Tidak Mau Kecolongan, KLHK Perkuat Pengendalian Karhutla di Masa Pandemi

Publish by -38 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Tidak Mau Kecolongan, KLHK Perkuat Pengendalian Karhutla di Masa Pandemi
Karliansyah, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK - Foto/KLHK

Klikhijau.com – Kabar buruk seolah menghentak di telinga saat dua perusahaan besar sedang asyik membakar hutan di tengah pandemi. Ini terjadi di Timur laut kawasan Ekosistem Lauser, Aceh Timur.

Menurut laporan Rainforest Action Network (Dilansir Hijauku, 5 Mei 2020), pembakaran hutan di wilayah yang sangat penting bagi habitat terakhir gajah Sumatera yang tersisa di dunia itu terjadi pada April 2020 atau di tengah dunia sedang diguncang wabah.

Kejadian ini, tentu harus jadi pelajaran penting bagi semua pihak agar tidak meluas apalagi memasuki musim kemarau panjang. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat ini sedang memperkuat berbagai upaya pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), khususnya di Provinsi rawan.

Selain memperkuat kegiatan pencegahan mulai dari tingkat tapak, Menteri LHK Siti Nurbaya juga telah membentuk tim kerja pendampingan daerah rawan Karhutla. Tim ini diisi oleh jajaran Eselon I dan II, Staf Khusus Menteri, dan Tenaga Ahli Menteri lingkup KLHK yang akan memberikan dukungan serta pendampingan bagi tim Satgas di daerah.

KLIK INI:  Kenalkan, Warung Danau Lolang di Selayar dan Kuliner Urban Khas Desa

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Karliansyah, memimpin rapat virtual pencegahan Karhutla di Sumatera Selatan, Rabu 6 Mei 2020.

”Situasi COVID-19 cukup memberi tantangan pada kerja lapangan, karenanya KLHK sangat membutuhkan kerjasama dari semua perangkat terkait di daerah agar tidak terjadi Karhutla, terutama di Sumatera Selatan yang termasuk daerah rawan,” kata Karliansyah.

Berbagai upaya cegah deforestasi

Dalam paparannya, Karliansyah menyampaikan berbagai upaya pencegahan karhutla melalui pemulihan ekosistem gambut, serta capaian ketaatan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) yang menjadi kewajiban perusahaan untuk menghindari karhutla berulang.

Dari hasil evaluasi pemegang izin perkebunan (HGU), pencegahan karhutla melalui pemulihan ekosistem gambut dilakukan dengan membangun beberapa infrastruktur seperti Titik Penataan-TMAT Manual, TP-TMAT Logger, dan sekat kanal.

Sementara di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI), pencegahan karhutla melalui pemulihan ekosistem gambut dilakukan dengan membangun beberapa infrastruktur seperti 376 Titik Penataan-TMAT Manual, TMAT otomatis 106 unit, stasiun curah hujan 7 unit, dan 321 unit sekat kanal.

KLIK INI:  Ekspresi Ruang Sunyi, Bukti Cinta Pada Bumi di Tengah Covid-19

”Hasilnya tidak terjadi Karhutla pada tahun 2019 pada areal gambut yang telah diintervensi pembasahan, ataupun pada areal gambut yang dipulihkan. Kita berharap ini dapat dipertahankan di tahun ini, karena para pihak juga sudah menyatakan siap bekerjasama dengan tim satgas,” kata Karliansyah.

Untuk menghadapi musim kemarau di wilayah Sumatera yang diprediksi puncaknya terjadi pada Juli-Agustus, KLHK juga menyiapkan peta kelembapan tanah (Soil Moisture), dan dapat diakses di pkgppkl.menlhk.go.id

”Data ini dapat menjadi dasar respon kebijakan untuk mitigasi kewaspadaan karhutla, serta operasi darat dan udaranya bisa lebih fokus. Kita akan melakukan TMC pada tiga Provinsi rawan, yakni Riau, Jambi dan Sumsel,” jelas Karliansyah.

Seperti diketahui deforestasi telah menimbulkan persoalan serius bagi lingkungan dan kesehatan manusia serta ancaman perubahan iklim. Para peneliti bahkan mengungkap, deforestasi memicu munculnya zoonosis atau penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang ditularkan hewan ke manusia.

KLIK INI:  Kasus Kekerasan pada Anak Meningkat Tajam di Masa Pandemi
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!