Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Asing, Tujuh AHP Tanah Air Belajar di Kampung Inggris

oleh -126 kali dilihat
Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Asing, Tujuh AHP Tanah Air Belajar di Kampung Inggris
Suasana para ASN KLHK yang bertugas di Taman Nasional sedang belajar bahasa asing di Kediri - Foto: Ist

Klikhijau.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melatih staf pengelola taman nasional yang tergabung sebagai ASEAN Heritage Park (AHP) meningkatkan kemampuan berbahasa asing.

Saat ini sedikitnya 7 taman nasional yang tergabung sebagai taman warisan ASEAN di Indonesia.

Tahukah kamu taman nasional apa sajakah itu? Kita mulai dari ujung timur ya, Papua. Di sana hanya ada Taman Nasional Lorentz.

Kita ke bagian tengah, Sulawesi. Sulawesi terdapat Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan Taman Nasional Wakatobi.

Taman Nasional Kepulauan Seribu di Pulau Jawa. Selebihnya di Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Gunung Leuser.

KLIK INI:  Tekan Polusi Udara, Menteri Siti Resmikan Dua Fasilitas RTH di Indramayu

Ketujuh perwakilan taman nasional tersebut mereka latih untuk menguasai bahasa asing, dalam hal ini Bahasa Inggris. Kampung Inggris, Kediri, Jawa Timur menjadi pilihan. Lebih jauh lagi Mr. Bob Kampung Inggris menjadi lembaga penyedia jasa kursus menjadi tempat berlatih.

Small Grant Programme (SGP) mendukung penuh kegiatan peningkatan berkumunikasi ini. SGP adalah buah dari kerja sama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan ASEAN Center for Biodiversity.

bahasa
Para peserta sedang berbincang bahasa inggris dengan turis – Foto: Ist

Sedikitnya dua belas hari peserta berjibaku dengan tutor andal. Berlatih mulai dari vocabulary, reading, writing, listening dan public speaking. Pada akhirnya kemampuan peserta mereka eksplore, terutama untuk berbicara dalam bahasa inggris.

“Bicara saja, jangan takut salah. Toh.. bahasa inggris bukan bahasa kita. Kalau salah, nanti kita bisa perbaiki bersama. Bukankah belajar dari kesalahan itu lebih berkesan,” ungkap Fahmi Lazuardi Wirawan, tutor Mr. Bob Kampung Inggris.

KLIK INI:  FOTO: Eksoktika Alam di Gonda Mangrove Park

Jadwal belajar pada program kali ini cukup padat. Belajar lebih pagi hingga berakhir kala petang menjelang. Setiap pukul 5 pagi peserta sudah mulai berlatih. Mereka namai “Morning Club“, belajar saat masih di Omar Camp. Omar Camp adalah penginapan eksklusif milik Mr. Bob.

Saat Morning Club, peserta diajak berdiskusi dalam bahasa inggris. Membicarakan hal-hal kecil di sekitar mereka. Meski hanya berjalan selama sejam, sesi ini berdampak lebih bagi peserta. Membiasakan peserta menggunakan bahasa asing selama pelatihan berlangsung.

Selama di asrama pun berlaku English Area. Peserta yang tidak menggunakan bahasa global ini akan mendapat teguran hingga hukuman.

Hal ini menjadikan bahasa inggris sebagai kebiasaan baru bagi peserta. Belum lagi jika keluar dari camp akan mudah mencari partner untuk berbincang dalam bahasa idaman setiap orang ini.

Peserta juga merasakan hal yang sama ketika di kelas. Selalu mendapat kesempatan mengutarakan pendapat dalam bahasa asing ini.

KLIK INI:  KLHK Amankan Ratusan Satwa Dilindungi di Surakarta

Bahkan tak jarang tutor memberi tugas kepada peserta untuk berdiskusi berdua kemudian melanjutkan dengan mempresentasikan di depan kelas. Semua dengan menggunakan bahasa universal ini.

“Jika kita hendak pandai speaking perbanyaklah listening. Begitu pun jika hendak andal writing perbanyaklah aktivitas reading. Listening dan reading adalah dua proses menerima, sedangkan speaking dan writing adalah dua proses memproduksi,” terang Bro Dien.

Ada banyak diskusi berlangsung di kelas. Tak hanya perihal modul yang telah disediakan Mr. Bob, sharing pengalaman antar sesama peserta dan tutor pun kerap terjadi.

Satu topik yang menarik yang menjadi bahan diskusi saat di kelas: “Mengapa pelajaran bahasa Inggris dalam pendidikan tanah air kurang berhasil?”

Tak mampu mencetak siswa ataupun mahasiswa yang mampu berbicara dan menulis dengan baik dalam bahasa sejagat raga ini. Hasil diskusi, menarik kesimpulan bahwa kurikulum pendidikan kita hanya mengajarkan beberapa skill, tidak lengkap.

“Selama kita di sekolah, mulai dari SD hingga mengenyam bangku kuliah, kita hanya belajar reading dan writing. Jadi jangan heran jika kita hanya mampu  membaca dan memahami teks bahasa inggris. Namun kemampuan kita untuk berbicara tak terasah. Terkadang kita paham konteks namun untuk mengutarakannya kita tak mampu. Merasa malu dengan lingkungan dan sebagainya. Boleh jadi karena hal ini tidak dibiasakan,” terang Salmen Sembiring, peserta asal Taman Nasional Gunung Leuser panjang lebar.

Pada hari Jumat, 16 September 2022, rombongan peserta ini melakukan kunjungan lapangan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Memperagakan kemampuan bahasa inggris yang telah mereka asah dengan berbincang penutur asli bahasa ini. Lebih tepatnya mencari bule untuk mereka ajak bercakap-cakap.

Semoga selama menempuh pembelajaran bahasa idaman ini mendapat kemudahan dalam pemahaman.

Pada akhirnya kemampuan berbahasa asing ini akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan AHP lain dari negara lain. Dengan begitu manfaat pengelolaan kawasan konservasi akan berdampak lebih ke depannya.

KLIK INI:  Perhutanan Sosial, Definisi, Skema dan Perkembangannya di Indonesia