Tomcat, Sahabat Petani yang Lihai ‘Membakar’ Kulit, Wajib Diwaspadai

oleh -14 kali dilihat
Tomcat, Sahabat Petani yang Lihai ‘Membakar’ Kulit, Wajib Diwaspadai
Tomcat-foto/Ist
Nona Reni

Klikhijau.com –  Beberapa tahun belakangan ini, jagung jadi komoditas yang banyak ditanam petani. Perawatannya yang mudah dan permintaan pasar yang tinggi jadi salah satu daya tariknya. Karenanya, banyak yang mengalih fungsikan lahannya menjadi ladang jagung.

Tahun ini, panen jagung bersamaan di beberapa kabupaten, termasuk di kabupaten saya, Soppeng.  Sehingga saya kesulitan untuk mencari tenaga pekerja harian yang biasanya diupah setelah panen rampung.

Jadinya, saya akhirnya memutuskan untuk ikut andil dalam panen di kebun peninggalan orang tua yang tidak seberapa luasnya.

Setelah pembagian tugas yang dirasa adil, kakak tertua saya mulai memasang tenda dan menggelar terpal sebagai alas jagung yang nantinya akan dikupas kulitnya. Sementara yang lain memulai panen. Saya menunggu mereka sembari mengutip beberapa foto.

KLIK INI:  Babak Baru Konflik Agraria Masyarakat Burau Luwu Timur dengan PTPN IV

Saat karung mereka mulai penuh, satu persatu datang dan menghamburkannya persis di depan kaki saya. Untuk pertama kalinya, saya merasa senang melihat pemandangan seperti itu.

Saya malah tidak pernah menyangka akan dihadapkan langsung dengan pekerjaan turun-temurun keluarga besar dari ayah, bahkan saya tidak pernah bercita-cita akan terjun langsung menjadi petani seperti sekarang ini.

Dengan alat bantu kupas sederhana, saya memulai mengupas jagung yang hampir mempunyai ukuran yang sama. Duduk seharian sambil mengupas jagung bukanlah perkara mudah. Apalagi jika menemukan serangga-serangga yang memang berumah di dalam kulit jagung. Ada ulat dengan berbagai jenis ukuran, juga beberapa kumbang yang bahkan baru saya lihat pertama kalinya.

Saat suara adzan Ashar menggema, saya memutuskan untuk menyudahi pekerjaan dan mengambil air wudhu. Lalu menanggalkan pakaian kotor dan bersegera memakai mukena yang kusampirkan di kayu dekat dengan jagung yang sudah dikupas.

Saat sedang salat, saya merasa ada sesuatu yang berlarian bebas di atas permukaan kulit punggung lalu perlahan namun pasti bergerak ke bawah.

KLIK INI:  Kawasan Lindung, Benteng Terakhir bagi Satwa Liar
Lahirkan sensasi panas

Dengan gerakan tergesa saya salam dan menyudahi salat, kemudian segera membuka mukena dan menepuk persis di bagian belakang paha tempat serangga itu berhenti berlarian.  Saya mengira serangga itu semacam semut merah berukuran besar yang memang lumayan akrab saya temui di kebun.

Beberapa jam kemudian, di area belakang paha yang tadinya saya tepuk terasa panas dan menyengat. Ditambah celana yang saya pergunakan sangat sempit sehingga saya tidak sempat mengecek apakah serangga itu benar-benar semut atau bukan.

Nyerinya bertambah kuat seiring dengan perputaran jarum jam. Bahkan ketika panen telah selesai, nyerinya tidak hilang-hilang. Saya memutuskan untuk pamit lebih dahulu. Membersihkan diri dan mengecek apa yang menyebabkan kulit paha saya begitu panas.

KLIK INI:  Ruang Hijau Perkotaan Lebih Berdampak bagi Kesehatan Mental Perempuan

Alangkah terkejutnya saya ketika melihat  ada bentolan merah bulat, sebesar koin seribuan dengan warna merah menyala. Sangat gatal dan panas. Terkadang malah nyerinya menjalar hingga ke pangkal paha.

Saya mengolesi minyak gosok bergambar tawon seperti anjuran kakak, namun pada keesokan harinya malah melepuh dan makin melebar dengan rasa terbakar yang panas.

Saya lantas bertanya, serangga apa yang menyebabkan luka bakar sedemikan rupa, kakak menjawab dengan aksen Bugis yang lumayan kental, tongket–tomcat.

Perihal tomcat

Bermodalkan gadget, saya mulai mencari-cari apa sih yang disebut tomcat. Terkejutlah saya ketika menemukan fakta tentang hewan tersebut. Dan memang hewan ini berkali-kali saya temui di antara jagung yang saya kupas. Berlari-larian bebas di antara tumpukan jagung.

Di beberapa artikel yang dimuat di tahun 2012 silam, hewan ini dikategorikan sebagai kumbang yang karib dengan petani.

KLIK INI:  Mencegah Pandemi dan Menghemat Biaya dengan Cara Melindungi Satwa Liar

Dalam jurnal Litbang pertanian Kalimantan Tengah mengungkapkan, tomcat merupakan kumbang rove yang dikenal juga dengan semut semai atau semut kayap.

Semut jenis ini menyukai tinggal di tempat lembap dan tanaman, misalnya jagung dan padi. Selain itu, ia juga  menghuni tambak liar dan lingkungan yang sedikit  bersemak.

Sebenarnya serangga ini memiliki sifat kosmopolitan, artinya ia berada di mana-mana—menyukai daerah yang lembap, bisa di lantai tanah, juga bias di lantai keramik.

Tomcat dianggap sebagai sahabat petani karena ia adalah predator wereng, yakni hama yang menjadi musuh utama bagi petani. Jadi, tomcat telah dinobatkan sebagai kelompok serangga pertanian.

Namun demikian,  dalam 3 atau 4 tahun terakhir dilaporkan adanya gangguan kesehatan pada manusia yang akibatkan serangga ini.

Saya jadi teringat ketika salah satu stasiun televisi menayangkan banyak warga Surabaya yang pernah tercatat mengalami gangguan kesehatan karena hewan ini, bahkan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, Tjandra Yoga Aditama dalam keterangannya, Rabu (21/3/2012), menyatakan “Sebelumnya serangga ini pernah dilaporkan menimbulkan wabah dermatitis di Australia, Malaysia, Kenya, Iran, Srilangka, Nigeria, Afrika Tengah, Uganda, Venezuela, Ecuador, , Brazil, Perancis,  India, dan Argentina.

KLIK INI:  4 Prinsip Penggunaan Pestisida Agar Aman dan Berpihak pada Lingkungan

Beberapa tahun terakhir, juga dilaporkan adanya gangguan kesehatan Dermatitis Contact Irritant, yang diakibatkan oleh racun paederin atau C25H45O9N yang terdapat pada badan  tomcat, terkecuali pada sayapnya.

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama sebagaimana dilansir dari jurnal kemkes.go.id,  mengatakan, kulit yang terkena racun paederin (biasanya daerah kulit yang terbuka) akan mengakibatkan terasa panas dalam waktu singkat.

Biasanya, setelah 24 hingga 48 jam akan muncul gelembung di kulit dengan sekitar berwarna merah (erythemato-bullous lession) yang menyerupai lesi akibat terkena air panas atau luka bakar. Lesi pada mata menyebabkan periorbital conjunctivitis atau keratoconjunctivitis dan dikenal dengan Naerobis Eye.

“Dermatitis terjadi bila bersentuhan secara langsung dengan serangga ini, atau secara tidak langsung, misalkan melalui handuk, baju atau barang lain yang tercemar racun paederin,” jelas Prof. dr. Tjandra.

KLIK INI:  Mengenal 6 Klasifikasi Limbah Padat Menurut Istilah Teknis
Ciri dan klasifikasi ilmiah

Ciri serangga ini, yakni memiliki panjang sekitar 1 cm.  Badannya berwarna oranye, pada bagian bawah abdomen, kepalanya berwarna gelap.

Ia juga memiliki sepasang sayap yang tersembunyi. Sepintas hewan mirip dengan semut. Saat merasa terancam ia akan menaikkan bagian perutnya (abdomen) menyerupai kalajengking.  Spesiesnya di seluruh dunia cukup banyak, yakni 622 spesies, sementara di Indonesia spesies yang menyebabkan dermatitis adalah jenis Paederus peregrines.

Tomcat sendiri memiliki klasifikasi ilmiah, yakni:

  • Ordo: Coleoptera (kelompok kumbang),
  • Sub ordo: Rove Beetle (kelompok kumbang kecil),
  • Famili: Staphylinidae,
  • Genus: Paederus,
  • Spesies: Paederus Littorarius.
KLIK INI:  Mengenal Pestisida Hayati, Kelebihan dan Kekurangannya
Cara mengatasinya

Meski predator kecil ini cukup berbahaya, namun sahabat hijau tidak perlu khawatir dan panik berlebihan jika terkena racun tomcat.

Ada beberapa langkah pengobatan dermatitis contact irritant yang bisa dilakukan yakni:

  • Segera bilas dengan air mengalir dan sabun pada kulit yang bersentuhan dengan serangga ini.
  • Pastikan serangga ini tidak ada lagi untuk mencegah pertambahan lesi di kulit.
  • Bila timbul lesi seperti luka bakar segera kompres kulit dengan cairan antiseptik dingin, misaalnya kalium permanganat. Apabila lesi telah pecah, beri cream antibiotik dengan kombinasi steroid ringan.
  • Saat terasa gatal, jangan digaruk atau ditaburi bedak sehingga  tidak terjadi infeksi sekunder. baiknya beri antihistamin dan analgesik oral untuk simptomatis.
KLIK INI:  Telor Keong Mas, Probiotik Ramah Lingkungan Pendongkrak Hasil Pertanian
Cara pencegahan

Selain langkah pengobatan di atas, ada beberapa hal yang perlu diketahui  sebagai langkah pencegahan terhadap racun serangga ini.

  • Jika menemukannya jangan dipencet, agar racun tidak mengenai kulit, sebaiknya masukkan ke plastik, berhati-hatilah lalu buang ke tempat yang dianggap aman.
  • Hindari terkena serangga ini pada kulit terbuka.
  • Usahakan pintu tertutup dan bila ada jendela diberi kasa nyamuk untuk mencegahnya menerobos  masuk.
  • Menggunakan kelambu saat tidur.
  • Memberi jaring pada lampu demi mencegahnya jatuh ke manusia
  • Jangan menggosok kulit dan atau mata bila kontak dengan serangga
  • Lakukan inspeksi ke dinding dan langit-langit dekat lampu sebelum tidur. Bila menemukan, segera dimatikan dengan menyemprotkan racun serangga.
  • Singkirkan dengan tanpa menyentuhnya
  • Membersihkan lingkungan rumah, khususnya tanaman yang tidak terawat. karena bisa menjadi tempat serangga ini tinggal dan berkembang biak.

Nah, sahabat hijau, karena racun tomcat lumayan mengerikan, usahakan saat kalian berada di alam terbuka tetap waspada dengan hewan kecil ini ya.

KLIK INI:  Bagaimana Bisa Makanan Cepat Saji Mengandung Bahan Kimia?