Temukan Alasan Masuk Akal Mengapa Harus Belanja Pakaian Lagi?

oleh -37 kali dilihat
Temukan Alasan Masuk Akal Mengapa Harus Belanja Pakaian Lagi
Ilustrasi - Foto/ Sarah Brown di Unsplash
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Setiap kali ke mal, hal apa yang paling sering menyita perhatianmu? Kebanyakan di antara kita (tanpa pandang usia) akan memberi jawaban serupa: pakaian! Yah, begitulah ruang belanja seperti mal, menggoda dan membius pengunjung.

Bahkan untuk alasan inilah yang menjadi prioritas kita melangkahkan kaki ke mal. Meski, secara sadar, sejatinya membeli pakaian bukanlah hal mendesak.

“Siapatahu saja ada model terbaru, ada diskon spesial. Atau setidaknya bisa cuci mata!” Begitulah kita kerap bergumam sendiri.

Atas alasan ini pula, begitu mudahnya kita tergoda rayuan diskon. Lihat saja, diskon pakaian seperti analogi semut dan gula. Di mana ada diskon, di situ pula ada kerumunan. Lagi pula, tanpa sadar, kebanyakan kita tergiur membeli atas dasar harga yang murah.

Urusan kebutuhan atau hanya sekadar pelengkap koleksi lemari, nomor sekian. Kita kerap jadi konsumen dadakan alias konsumen tanpa rencana-tanpa pikir panjang. Semoga kamu yang membaca ini tak termasuk di dalamnya!

KLIK INI:  Angin Segar untuk Fesyen Berkelanjutan, Tak Sekadar Gaya dan Harga!
Pola konsumsi

Ini memang kelihatan sepele. Bahkan bisa dikatakan urusan pribadi. Koleksi pakaian di rumah kamu memang akan menjadi tanggunganmu sendiri. Namun, sementara ada sekian juta orang di dunia ini yang mungkin saja tak cukup uang untuk kebutuhan pakaian – ada sebagian besar pula yang hanya menyimpan pakaian dalam lemarinya atau bahkan membuangnya.

Ini amat paradoks! Ini suatu Kesenjangan serius. Di sini pula akar persoalannya yang perlu dipikirkan kembali.

Dunia sedang memasuki satu era dimana sampah dan pemborosan energi terjadi akibat pola konsumsi kita yang buruk. Limbah pakaian jadi sorotan dunia seiring pesatnya produksi pakaian yang menghabiskan banyak sumber daya.

Padahal, untuk memproduksi pakaian diperlukan energi yang tidak sedikit. Data World Wild Life (WWF) menyebut untuk produksi satu kaos katun saja diperlukan setidaknya 2700 liter air. Tak hanya itu, produksi massal pakaian dapat memperburuk kualitas ekosistem kita.

Beruntunglah bagi kamu yang terbiasa berbagi pakaian bekas kepada kerabat, keluarga atau orang yang memang membutuhkan.

Bila tidak, pastikan bahwa selama ini kamu tidak menjadi bagian dari orang-orang yang membeli pakaian untuk alasan konyol. Rayuan diskon di antaranya atau godaan tampilan sekilas. Mari menerenungkannya kembali, semoga kita bukanlah bagian dari konsumen fast fashion.

KLIK INI:  Musim Hujan Tiba, Begini Penampakan Tire di Kindang!
Fenomena fast fashion

Sejumlah data menunjukkan bahwa industri fast fashion (busana murah) setiap tahunnya mengalami over-konsumsi. Ini tentu bagian dari buruknya perilaku konsumen yang lebih memilih belanja dengan frekuensi tinggi.

Dikutip Kompas dari penulis buku Overdressed: The Shockingly High Cost of Cheap Fashion, Elizabeth Cline, menyebut bahwa harga murah dan produksi yang cepat model busana terbaru membuat pergeseran nilai guna dari pakaian menjadi menomorsatukan nilai tanda sebagai bentuk identitas sosial.

Dampaknya cukup serius loh! Begini, fast fashion akan membuat konsumen merasa cepat bosan. Mereka tanpa berpikir panjang bisa saja membuang isi lemarinya usai membeli fesyen baru. Atau setidaknya membiarkannya tergeletak dalam lemari hingga rusak dan berakhir pula sebagai limbah.

Disalin dari laman zerowaste.id, fast fashion merupakan istilah yang digunakan oleh industri tekstil yang memproduksi ragam model fashion secara silih berganti dalam waktu yang amat singkat, serta memakai bahan baku yang berkualitas buruk, sehingga tidak tahan lama.

Dana Thomas dalam bukunya “Fashionopolis” menegaskan, betapa beberapa merek fast fashion mungkin tidak mendesain produknya untuk bisa tahan lama. Hal itu karena ada lebih dari 60 persen serat kain yang diproduksi saat ini bukan dari benang, tetapi dari bahan sintetik.

Ini memicu produksi pakaian berkejar-kejaran dengan ambisi konsumen yang juga berapi-api. Padahal, ketika pakaian itu bernasib sial di tempat pembuangan akhir (TPA), bahannya akan sulit terurai.

KLIK INI:  Menanti Hasil Kolaborasi KLHK dan Gojek Atasi Sampah Plastik

Ini benar-benar mencemaskan, laporan dari Ellen McArthur Foundation menyebut industri tekstil masih memakai minset kuno yakni model ekonomi linier (buat-gunakan-buang).

Faktanya demikian bukan? Sampai disini semoga renungan kita semakin dalam untuk tak gampang tergiur rayuan diskon fast fashion!

Saatnya revolusi pola konsumsi

Karena itu, perlu revolusi pola konsumsi dan dimulai dari diri sendiri. Di sisi lain, pemerintah juga harus mendorong suatu policy yang memastikan agar industri tekstil lebih ramah lingkungan dan menerapkan ekonomi sirkular.

Dampak negatif dari industri tekstil diprediksi meningkat di tahun 2050 mendatang bila pola konsumsi masih tak berubah. Jika pada tahun 2015 limbah minyak yang dihasilkan dari produksi tekstil berkisar 98 juta ton, di tahun 2050 akan mencapai 300 juta ton limbah minyak yang dihasilkan.

Lalu bagaimana? Pertama, pastikan untuk memulai menjadi konsumen bijak. Simak tips membeli pakaian yang ramah lingkungan di SINI!

Kedua, mulailah memikirkan untuk memanfaatkan kembali pakaian bekas di rumah kamu. Semisal berbagi dengan kerabat, keluarga atau mereka yang membutuhkan.

Terakhir, ayo terus kampanyekan suatu revolusi berpikir dalam membeli pakaian. Belilah pakaian untuk kebutuhan waktu yang panjang dan pertimbangan aspek lingkungan. Lalu, mari menularkan semangat baik ini pada banyak orang.

KLIK INI:  Dengan Nyanyian Unik, Paus Biru Baru Diidentifikasi di Samudra Hindia