Surati Aku di Pelukan Siapa pun Kamu Kini

oleh -52 kali dilihat
Surat
Ilustrasi surat-foto/Pixabay

Surati Aku di Pelukan Siapa pun Kamu Kini

 

Surati aku di riuh mana pun kamu berada
alamatku tak pernah berubah, di hatimu
sekarang pun aku sedang menulis namamu
di pohon-pohon, di sepanjang jalan itu.

Kuhirup sunyi paling sunyi
kupangku jaket warna coklat pemberianmu
ketika kuantar ke rumahmu
“kenakanlah!” saranmu
aku jadi penurut
hingga kini jaket itu belum kucuci
….ada gambar tanganmu….

Suratilah aku dari arah mana pun
di depan rumah ada kantor pos. semua pegawainya mengenalku
telah kuceritakan pula tentangmu
mereka berkali-kali datang ke rumah
ingin lihat foto ukuran 3R-mu
yang kusimpan di saku jaket pemberianmu
…….mereka penasaran…

Kubiarkan saja, agar tiap hari ada menyapa, membelikanku rokok
dan aku punya pendengar cerita tentangmu

Dulu, ketika jalan di kampung kita belum diaspal
kita senang bermain air sisahan hujan
kita acap sulapi jadi cermin
sekarang hujan mengerikan

Surati aku, di sunyi mana pun kamu menulis
aku masih di alamat yang sama, di rindumu
suratmu akan sampai
meskipun kau titip pada hujan
ceritakan dalam suratmu
perihal puisi-puisi malam yang kutulis padamu

Aku sering mengirim puisi padamu
meski aku ragu apakah sampai atau tak
tak sekalipun kuterima balasannya.

Surati aku, tolong ceritakan luka bakar di bahu kirimu
ketika kita bermain rumah-rumahan di belakang rumah
rumah-rumahan kita dari daun pisang terbakar hebat
punggungmu tertimpa pelepahnya
baju bermotif pelangimu sobek
……..aku pilu kala itu….

Lalu di sebuah waktu, ketika aku belum bangun
mobil puang haji membawamu ke kota
aku tak tahu kota mana
tak ada peta kota di pikiran kita
……kamu tahu, kampung kita berubah kota kecil…
sawah ditanami beton

Surati aku, di pelukan siapa pun kamu kini
di sini, di sudut jendela aku menatap rumahmu
sengnya kecoklatan
dindingnya mulai rapuh
tiangnya telah keropos

…..jika saja ibu tak melarangku, telah kufoto.
kukirim ke kantor koran di kota
rumahmu, di pagari warga dengan ilalang.
bibit beton mulai ciumi jalan ke rumahmu

Surati aku
akan kubalas
kuceritakan kampung kita yang mulai kusut….
sungai tempat kita biasa berenang kini berubah coklat
anak-anak gatal usai berenang
…..kampung kita berwajah kota, sayang..
aku takut ketika kau pulang
tak lagi mengenalnya

Suratilah aku sebelum pulangmu
kujemput di gerbang kampung
….jaket pemberianmu akan kukenakan….

rumah kekasih, 30/1/2014

KLIK INI:  Tanah Duka, Tanah Luka
****

Penanda di Bulan Juli

 

Kita lupa
pernah berbalas puisi di bulan juli
kau katakan aku hijau
kukatakan kau hujan
lalu kita menuju halaman rumah
..…..menunggu hujan…..
aku tak membawa payung
kau tak memakai jaket
angin berhembus kencang penanda hujan akan datang
daun-daun terbang di sekeliling kita
mencari pendaratan paling aman
beberapa daun tak sampai ke tanah
ada yang tertinggal di reranting pohon

Matamu liar di bulan juli
menatap kali di depan rumah
kau mencari reranting yang di bawa hujan. hanyut di kali itu.
aku selalu menyukai aroma tubuhmu jika kuyup
aku juga suka melihat tetets hujan dari rambutmu
membasahi baju birumu yang bergambar bulu mata.

Kau hujan
aku hijau
barangkali kita memang ditakdirkan saling melengkapi
namun usia ternyata berbicara lain
hujan pergi
gugur pun berserakan

Kini juli datang dengan wajah muram
juli tak temukan kita di halaman menunggu hujan
juli tak menemukan hujan merembes ke tanah di halaman
dan kali di depan rumah itu
telah di semen oleh ayahku
airnya keruh
reranting pohon tak lagi bisa hanyut di kali itu
…….jika kau tahu, kau akan menangis…..
….…aku berkali-kali menangis. berubah hujan air mataku.

Aku lupa bertanya
kapan kau pulang?
membawa payung?
membawa jaket?
lalu kita berbalas puisi
ini juli kesekian tiadamu
kau hujan
aku hijau
tapi halaman rumah mulai tandus
tak ada lagi pepohonan mengirim daun keringnya
aku hijau
kau hujan
atau barangkali tak lagi begitu
…….kita lihat saja hingga juli tak mengirim penanda…..

Makassar, 1 Juli 2013

Harian Fajar, 25 Agustus 2013

KLIK INI:  Meresapi Puisi-Puisi Goenawan Mohamad dengan Metafora Alam yang Memikat
*****

Waktu Merah

 

Ini serupa teka teki yang terus kau cari jawabannya.
malam datang lebih awal.
pagi tiba lebih lama.
pohon-pohon lupa serap air di mana.

Kiriman beras dari kampung perlahan punah.
sawah, kata ayah, mulai suka ngambek.
iri pada sawah kota yang jelma lebih cantik.
penuh lampu-lampu, dan tentu saja desah.

Ada sepasang kekasih, lepas dahaga di bibir kekasihnya,
di bawah pohon pada sebuah kampus.
cuaca sedang merah barangkali saat itu.
atau perut sedang lapar, beras tak kunjung datang dari kampung.
sepasang kekasih saling menyumbang napas.

Teka-teki sedang tumbuh, berpetak-petak di kepala gantikan petakan sawah.
burung pipit hijrah ke dalam celana.
jerami-jerami tumbuh di ketiak.

Tatapan enggan berkedip, matahari merangkak ke barat.
malam turun, sepasang kekasih itu berjalan pulang dari kampus.
waktu sedang merah.

Mereka sedang mencari butiran beras di tubuh masing-masing,
di atas sawah yang tak lagi berlumpur. tanah telah mengeras.

Rumah kekasih, 21 Feb 2017

KLIK INI:  Kencani Rindu