signifikan ke depan.

Misalnya, mereka sekarang menghemat biaya tenaga kerja yang sebelumnya harus mereka bayar untuk orang yang akan mengumpulkan semua sampah secara manual.

Ketika jaring sudah penuh, alat itu kemudian diangkat, dan sampah dimasukkan ke dalam truk pengumpul khusus dan diangkut ke pusat pemilahan sampah.

Di sana, semuanya dibagi menjadi bahan yang tidak dapat didaur ulang dan dapat didaur ulang, yang kemudian dilanjutkan untuk diproses lebih lanjut.

KLIK INI:  Gakkum LHK, Bongkar Penggunaan Dokumen SKSHH Palsu dan SKSHH Terbang

Sistem filtrasi baru membuktikan bahwa hal-hal kecil itu penting. Berfokus pada mereka dapat memiliki dampak yang signifikan dan positif pada lingkungan dan kemanusiaan kita secara umum.

***

Apa yang dilakukan Australia sangat layak ditiru pemerintah Indonesia agar sampah yang menghuni kanal atau drainase bisa diatasi sebelum  mencemari lingkungan dan mengancam kehidupan masyarakat dan agar pemandangan saat menyusuri tepi-tepi kanal bisa lebih indah dan membuat nyaman.

Penulis: Irhyl R Makkatutu

Editor: Irhyl Makkatutu