Tiga Opsi Penanganan Sampah Kota Makassar ala Komunitas Manggala Tanpa Sekat

oleh -174 kali dilihat
Tiga Opsi Penanganan Sampah Kota Makassar ala Komunitas Manggala Tanpa Sekat
Kebakaran TPA Antang beberapa waktu lalu/foto-ist
Wahyuddin Junus

Klikhijau.com – Masa depan Kota Makassar sangat bergantung pada niat dan tekad kita menyelesaikan masalah sampah hari ini.

Kalimat itu dituturkan oleh Mashud Azikin, inisiator gerakan Manggala Tanpa Sekat (MTS). Suara lantang atas persoalan sampah Makassar, begitu membekas dalam ‘Dialog Awal Tahun’ yang di gelar MTS pada Jum’at malam (14/1/2022).

Jalan panjang penanganan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa Antang, turut disuarakan oleh Makmur. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Yayasan Pabbata Ummi, telah membina anak-anak pemulung di TPA Antang.

Kurang lebih 30 tahun, Makmur bergiat dan larut bersama para keluarga pemulung. Menurutnya, volume sampah yang masuk di sana setiap harinya mencapai 1200 ton. Dengan persentase 70 persen sampah organik dan 30 persen sampah plastik.

Upaya Makmur perlahan mulai memperlihatkan hasil dengan mengolah sampah plastik bekerja sama dengan Perkumpulan Pengusaha Plastik Limbah Indonesia ( P3LI). Kerja kerasnya ikut mengolah limbah plastik telah menghidupkan asa dan nilai ekonomis dari sampah.

Hal ini dipahami juga oleh Mashud. Menurutnya, lewat Manggala Tanpa Sekat, penguatan solidaritas warga dengan komunitas menjadi bentukan lain yang sevisi untuk menjadikan warga kota yang tadinya anonim, tanpa wajah menjadi komunitas yang berdaya.

KLIK INI:  5 Strategi dan Rencana Aksi Indonesia dalam Pengurangan Sampah Plastik

Momen dialog kali ini menjadi wahana diskusi dan bersilaturrahmi dari berbagai komunitas yang ada di Manggala. Forum ini mencoba ikut mengurai benang kusut apa yang terjadi di Manggala, terutama persoalan pengelolaan sampah yang mendesak ditangani.

Dengan mengusung tema, Optimalisasi Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Komunitas di Kecamatan Manggala, menghadirkan empat (4) narasumber. Antara lain : Syamsuddin Simmau (Sosiolog MAUPA), Makmur ( Yayasan Pabbata Ummi), Zakaria Ibrahim (Usahawan), dan Mashud Azikin (Inisiator Manggala Tanpa Sekat).

Keempat narasumber dihadirkan untuk membangkitkan tugas dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Aroma dan ingatan waktu tak lepas dari roda kehidupan warga Manggala sebagai penopang sampah Kota Makassar yang mesti diembannya.

Upaya pengelolaan sampah baik sampah organik maupun sampah plastik telah menemukan titik terang. Sebagaimana jargon yang selalu didengungkan Makmur, ‘Sampahmu Hidupku’.

Diskusi malam itu dalam rentang waktu dua setengah jam, telah membuka cakrawala soal penanganan sampah. Dan dalam sesi tanya jawab, Makmur membuka penawaran bagi 500 warga Manggala khususnya kaum perempuan untuk ikut terlibat dalam aktivitas dan proses sortir sampah plastik.

KLIK INI:  Yuk, Terapkan Organic Parenting, Pola Pengasuhan Anak Alami!

Tiga opsi solusi

Di akhir sesi, Makmur menuturkan tiga opsi solusi untuk mendukung program pemerintah terkait Bank Sampah.

Pertama, pentingnya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah yang benar dan ramah lingkungan. Kedua, Gerakan untuk pilah sampah dari rumah, sampah basah dan kering harus terpisah. Ketiga, Menancapkan harapan bahwa sampah bernilai ekonomis.

Tak pelak lagi, bayang-bayang kondisi 5 tahun ke depan gunung sampah dan akan setinggi apa TPA Antang? Semoga dapat sirna dalam ingatan.

Untuk menghapus itu semua, Mashud selaku penggagas diskusi menuturkan kalimat penutup, perlu tindakan “turun tangan” segenap warga Kota Makassar untuk  bahu membahu mengatasi persoalan kita hari ini. “Peduliki’,” tandasnya.

KLIK INI:  KLHK Produksi Desinfektan dari Cuka Kayu dan Bambu