Tentang Ria, Perempuan yang Bertarung dalam Kobaran Api di Hutan

oleh -283 kali dilihat
Fitria Sri Handayani
Fitria Sri Handayani
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Kiprah perempuan dalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut mewarnai gaung Hari Kartini setiap tanggal 21 April. Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Manggala Agni, di Indonesia melibatkan sejumlah perempuan dalam keanggotaannya.

Dari siaran pers KLHK, sekurangnya lima persen dari jumlah anggota Manggala Agni yang tersebar pada 33 daerah operasional (Daops) di Indonesia adalah perempuan.

Fitria Sri Handayani (29), perempuan yang biasa dipanggil Ria adalah salah seorang anggota Manggala Agni – Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK.

KLIK INI:  Enno, Pilot Perempuan Bidang Pemetaan KLHK dan Kisahnya yang Maskulin

Ria bertugas di Daerah Operasional Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat sejak tahun 2008. Semangat Kartini memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia sungguh menginspirasi baginya.

Selain fitrahnya sebagai ibu dan seorang istri, perempuan sekarang dapat berkiprah dan berkarya untuk memajukan daerah bahkan negara. Perempuan yang akrab dipanggil Ria ini awalnya ditempatkan sebagai tenaga kesekretariatan hingga tahun 2014.

Setelah itu selama tiga tahun menjadi pengolah data sistem pendeteksi cuaca dan kebakaran. Ria dipercaya menjadi pendamping desa pada Kelompok Kerja Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan.

Dalam keseharian tugasnya, Ria jalani dengan tekun dan penuh semangat. Berbagai tugas di pundaknya berhasil ditunaikan dengan baik, jabatan Komandan Regu kini disandangnya. Ria adalah satu-satunya sosok perempuan yang menjadi Komandan Regu Manggala Agni di Indonesia.

Ketika awal bergabung menjadi Manggala Agni, saya berpikir bahwa pekerjaan yang akan saya lakukan hanya berhubungan dengan urusan komputer dan perkantoran. Namun ternyata lebih dari itu.

Seiring berjalannya waktu, Manggala Agni telah membentuk karakter dan jati diri saya. Menjadi Manggala Agni, saya belajar bagaimana berinteraksi dengan masyarakat dan terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pengendalian kebakaran, ungkap Ria.

Dalam sebuah perbincangan, Ria menyampaikan bahwa untuk menjadi seorang pahlawan, tidak harus dengan berperang melawan penjajahan seperti jaman kemerdekaan dulu. Banyak hal yang bisa dilakukan yang bisa bermanfaat untuk bangsa dan negara kita, Indonesia.

KLIK INI:  Masih 16 Tahun, Aktivis Lingkungan Ini Dijagokan Raih Nobel Perdamaian

Sebagai contoh, saat ini kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu ancaman bagi kelestarian alam dan lingkungan Indonesia. Kita sebagai Manggala Agni tentu dapat terjun langsung dan berbuat lebih untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman tersebut, jelas Ria.

Berjuang di Manggala Agni ini mengingatkan saya pada perjuangan Kartini jaman dulu. Kartini telah berhasil menunjukkan kepada dunia luar, bahwa perempuan dapat berbuat lebih dengan kemampuan yang dimilikinya. Menjadi Manggala Agni kita dapat melakukan aksi yang sangat berarti bagi keselamatan bangsa dari ancaman buruk kebakaran hutan dan lahan”, tambah Ria.

Meski dirinya seorang perempuan, tidak menjadikannya minder dan terbatas dalam berkarya. Perempuan yang telah bergabung menjadi Manggala Agni sejak 2008 ini aktif dalam setiap kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di wilayah kerjanya.

Saat ini, Ria adalah adalah satu-satu nya Komandan Regu (Danru) Manggala Agni perempuan di Indonesia. Berkat kemampuan, ketekunan dan semangat kerjanya tak ragu Kepala Daops yang menjadi atasannya, memberikan amanah ini dipundaknya. Tanggung jawab ini tentunya tak mudah untuk dia laksanakan.

Sebagai Srikandi Manggala Agni, Ria merasa tak berbeda tugasnya dengan pria yang kebanyakan bertugas sebagai Manggala Agni. “Ketika melakukan pemadaman, kita tidak hanya memiliki tugas di barisan belakang. Manggala Agni perempuan juga bisa berperan sebagai pemegang nozzle di garis depan yang berhadapan langsung dengan api”, tutur Ria.

Demi tugas, pernah Ibu dari tiga orang anak ini harus meninggalkan anak pertamanya yang saat itu masih berumur delapan bulan. Beberapa minggu dia harus menahan rindu pada bayinya itu untuk melakukan pemadaman di lapangan. Lokasinya yang sangat jauh dengan sulitnya akses harus dilalui.

Sementara pasokan logistik pun sangat terbatas. Air gambut yang pekat terpaksa harus diminumnya. Kondisi seperti itu tidak menyurutkan semangat Ria dan anggota Manggala Agni lainnya untuk menjinakkan si jago merah. Pantang pulang sebelum padam menjadi tekad tertanam pada brigade yang berjuluk panglima api ini.

Bagi Ria, hari kartini baginya adalah bahwa perempuan Indonesia itu pada hakikatnya memiliki semangat pejuang seperti Kartini. Perempuan tidak hanya menjadi tukang masak, menyuci dan bereproduksi saja.

Lebih dari itu, perempuan bisa berkarya dalam segala bidang pengabdian. Hari Kartini menurut saya tidak hanya diperingati setiap tahunnya, namun perlu dimaknai setiap hari. “Berkat perjuangan Kartini, saya bisa menjadi seorang Manggala Agni dan menjalankan profesi ini hingga saat ini,” pungkas Ria.

KLIK INI:  Dari Lomba Baca Puisi, Dewi Ingin Berjuang Menjaga Lingkungan