Tafsir Budaya “Rewako Gowa”, Kearifan Lokal dan Masa Depan  

Publish by -147 kali dilihat
Penulis: Labbiri (Pegiat Budaya Lokal dan Pengurus PHBI Gowa)
Tafsir Budaya “Rewako Gowa”, Kearifan Lokal dan Masa Depan  
Suasana alam di Malino Kabupaten Gowa - Foto/Nyero.id

Klikhijau.com – Gowa memasuki usianya yang ke-700, pertanggal 17 November 2020. Usia yang terbilang sepuh jika dibandingkan dengan tahun kemerdekaan RI yang usianya baru 75 tahun.

Dengan jargon “Gowa Bersejarah” menguatkan pesan bahwa Gowa adalah tanah bersejarah. Tanah berperadaban dengan peninggalan-peninggalan purbakala, berupa benteng Somba Opu, rumah-rumah adat, kuburan-kuburan tua, tanah adat, kesenian daerah, naskah-naskah lontarak, kuliner, permainan-permainan tradisional dan benda-benda bersejarah lainnya.

Tak cukup hanya itu, dalam rekam jejak sejarah, Gowa telah melahirkan sosok pahlawan nasional, di antaranya Sultan Hasanuddin sebagai sosok Tubarani, Syekh Yusuf Tuanta Salamaka sebagai sosok Tupanrita yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional di Indonesia dan Afrika Selatan, Karaeng Pattingalloang sebagai sosok ilmuan dan cerdik pandai. Daeng Pamatte sebagai penemu aksara Lontarak Mangkasarak.

Dari sosok tokoh-tokoh fenomenal dan inspiratif ini, generasi sekarang harusnya dapat menjadikan sebagai panutan, contoh, teladan, dan semangat dalam meneruskan perjuangan.

KLIK INI:  Tanam Massal Vetiter, Bupati Gowa Dapat Rekor dari LEPRID

Selain jargon “Gowa Bersejarah”, Gowa juga dikenal dengan slogan “Rewako Gowa”. Gema teriakan “Rewako Gowa” selalu hadir pada momentum yang membutuhkan pekik semangat.

Akan tetapi, pahamkah kita akan makna dibalik slogan tersebut? Mari sejenak merenungkan dan menelaah makna slogan REWAKO GOWA. Bagaimana tafsiran maknanya dengan pendekatan bahasa dan filosofi budaya?

Kata “rewako” berasal dari kata dasar “rewa” ditambah kata sandang “ko”. Dalam Kamus Bahasa Makassar, kata “rewa” bermakna: (1) lawan; (2) suka berkelahi, dan (3) susah diatur. Kesan yang muncul saat mengetahui arti “rewa” menunjuk pada makna negatif.

Secara semantik kata rewa menunjuk pada: manusia tidak berdaya dan manusia kalah. Ibarat jangkrik nanti melawan jika sudah “digirik, dipaganti (dipompa) barulah dapat melawan. Implikasi negatif kata rewa: lahirnya perilaku malas, perilaku anarkis, perilaku tak berdaya di tengah masyarakat (meminjam istilah Maestro Kelong Chaeruddin Hakim).

KLIK INI:  Jelang Musim Hujan, Begini Harapan Adnan Kepada Warga Gowa!

Apakah sifat dasar manusia Gowa adalah manusia kalah? Ternyata tidak. Manusia Gowa adalah manusia santun, arif, dan bijaksana, serta panrita, seperti yang digambarkan pada sikap Sultan Hasanuddin, Syekh Yusuf Tuanta Salamaka, Karaeng Pattingaloang yang memiliki SIRIK, PACCE, NA KAPANRITANG (harga diri, kasih sayang, dan kearifan – lebih mendalam: kesufian).

Antara Makna REWA dan EWA?

EWA (ko) dalam bahasa Bugis dapat berarti: (1) lawan, (2) imbangi. Menilik arti dan makna tersebut maka kata EWAKO sangat jauh berbeda dengan makna REWA. Makna terkandung pada EWAKO: lawan, imbangi (dalam bahasa Makassar berarti “LEWAI”).

Dalam konteks makna EWAKO, adalah imbangi dan jangan pernah surut dalam usaha untuk memajukan pembangunan. Inilah mungkin yang dimaksud oleh Pak Palaguna ketika beliau Gubernur saat itu). Sementara makna kontekstual REWAKO bisa ditafsirkan berani, melawan atau gertakan.

Dalam kehidupan adat Makassar, urutan keutamaan pemilihan seorang pemimpin (Mattulada, 1977) ada empat, yakni cerak (turunan), kacaraddekang (kepintaran), kabaraniang (keberanian), pakkalumannyangngang (kekayaan).

Jadi, moto yang yang elok dan elegan untuk konteks masyarakat Gowa gaungkan adalah “SIRIKKO GOWA atau PANRITAKO GOWA”. Seperti pada ungkapan kelong berikut:

KLIK INI:  5 Tempat Wisata Air Terjun Alami di Gowa yang Layak Dikunjungi

Panritai tu Gowaya

Panritai ri pangngadakkang

Siri’ napacce

Napa’ jari lampangkana

 

Lampangkana tu Gowaya

Lampangkana kapanritang

Kulle akjari

Parenta ri katalassang

 

Punna niak tummarenta

Amminawangki ri boko

Alle pinawang

Punna ngerang kabajikang

 

Punna parenta ri sala

Pakaingaki ri sunggu

Tena nunnosa’

Annosa’ battu ri boko

 

Tu Gowaya terasa ri siri’

Mingka lammai ri pakmaik

Baji nipare’

Sa’ri battang lalang lino

 

Panritai tu Gowaya

Lambusu’ kana appau

Namanggaukang

Passurona Allah Taala (CH)

 

Terjemahan:

Arif itu orang Gowa

Arif pada peradaban

Harga diri dan kasih sayang

Dia jadikan kalimat

 

Kalimat orang Gowa

Kalimat kearifan

Dapat menjadi

Perintah dalam kehidupan

 

Jika ada yang memerintah

Ikutlah di belakang

Jadikan ikutan

Jika membawa kebaikan

 

Jika perintah pada ketidakbaikan

Ingatlah pada kemulian

Tidak menusuk engkau

Menusuk dari belakang

 

Orang Gowa tegas pada harga diri

Tetapi lembut pada perasaan

Baik dijadikan

Saudara di dunia

 

Arif itu orang Gowa

Lurus kata menyampaikan

Dan mengerjakan perintah Allah Taala.

KLIK INI:  Dampak Limbah Medis Terhadap Kesehatan yang Perlu Diketahui
Kearifan lokal dan masa depan

Karakter kepemimpinan berbasis budaya lokal dapat ditemukenali melalui Kelong, Rapang, Pappasang dan produk kebudayaan lainnya. Sehingga kearifan lokal ini perlu diramu dalam regulasi kebudayaan serta diintegrasikan dan diimplementasikan di sekolah-sekolah agar terjadi kesinambungan sejarah dan budaya masa silam yang perlu dirawat bersama untuk menyongsong masa depan yang lebih gemilang.

Oleh karena itu, kearifan lokal sebagai khazanah budaya dan jati diri bangsa perlu ditemukenali dan direvitalisasi. Khususnya bagi generasi muda dalam konteks kehidupan global saat ini untuk proyeksi di masa datang. Dengan demikian, identitas sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya tinggi akan tetap terjaga.

Semoga diusianya yang ke-700 tahun, Gowa semakin bersejarah, berperadaban, dan bermartabat. Dengan “Semangat Gowa religius, kita perkuat kolaborasi dalam percepatan pemulihan ekonomi dan peningkatan kualitas demokrasi.

Selamat Hari Jadi Kabupaten Gowa, Jaya Selalu!

KLIK INI:  Rumah Koran Fasilitasi Petani Sedekah Sayur di Masa Pandemi
Editor: Ahmad Fikri

KLIK Pilihan!