Sindikat Perdagangan Burung Dilindungi Diringkus di Batam

Publish by -95 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Sindikat Perdagangan Burung Dilindungi Diringkus di Batam

Klikhijau.com – Ditjen Gakkum LHK bersama BKSDA Jambi, Balai Besar KSDA Riau KLHK dan Polres Tanjung Jabung Timur melakukan operasi pengamanan jaringan peredaran burung dilindungi di Batam, Kepulauan Riau.

Operasi tersebut dimulai dari tertangkapnya pelaku jual beli satwa yang dilindungi berupa 13 ekor kakaktua hidup. 11 opsetan burung cenderawasih dan 1 ekor monyet emas di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.

Hasil pengembangan diketahui bahwa pelaku di Jambi dengan inisial E, menjual satwa ke jaringan pelaku di Batam dan Malaysia.

Atas dasar tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan memerintahkan Tim Operasi dari Ditjen Gakkum LHK bersama dengan Balai KSDA Jambi. Polres Tanjung Jabung Timur yang didukung Balai Besar KSDA Riau untuk melakukan operasi penangkapan jaringan perdagangan satwa dilindungi di wilayah Batam.

Pelaksanaan operasi diawali dengan penangkapan seseorang berinisial B yang biasa menjemput satwa yang diperdagangkan oleh E (pelaku Jambi) di Pelabuhan Rakyat Pungur.

Hasil pengumpulan bahan keterangan terhadap B, menyebutkan bahwa pelaku bertugas untuk menjemput satwa dan diperintahkan oleh bosnya yaitu T.

Berdasarkan pengembangan telah diperiksa/dimintai keterangan 4 orang dan selanjutnya pelaku di Jambi juga biasa menjual satwa ke W yang berada di Batam.

KLIK INI:  Lebah yang Paling Dicari di Dunia Ditemukan di Kepulauan Maluku

Di kediaman W ditemukan 30 ekor Burung hidup. Terdiri dari 4 ekor burung Kakaktua Jambu Kuning, 6 ekor Kakatua Jambul Jingga, 5 ekor Kakatua Jambul Putih. Ada juga 4 ekor Bayan, 10 ekor burung Nuri Papua dan 1 ekor Kakaktua Raja di halaman rumahnya.

Tim langsung mengamankan pemilik burung W ke Mapolsek Batu Ampat untuk dimintai keterangan. Dan terhadap 30 ekor burung dibawa ke Kantor Seksi Wilayah Batam Balai Besar KSDA Riau untuk dilakukan pengaman sementara.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iriyono, menyatakan bahwa keberhasilan ini dari hasil pengembangan kasus. Juga hasil dari operasi intelijen yang kuat dari Ditjen Gakkum LHK, Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan Kepolisian.

Operasi pengamanan peredaran ilegal satwa dilindungi akan terus dilakukan untuk mengungkap jaringan mulai dari daerah asal satwa sampai ke tempat tujuan perdagangan.

Sustyo selanjutnya menyampaikan bahwa dari hasil investigasi Ditjen Gakkum LHK perdagangan ini juga melibatkan pelaku di Malaysia. Ini merupakan jaringan internasional.

“Kami telah mengembangkan kerjasama dengan INTERPOL. Baru minggu kemarin Tim kami ke Malaysia untuk berkoordinasi dan berkerjasama dengan Otoritas Malaysia terkait kasus­-kasus penyelundupan satwa liar. Kami akan ungkap semua pelaku dan jaringannya”, tutur Sustyo.

KLIK INI:  Respons Rilis KLHK, Masyarakat Ruteng Gencar Perangi Sampah

Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Eduard Hutapea, menambahkan bahwa untuk jaringan T yang merupakan pengembangan dari kasus Jambi akan dilanjutkan penanganannya oleh Polres Tanjung Jabung Timur.

Sedangkan untuk jaringan W akan dilakukan penyelidikan dan penyidikan oleh PPNS KLHK. Dan akan diusut tuntas sampai ke jaringan pelaku lainnya.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum LHK, Rasio Ridho Sani, menegaskan bahwa upaya ini merupakan komitmen Kementerian LHK dalam aksi penyelamatan SDA termasuk Sumber Daya Hayati.

Lebih lanjut Rasio Ridho Sani menyampaikan bahwa kejahatan perdagangan ilegal satwa dilindungi merupakan kejahatan yang luar biasa. Selain merugikan negara dari kehilangan potensi Sumber Daya Hayati, kejahatan tersebut melibatkan jaringan internasional.

“Kejahatan ini sangat luar biasa, seperti kejahatan Narkoba dengan sel-sel jaringan yang terputus-putus. Tntuk itu kami terus menguatkan intelijen serta kerjasama dengan para pihak. Baik di level nasional maupun internasional untuk mengungkap kejahatan ini”, kata Rasio Ridho Sani.

KLIK INI:  Teologi Ekoligis dan Persaudaraan Berbasis Semesta
Editor: Irhyl R Makkatutu

KLIK Pilihan!