Terkesan Menjijikkan, Maggot Menawarkan Beragam Solusi dan Manfaat

oleh -1.033 kali dilihat
Maggot BSF
Ilustrasi maggot-foto/instagram.com/tanto.bsf

Klikhijau.com –  Metode  biokonversi, diyakini bisa jadi sulosi tepat, ramah lingkungan dan meriah meriah dalam daur ulang sampah organik. Dan maggot BSF adalah salah satu yang bisa digunakan untuk melakukannya.

Biokonversi merupakan satu metode  perombakan  sampah  organik  menjadi  sumber energi  metan. Caranya dengan  melalui  proses  fermentasi  dengan keterlibatan makhluk hidup.

Proses  seperti itu dikenal  sebagai penguraian  secara  anaerob. Bakteri,  jamur,  dan  larva  serangga umumnya  menjadi organisme  yang  berperan  dalam proses  biokonversi.

Maggot atau belatung ini berasal dari lalat Black Soldier Fly (BSF). Lalat jenis ini berbeda dengan lalat pada umumnya yang membawa penyakit, lalat ini cengderung lebih “suci”.

KLIK INI:  Villa Yuliana, Hadiah Cinta Tak Sampai yang Berhias Fosil Satwa

Kamu bisa bayangkan, ia mampu mengurai sekitar 2 ton sampah organik hanya dalam dua sampai tiga minggu dengan menggunakan manggot sekitar 750 kg.

Ajaibnya, maggot  BSF tidak hanya bermanfaat sebagai pengurai sampah organik saja, tapi  juga bisa dijadikan pakan ikan dan ternak lainnya, selain itu juga bisa dibudidayakan dengan potensi ekonomi yang cerah.

Dilansir dari jatengprov.go.id, harga maggot basah bisa mencapai  Rp10 ribu per kilogram. Manggot BSF juga bisa diolah  menjadi kering, minyak hingga pupuk.

Untuk maggot kering dan pupuk, biasanya dijual dalam kemasan lebih kecil. Harganya di kisaran Rp5.000 hingga Rp50.000 per kemasan.

Sementara yang diolah menjadi  minyak, harganya bisa lebih melangit,  mencapai Rp1,5 juta per 100 mililiter.

Yeka Johar, yang membudidayakan larva jenis BSF ini mengungkapkan, minyak maggot  dijual ke Jepang untuk bahan produk kecantikan. Sedangkan di Belanda digunakan untuk sereal dan di Thailand dijadikan tumis fresh. Harganya Rp175 ribu satu piring kecil

Cepat panen

Cara membudidayakannya tidak sulit dan tidak butuh teknologi yang canggih, pun panennya sangat cepat, hanya  sekitar 15 hari

Maggot merupakan salah satu larva lalat fenomenal karena   memiliki kandungan protein hewani yanga sangat tinggi, sekitar 30-45 persen. Sedangkan kandungan  lemaknya  mencapai  24 – 30 persen. Hal inilah yang menyebabkannya menjadi pilihan  sebagai sumber  pakan  bernutrisi  tinggi.

Kandungan protein yang tinggi dari makluk satu ini sangat potensial sebagai pakan tambahan untuk perbesaran ikan.

Indarmawan, (2014) membeberkan bahwa maggot  memiliki kandungan anti jamur dan antimikroba. Kandungan tersebut bila dikonsumsi dikonsumsi ikan,  akan membuatnya mampu bertahan terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.

Hewan bernama latin  Hermetia illucens ini juga merupakan  salah satu insekta. Saat ini  mulai banyak dipelajari karakteristiknya dan juga kandungan nutriennya.

Insekta ini memiliki nilai konversi pakan yang tinggi. Ia  dapat diproduksi secara massal. Budidaya insekta juga dapat mengurangi ancaman limbah organik yang berpotensi besar mencemari lingkungan.

KLIK INI:  Menggugah Kepedulian Generasi Muda Melalui Pendidikan Konservasi Elang Jawa
Fase hidup maggot

Menurut  Yongki Putra1 dan Ade Ariesmayana, (2020) fase hidup lalat BSF  adalah sebuah siklus metamorfosis sempurna, yakni  empat fase,  telur, larva, pupa, dan BSF dewasa

  • Fase telur

Dalam satu kali bertelur lalat betina BSF mengeluarkan sekitar 300-500 butir telur. Ia  meletakan telurnya di tempat gelap, berupa lubang atau celah yang berada di atas atau di sekitar material yang sudah membusuk seperti kotoran, sampah, ataupun sayuran busuk.

Telurnya  berukuran mini, hanya sekitar 0,04 inci atau kurang dari 1 mm dengan berat 1-2 kilo gram. Berbentuk oval dengan warna kekuningan.

Telur dari lalat ini akan matang dengan sempurna pada kondisi lembab dan hangat. Kelembaban yang diperlukan sekitar 30-40 persen. Pada kelembaban 60-80 persen telur akan menetas dengan baik.

  • Fase arva

Setelah telur menetas, akan berubah menjadi larva. Ukurannya sangat kecil sekitar 0,07 inci atau 1,8 mm dan hampir tidak kasat mata dengan mata telanjang.

Larvanya berbeda dari lalat dewasa yang menyukai sinar matahari. Pada suhu 28-35ºC dengan kelembaban sekitar 60- 70 persen  larva yang baru menetas optimum hidup.

Seiring dengan bertambahnya usia–pada umur  satu minggu, larva dari lalat BSF memiliki toleransi yang jauh lebih baik terhadap suhu yang lebih rendah.

Ketika cadangan makanan tersedia cukup banyak, larva muda bisa beradptasi  pada suhu kurang dari 20 derajat celcius dan lebih tinggi dari 45 derajat celcius.

  • Fase pupa

Setelah berganti kulit hingga instar keenam. Ia akan memiliki kulit lebih keras daripada kulit sebelumnya. Itulah   disebut puparium. Di mana pupa mulai memasuki fase prepupa.

Pada tahap prepupa, akan mulai berimigrasi mencari tempat lebih kering dan gelap, sebelum menjelma menjadi kepompong.

  • Lalat dewasa

jika telah beranjak dewasa, panjang tubuhnya antara 12 hingga 20 mm. Memiliki  rentang sayap  8-14 mm lebarnya.

Antara  jantan dan betina memiliki penampilan yang tidak berbeda jauh. Ukuran tubuh si betina  lebih besar dan ukuran ruas ruas kedua pada perutnya yang lebih kecil disbanding  dengan yangjantan. BSF dewasa berumur relatif pendek,  yaitu empat sampai  delapan hari.

Jika telah beranjak dewasa, ia tidak  memerlukan makanan. Ia hanya akan memanfaatkan cadangan energi dari lemak yang tersimpan selama fase larva.

Inilah yang menyebabkan lalat jenis ini  tidak digolongkan sebagai vektor penyakit. Lalat dewasa hanya berperan  untuk proses reproduksi. BSF dewasa sudah bisa kawin ketika berusia dua hari

Untuk lebih jelasnya berikut klasifikasi lalat dari Amerika ini, yang telah tersebar  ke  wilayah  subtropis  dan  tropis  di seluruh  dunia:

  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Arthropoda
  • Kelas: Serangga
  • Ordo : Diptera
  • Familia: Stratiomyidae
  • Subfamili: Hermatiinae
  • Genus: Hermatia
  • Spesies: Hermatia illucens

Semoga maggot BSF bisa mengatasi persoalan sampah organik di Indonesia yang  telah menggurita.

KLIK INI:  Jangan Langsung Dibuang, Ini 5 Manfaat Ampas Eco-Enzyme Pasca Panen!