Telur Anti Corona: Humor dan Rumor dalam Masyarakat Indonesia

Publish by -423 kali dilihat
Penulis: Yanuardi Syukur (Antropolog, Dosen Universitas Khairun Ternate)
Telur Anti Corona: Humor dan Rumor dalam Masyarakat Indonesia
Yanuardi Syukur, Antropolog-Foto/Ist

Klikhijau.com – Telur anti corona, memang ada? Tulisan ini merefleksi tentang selera humor dan kebiasaan orang Indonesia merespons rumor setiap waktu.

Pada pukul 21.36 WIB, saya menerima broadcast pesan di Whatsapp yang menyampaikan bahwa pada pukul 7 malam tadi ada anak yang baru lahir, bisa berbicara. Sang anak bilang agar “kita semua harus makan telur, karena telur dapat mencegah atau menjadi vaksin dari virus covid-19.

Kabarnya, “anak ajaib” tersebut menyampaikan “pesan ajaib” itu saat orangtuanya mau pulang, tepatnya di pintu rumah sakit.

Pesan yang saya terima dari seorang kawan berambut sedikit pirang di Saumlaki, sebuah kota kecil di Kepulauan Tanimbar, yang berdekatan dengan Darwin, Australia itu, kemudian saya coba cross-check.

“Saya cuman mau bagi saja, kalau tidak percaya juga tidak apa-apa,” di bawah tulisan itu. Tak lama, kabar itu dikonfirmasi oleh kawan tersebut bahwa “itu berita hoax” sambil mengirimkan tangkapan layar dari sebuah akun Facebook yang meminta maaf telah menyebarkan berita “mukjizat telur ajaib” tersebut.

KLIK INI:  Presiden Jokowi, PM Belanda dan Perihal Pohon Damar yang Menawan
Kehebohan 

Di sudut kota lain, tepatnya di Tobelo, seorang kawan menyampaikan kegeramannya akan berita itu. Pasalnya, pada malam (25-26 Maret 2020) itu banyak orang heboh mencari telur   di warung.

Telurnya itu harus direbus; dibikin dadar juga tidak boleh. Pada malam itu, orang-orang–terutama mama-mama di kampung–sampai pada sibuk menelepon keluarganya atau keluar rumah di jam-jam sahur dengan satu misi: dapatkan telur, rebus sebelum subuh! Diktum ini hanya berlaku malam ini, sesuai arahan “bayi ajaib” tersebut.

Kesal dengan kejadian itu, seorang kawanku di utara pulau Halmahera menulis yang dalam bahasa Melayu Ternate yang kira-kira berarti: “Besok malam disuruh rebus anaconda…kalian cari anaconda ya.”

Kesal betul dia dengan informasi itu, dia menulis tagar #fuma yang berarti “bodoh” untuk menggambarkan bahwa informasi yang seperti itu kok dipercaya. Dan orang-orang harus cari-cari telur malam-malam di tengah protokol dari pemerintah agar masyarakat stay at home agar mencegah pandemi wabah coronavirus. 

KLIK INI:  Spiderman Melawan Sampah di Kota Kelahiran BJ Habibie

Di sudut lainnya, dari Fitu, sebuah kelurahan di Ternate Selatan, kawan lainnya juga berstatus: “Apa apa dengan telur matang tengah malam? Sampai subuh-subuh dapat telepon cuma tanya tentang telur. Corona bikin otak oon.”

Berharap di tengah wabah corona, lanjut kawan yang menggeluti ilmu kimia hingga ke New Zealand itu, “kita semua tetap waras.”

Di tempat lain, Galela, kawan lainnya juga bikin status: “Malam ini pukul 02.40WIT, saya terganggu dengan keributan di luar. Mereka panit karena di seberang ada telepon untuk segera mencari telur anti corona…Ternyata, sebagian besar orang sudah borong telur dan orang yang teriak telur anti corona pun sudah pergi entah kemana…Masyarakat kampung pun jadi heboh.”

Kehebohan ini tidak hanya terjadi di Saumlaki, Tobelo, Galela, dan Ternate, tapi juga melanda masyarakat di Sanana, Ambon, Donggala, Majene, Makassar, dan Singkawang. Dari mana asalnya?

Ada yang bilang info itu dari Saumlaki, tapi ada juga yang bilang itu dari Sumatera, bahkan yang lebih jauh ada yang bilang: “Itu dari Bangladesh.” Jauh dan cepat betul info ini beredar. Anehnya, kita yang tinggal di Depok ini tidak banyak dapat broadcast tersebut.

KLIK INI:  Heboh, Sampah Kondom Sumbat Gorong-Gorong Mega Kuningan
Humor dan Rumor

Dalam banyak hal, ilmuwan sosial sepakat bahwa masyarakat Indonesia masih berkutat dalam budaya oral atau lisan. Kisah-kisah sejarah, desas-desus, gosip, humor, hingga rumor tersebar lewat tulisan. Dari mulut ke mulut, istilahnya. Mungkin yang tepatnya: dari mulut ke telinga dan disebarkan lewat mulut.

Otak pertama kali pembuat dan penyebar broadcast itu tidak ditemukan sampai sekarang. Namun, bisa jadi apa yang dilakukannya itu bertujuan untuk humor atau sekedar rumor.

Humor berarti dia ingin memecah ketegangan akibat pandemi coronavirus dengan cerita aneh itu. Atau bisa berarti rumor, sekadar kabar burung yang sifatnya iseng. Dibroadcast ke grup terbatas, tapi sialnya itu broadcast tersebar disusul dengan adanya video tahun 2017. Seorang anak kecil yang berbicara dalam bahasa yang tidak kita pahami–sebagai penguat–konten tersebut.

Sebagian orang percaya, rumor ini dibuat oleh penjual telur. Katanya, agar masyarakat berbondong-bondong beli telur.

Di Juragan Sinda, tempat saya, harga telur sekarang berkisar antara Rp. 26.000 sampai Rp. 29.000. Sebelumnya, hanya Rp. 24.000. Waktu pejabat pemerintah bilang bahwa jahe merah ampuh mencegah corona, tiba-tiba harga jahe melonjak di pasaran mulai dari Rp. 90.000 sampai Rp. 150.000.

KLIK INI:  Belajar dari Sikap Tenang Warga Jepang Hadapi Teror Corona
***

Menanggapi cerita “telur anti corona” itu, seorang apoteker alumni Unhas di Sultra, menulis: “Kalau itu telur bisa nyembuhin covid-19..Saya tutup apotik…beralih jadi penjual telur.” Tentu dia sekedar guyon sekaligus kritis terhadap fenomena orang-orang yang cepat percaya sama rumor.

Kembali ke rumor tadi, pertanyaannya: kenapa sebagian masyarakat percaya? Bahkan sampai mama-mama itu panik memecah keheningan malam hanya untuk temukan itu telur yang kalau direbus bisa jadi penangkal corona.

Ini menjelaskan betapa cepatnya info viral ketimbang kapasitas petugas penangkal berita hoax. Sejauh ini peran tim penangkal hoax di daerah tidak terdengar, kecuali yang dari Jakarta.

KLIK INI:  Hari Tanpa Tembakau Sedunia, New Normal dan Polusi Udara
Folklor Indonesia

Dari sudut antropologi, humor dan rumor itu dapat dijelaskan dalam ilmu folklor Indonesia. James Danandjaja, antropolog UI, adalah pioneer di bidang itu.

Murid dari bapak antropologi Indonesia, Koentjaraningrat tersebut bahkan jauh-jauh menuntaskan masternya di University of California, Berkeley, pada 1972, dengan riset tentang folklor Jawa. An Annotated Bibliography of Javanese Folklore.

Mulyawan Karim, seorang jurnalis-cum-antropolog, pernah menulis di Kompas (10 Desember 2007) pendapat Danandjaja bahwa folklor atau cerita rakyat di Indonesia lahir dari proses sejarah.

Artinya, apa apa yang terjadi dalam sejarah manusia turut berkontribusi pada lahirnya cerita rakyat. Dalam konteks wabah corona, saat ini masyarakat secara dinamis juga memproduksi berbagai cerita mulai dari “ini buatan kelompok illuminati”, “corona bisa jadi tentara Allah”, “corona buatan lab biologi di Wuhan”, “corona sumbernya dari lab Amerika di Fort Detrick” dan lain sebagainya.

Cerita-cerita itu terhembus dari grup ke grup dan nyaris tidak dipercaya oleh sebagian orang. Salah satu kelemahan sekaligus kekurangan manusia Indonesia, adalah terlalu cepat percaya kepada ucapan orang tanpa intensi yang kuat untuk berpikir kritis.

Pokoknya, apa yang diucapkan oleh seorang tokoh, mereka telan bulat-bulat.

KLIK INI:  Ngeri, Pencemaran Plastik di Laut Ancam Oksigen yang Kita Hirup

Sudah banyak sih cerita tentang sikap mudah percaya–mungkin ini bisa jadi tambahan karakter manusia Indonesia versi Mochtar Lubis.

Kisah orang Indonesia yang katanya ahli aeronautika yang namanya diliput oleh berbagai media (katanya sedang buat pesawat tempur canggih). Hingga yang lebih tua seperti cerita harta Bung Karno di Swiss (bersumber dari kisah perjanjian antara Bung Karno dengan Presiden AS John F. Kennedy).

Atau hoax Raja Idrus dan Ratu Markonah yang ngeprank (ngerjain) Bung Karno kalau mereka akan sumbang harta untuk merebut Irian Barat. Hingga janin yang bisa bicara dan mengaji di perut Cut Zahara yang ternyata ada tape recorder di pakaiannya (sialnya, Presiden Suharto dan Wapres Adam Malik juga ikutan tertarik dengan fenomena itu).

Ada banyak lagi fenomena mudah percaya itu di bangsa Indonesia. Sekali lagi, sikap mudah percaya itu sangat Indonesia, alias “Indonesia banget”. Bernilai kesetiakawanan, kejujuran, “makhluk sosial” (tidak individualis), tapi kadang mudah dikelabui oleh orang lain yang iseng atau sengaja untuk bikin panik dan rusuh.

Cerita konflik sosial pasca jatuhnya rezim Orde Baru juga tidak lepas dari rumor hoax, misleading (menyesatkan), yang cepat dipercaya.

KLIK INI:  Kritis, Orangutan Sumatera Ditembak 74 Peluru di Aceh
Berpikir Kritis 

Cerita “telur anti corona” hingga hoax-hoax yang melanda negeri ini tidak lepas dari minimnya cara berpikir kritis di masyarakat kita.

Ketika datang berita, seharusnya kita berpikir: “Apa benar info ini?” Saat ini orang bisa dengan rekayasa foto, video, dan lain sebagainya lewat aplikasi gratisan. Bahkan, foto-foto yang dibagikan di media sosial–terutama instagram–nyaris tidak ada foto yang jelek. Semuanya cantik, menarik, dan memikat hati untuk follow akun itu.

Berpikir kritis bisa dimulai dari diri sendiri. Pertama, verifikasi sumber. Ini berita dari siapa? Kalau tidak jelas, coba google, cari info dari sumber lainnya.

Jika tidak ada, coba sharing ke teman apakah info itu betul atau tidak. Lebih bagus lagi jika info yang agak aneh bin ajaib itu dibagikan ke otoritas seperti Kominfo agar mereka verifikasi lebih cepat. Tapi memang di tengah lalu-lintas info kayak sekarang, telat ngabarin kadang bisa bikin banyak orang sesat info.

Kedua, pikirkan kontennya. Apakah konten yang dibagikan itu masuk akal? Memang sih, kisah bayi bisa bicara pernah ada dalam sosok Nabi Isa, akan tetapi setelah itu nyaris tidak ada lagi yang seperti itu. Orang Islam percaya, itu salah satu mukjizat beliau. Tapi zaman sekarang sudah jarang ada kisah tentang itu.

KLIK INI:  Lebih Dekat dengan Greenland, Pulau Es yang Ingin Dibeli Donald Trump

Apakah kisah corona juga ada dalam Al-Qur’an? Ada yang sebar foto dari buku Iqro’ dengan digarisbawahi: Qorona-Kholaqo-Zamana-Kadzaba. Diterjemahkan sebagai “Corona-Diciptakan-Zaman-Kebohongan” atau “Corona diciptakan atau hadir di zaman kebohongan.

“Sebagian orang percaya. Tapi buku Iqro’ susunan KH. As’ad Humam (1990) itu bukan Al-Qur’an, walau memang di dalamnya ada kutipan Al-Qur’an, terutama mulai Iqro’ 3 hingga 6.

Fakta bahwa telur itu protein yang berguna buat tubuh itu memang jelas. Telur bisa meningkatkan metabolisme, membantu proses pencernaan, mencegah penumpukan lemak, mengurangi risiko penyakit jantung, menjaga kesehatan mata dan otak, itu betul. Artinya, tetap konsumsi telur itu berguna untuk memperkuat imunitas tubuh kita dalam melawan virus asing yang masuk.

Berpikir kritis sangat perlu bagi manusia Indonesia di tengah protokol isolasi diri, jaga jarak, dan jaga kebersihan tangan dengan cuci tangan di air mengalir atau pakai hand sanitizer.

Satu lagi, jangan cemas berlebihan karena info beruntun dari berbagai grup medsos ya. Jika terganggu, baiknya batasi saja info itu. Akhirnya, tetap sehat dan produktif buat kita semua.

KLIK INI:  Ini Penyebab Polusi Udara, Salah Satunya Mungkin Sering Kita Lakukan
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!