Sudah Seharusnya Perubahan Iklim Membuat Kita Khawatir

oleh -324 kali dilihat
Pandemi, Perubahan Iklm dan Pentingnya Ketahanan Pangan yang Adaptif
Ilustrasi perubahan iklim/foto/-Cloudpro
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat –dan mengingatkan- jika seminggu ke depan beberapa wilayah di Indonesia akan mengalami cuaca panas yang ekstrim. Makassar termasuk di dalamnya.

Beberapa hari lalu, suhu di Makassar mencapai rekor terpanas sepanjang sejarah di luar efek El Nino. Suhunya mencapai 38,2 derajat Celcius. Hal ini disebabkan intensitas matahari mencapai pada titik maksimum. Lengkaplah sudah. Makassar yang panas, penuh debu, udara yang kotor, dan macet yang makin hari makin parah.

Sementara itu, tahun lalu, saya mengalami cuaca terdingin sepanjang sejarah ketika masih studi di Illinois, Amerika Serikat. Suhu udara mencapai -29 derajat Celcius.

Ini suhu yang tertulis di angka pengukur suhu, namun suhu yang terasa bisa mencapai lebih -40 derajat Celcius. Kampus, sekolah, dan kantor diliburkan.

KLIK INI:  Lancipan Maros, Teknologi Pertama Manusia Prasejarah

Sungai-sungai di Chicago membeku. Rel kereta api sampai harus dibakar agar bisa berfungsi. Beberapa orang meninggal karena suhu dingin ekstrim ini.

Dua fenomena alam di atas adalah contoh dampak perubahan iklim ‘climate change’. Beberapa waktu terakhir dampak perubahan iklim ini begitu terus. Tak terhitung musibah alam terjadi. Beberapa di antaranya terjadi di Indonesia.

Dampak psikologis

Tentu saja, musibah alam tersebut berdampak pada psikologi manusia. Musibah alam seperti tsunami, gempa bumi, longsor dan seterusnya tidak hanya menimbulkan kerusakan material, tetapi juga jiwa.

Tak terhitung begitu banyak orang kehilangan keluarga, terpisah dari keluarga, dan beberapa dampak psikologis lainnya.

KLIK INI:  Mengejutkan, Penerbangan Bakal Ditinggalkan Demi Lingkungan?

Perubahan iklim ini berpengaruh pada mental berupa stres, depresi, dan trauma. Dampak ini terutama akan terasa sekali bagi mereka yang secara ekonomi lemah dan juga bagi mereka yang sudah tua.

Mereka harus bergerak ke sana sini. Bersyukur jika bantuan cukup mumpuni. Walau begitu, tidak hanya mereka pada posisi ini yang khawatir. Mereka yang berkecukupan pun tak lepas dari dampak psikologis yang ditimbulkan perubahan iklim.

Profesor piskologi Susan Clayton dari The College of Wooster menyebut jika kemampuan memproses informasi dan kemampuan membuat keputusan tanpa distraksi dari gangguan emosional ekstrim dapat dipengaruhi oleh ancaman perubahan iklim.

Semoga perubahan iklim ini yang secara sadar atau tidak berpengaruh pada psikologis membuat kita lebih sadar pada lingkungan. Jika bukan kita, lalu siapa lagi bukan?

Apalagi jika Anda punya anak dan cucu atau berencana punya anak, tentu ke depan akan merasakan lebih parah dampak dari perubahan iklim yang semakin terkendali.

KLIK INI:  KLHK Serahkan Bantuan Logistik Korban Banjir di Bogor