Teknologi Fitoremediasi Bisa Jadi Andalan Atasi Pencemaran Lingkungan

oleh -843 kali dilihat
Teknologi Fitoremediasi Bisa jadi Andalan Atasi Pencemaran Lingkungan
Commelina nudiflora, salah satu tanaman yang bisa atasi pencemaran lingkungan/foto-Lipi
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Pencemaran lingkungan di Indonesia tidak boleh dianggap sepele. Butuh perhatian khusus sesegera mungkin. Jika tidak bisa mengganggu ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Menurut Dr. Nuril Hidayati dalam orasi pengukuhannya sebagai Profesor Riset bahwa secara global diperkirakan 10.000 ton merkuri (Hg) per tahun mencemari lingkungan.

Khusus di Indonesia sumbangan terbesar pencemaran merkuri (37%) berasal dari penambangan emas rakyat yang tersebar di sekitar 800 daerah.

Untuk dunia pertanian sendiri menurut Nuril sekitar 75% lahan pertanian di Indonesia sudah menjadi lahan kritis. Hal ini menyeabkan kesuburan tanahnya terus menurun.

KLIK INI:  JPIK Menyoal Pernyataan Ditjen PKTL KLHK Atas Penurunan Deforestasi

Data menunjukkan 21–40% dari 106 ribu ha sawah di Pantura Jawa Barat tercemar logam berat, dengan 7,83 hingga 91,47ppm tercemar timbal dan kadmium 8,75ppm.

“Kontaminan dari kelompok logam berat, seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) yang sulit mengalami degradasi secara alami, secara umum paling banyak dijumpai dan paling berpotensi menimbulkan masalah lingkungan.” jelas Nuril seperti dikutip dari laman resmi LIPI.

Nuril Hidayati merupakan peneliti botani Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Teknik fitoremediasi

Saat pengukuhan Profesor Riset, Nuril mempresentasikan penelitiannya yang berjudul Tanaman Akumulator Merkuri (Hg), Timbal (Pb), dan Kadmium (Cd) untuk fitoremediasi.

Ia menuturkan jika masih ada harapan membebaskan tanah dari pencemaran, salah satunya adalah upaya reklamasi melalui revegetasi. Namun, ini tidak menjamin menjamin hilangnya kontaminan dalam tanah walaupun kondisi lingkungan tampak membaik.

Karenanya Nuril menawarkan alternatif solusi yang lain, yakni menggunakan teknik fitoremediasi.

Fitoremediasi merupakan salah satu teknologi yang secara biologi yang memanfaatkan tumbuhan atau mikroorganisme.

Tumbuhan yang digunakan yang dapat berasosiasi untuk mengurangi polutan lingkungan baik pada air, tanah dan udara yang diakibatkan oleh logam atau bahan organik.

KLIK INI:  Tingkatkan Kualitas Penelitian, Profesor Riset KLHK Bertambah Tiga Lagi!

Fitoremediasi adalah metode untuk mencuci limbah menggunakan tanaman. Pencucian ini dapat berupa penghancuran, inaktivasi maupun imobilisasi limbah ke bentuk yang tidak berbahaya.

Untuk  tanaman akumulator merkuri ditemukan beberapa tanaman, yaitu Commelina nudiflora dengan potensi akumulasi 114,05 mg/thn dapat menurunkan 73% kadar Hg di sawah (45 ppm–17 ppm), Salvinia molesta dengan poteni akumulasi 111,71mg/thn menurunkan 84% Hg (52 ppm–8 ppm), Paspalum conjugatum dengan potensi akumulasi 107,11 mg/thn menurunkan 88% Hg (75 ppm–9 ppm), dan   Monocharia vaginalis dengan potensi akumulasi 68,57 mg/thn menurunkan 66% Hg (29 ppm–10 ppm).

Sementara, enam jenis tanaman berpotensi akumulator timbal ialah Saccharum spontaneum (47 ppm Pb), Acorus calamus (55 ppm Pb), Ipomoea fistulosa (60 ppm Pb), Ludwigia hyssopifolia (50 ppm Pb), Eichhornia crassipes (55 ppm Pb), dan Hymenachne amplexicaulis 57 ppm Pb): dan enam jenis tanaman berpotensi akumulator kadmium antara lain Limnocharis flava (4,3 ppm Cd), Colocasia sp. (4,9 ppm), Ipomoea fistulosa (4,5 ppm), Grangea maderaspatana (5,0 ppm), Eichhornia crassipes (6,0 ppm), dan Ludwigia octovalvis (5,0 ppm Cd).

 Cocok diterapkan di Indonesia

Teknik fitoremediasi tepat diterapkan di Indonesia mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang berpotensi sebagai tanaman hiperakumulator.
Apalagi banyak petani di Indonesia yang mempunyai lahan pertanian yang berdampingan dengan aktivitas industri pertambangan.

Hal ini melahirkan banyak yang mengkhawatirkan bisa menjadi ancaman bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Untuk menyibak kekhawatiran itu Nuril hadir dengan penelitian yang menawarkan konsep fitoremediasi. Konsepnya adalah menggunakan tanaman hiperakumulator secara holistik hingga metode untuk meningkatkan kemampuan fitoekstraksi secara terintegrasi.

Hiperakumulator adalah kemampuan tanaman menyerap logam melalui akar. Kemudian diakumulasi di dalam tubuhnya untuk diolah kembali atau dibuang saat panen. Sehingga tanaman dipanen secara berkala untuk kemudian dimusnahkan.

KLIK INI:  Angkasa Pura I Hadiahkan Toilet Baru ke Taman Satwa Taru Jurug

“Inovasi ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap pengelolaan pencemaran lingkungan,” tegasnya.

Untuk menerapkan hal tersebut menurut Nurul penyadartahuan masyarakat akan bahaya pencemaran perlu digiatkan.

Selain itu perlu pula mendorong keseriusan pemerintah dalam hal penerapan regulasi dan undang-undang pengelolaan lingkungan secara tegas dan konsisten serta diperlukan pendataan pencemaran secara lebih serius, objektif, dan transparan agar terkumpul basis data akurat yang terpusat dan dapat diakses secara nasional.

“Arah ke depan strategi pengembangan riset hiperakumulator dan fitoremediasi ialah memperkuat sinergisme antar-disiplin ilmu termasuk fisiologi tumbuhan, genetika molekuler, dan lainnya untuk mempercepat pencapaian hasil-hasil riset,” imbuhnya.

Ada berbagai cara penerapan fitoremediasi, salah satunya dilakukan dengan metode wet land atau waste water garden. Limbah dialirkan ke kolam penampungan yang ditanami tumbuhan air yang bersifat hiperakumulator (contoh: eceng gondok, kayu apu).

Sistem ini sudah digunakan di beberapa daerah seperti Bali dan pabrik bahan peledak di Tenessee, Amerika Serikat. Bunga matahari digunakan sebagai fitoremediasi untuk menanggulangi cemaran radiasi nuklir pada tanah setelah bencana kebocoran nuklir di Chernobyl, Hiroshima dan Fukushima.

KLIK INI:  Gunung Rinjani Dibuka Lagi Awal April 2019, Pendaki Wajib Mematuhi Ketentuan Baru Ini!