Tafsir Hujan

oleh -84 kali dilihat
Tafsir Hujan
Ilustrasi hujan - Foto/ Anna Atkins on Unsplash
Wahyuddin Junus

Klikhijau.com – Saya sudah nyaris bisa mendengar nyanyian rumput-rumput liar dan alunan merdunya musik dedaunan yang diterpa tetesan air hujan. Ini mungkin karena saya larut kenangan masa kecil.

Ingatan suasana dan ikut menari bersama dahan-dahan rindang yang mulai nampak kedinginan. Berlari-lari sambil tertawa di ladang-ladang di mana pepohonan terhampar.

Ingatan waktu di masa lalu, seolah memanggil kembali. Potret hujan yang datang kali ini menjadi momen yang jernih menautkan kenangan sekaligus melibatkan imajinasi.

Saat-saat seperti ini bukanlah waktu yang tepat menunggu butiran air dari langit untuk segera berlalu. Ini tentang keharusan belajar menafsir hujan dalam keseimbangan bumi.

Kini hujan yang datang, sudah tak lagi ramah. Tak ada keceriaan seperti dulu. Tak ada lambaian dedaunan yang hangat menyapa. Tidak tampak lagi pandangan yang menghijaukan.

Hujan yang dulunya cuma sekadar membasahi dan mendinginkan, kini telah setia menjadi langganan banjir. Ya, merasakan guyuran air hujan dalam kesejukannya yang kerap membanjir. Selalu menghampiri.

KLIK INI:  Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah

Hujan akan selalu menjejali jalan keseimbangannya. Maka, percuma engkau menangis dalam hujan, hanya akan menambah masalah di atas jalanku yang tak lagi ramah. Kalau pun engkau harus menangis, maka menangislah di atas jalan berlubang. Karena aku tak sanggup mencari jalanku.

Meski hujan dengan ‘cover’ BANJIR, lebih berposisi sebagai implikasi atas respon hukum alam daripada ‘pressure effect’ dalam sebuah sistem bumi. Banjir bukanlah ketakmampuan hujan mengelolah debit airnya.

Karena manusialah, air hujan harus bersemangat menyirami tanah yang berwujud beton. Berjuang menapaki jalan-jalan licin yang berbatu. Tak ada celah untuknya menerobos pori-pori tanah. Tak ada tempat untuknya ‘transit’ dalam lebatnya dedaunan.

Kalaulah kuantitas hujan mengalami peningkatan signifikan, menunjukkan pembangunan belum bisa membebaskan dirinya dari manusia sentries. Terciptalah suasana paradoks, merasakan kesejukan dibawah teriknya matahari dan menikmati kehangatan dalam guyuran air hujan.

Namun ada gurat optimisme bagi manusia pendamba kebaikan.  Setiap celah yang terbasahi oleh air hujan, mustahil oleh Sang Maha Kaya lengah untuk membagi rezeki pada setiap ciptaan-Nya.

Hujan beberapa kali datang tanpa penanda, pergi dengan diam-diam. Malu pada matahari, rapuh pada mata hati. Tapi apa boleh buat, para pecinta ekologi tentu masih ingat dengan pesan Nabi Nuh untuk dunia yang stabil, subur dan sehat.

Jika tak ada ‘kanal kesadaran’ rasa-rasanya ke depan, hujan akan tetap melucuti ego manusia, walau harus  melucuti basah di ujung mimpi.

KLIK INI:  Pada Lorong di Kotamu