Siarkan Keindahan Alam Lewat Media Sosial, Kenapa Tidak?

oleh -98 kali dilihat
Siarkan Keindahan Alam Lewat Media Sosial, Kenapa Tidak
Salah satu sudut panorama alam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Paduan sungai, petak sawah warga, dan tunggak karst yang memagar. - Foto/Taufiq Ismail
Taufiq Ismail

Klikhijau.com – Keindahan alam memang amat menarik dibagikan melalui media sosial. Ini satu strategi komunikasi yang menginspirasi banyak orang. Sobat Hijau pernah dengar strategi komunikasi? Jika belum pernah, saya coba jabarkan sedikit ya.

Menurut beberapa pakar komunikasi, strategi komunikasi mengandung makna: taktik yang digunakan dalam menjalankan komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Ada perencanaan dan manajemen di sana.

Kemarin, tepatnya Rabu (10/2), saya berkesempatan mengikuti pertemuan virtual tentang evaluasi pelatihan yang pernah saya ikuti. Pelatihan Strategi Komunikasi untuk Promosi dan Pemasaran Jasa Lingkungan Wisata Alam di Kawasan Konservasi adalah nama pelatihannya.

Pelatihan ini telah berlangsung beberapa bulan lalu. Pelatihan yang berlangsung selama sepuluh hari kerja mulai dari tanggal 3 s.d 13 November 2020.

Teknik pelatihan menggunakan metode jarak jauh, elearning. Pusat pendidikan dan Pelatihan SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Pusdiklat SDM LHK) adalah pelaksananya. Pusdiklat SDM LHK telah menetapkan sistem pembelajaran daring selama masa pagebluk. Metodenya, gabungan antara belajar melalui website dan aplikasi pertemuan virtual, Zoom Meeting.

Upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia kehutanan ini berlangsung atas kerjasama antara Ditjen KSDAE, USAID BIJAK, dan Pusdiklat SDM LHK.

KLIK INI:  Menyatukan Semangat Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan
Pengalaman dari pelatihan virtual

Pelatihan ini bagi saya tidaklah mudah. Tak seperti kebanyakan seminar daring yang hanya berlangsung beberapa jam. Mengapa? Karena pelatihan ini mengkombinasikan pemberian materi dan tugas. Materi diterima peserta pelatihan melalui web seminar. Setelah itu tugas yang relevan harus dikerjakan pada website khusus milik Pusdiklat SDM LHK.

Pembelajaran virtual yang memungkin juga menggunakan telepon pintar.

Tentunya pemberian tugas sudah barang tentu juga memiliki batas waktu pengumpulan. Karena peserta wajib meluangkan waktu semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya.

Jadi, telah tersusun sistem sistematis untuk mencapai target setiap pelatihan di Pusdiklat SDM LHK termasuk pada balai diklat LHK lainnya.

Beberapa peserta pelatihan tertantang selama mengikuti pelatihan. “Kurang waktu berleha-leha. Kita dituntut terus aktif belajar. Mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 4.00 WIB. Tak hanya itu tugasnya pun melimpah,” ujar Eko Wahyu Handoyo, salah satu peserta asal Balai Taman Nasional Bunaken.

Perbedaan waktu juga membuat teman-teman yang berada di wilayah Sulawesi dan Papua sedikit repot. Harus menyelesaikan tugas hingga hampir larut setiap harinya.

Materi pelajaran yang menarik membuat peserta antusias belajar. Belum lagi para praktisi menjadi narasumber. Menjadikan peserta mudah memahami pelajaran.

KLIK INI:  Apakah Masjid di Sekitar Rumah Anda, Ramah Lingkungan?

Tak hanya itu praktek dan evaluasi pembelajaran memudahkan peserta menerima ilmu baru.

Pada akhirnya 40 peserta telah mampu menyelesaikan pelatihan selama sepuluh hari itu. Peserta berasal dari unit pelaksana teknis balai taman nasional, balai konservasi sumber daya alam, balai diklat LHK, widyaiswara Pusdiklat, hingga staf Direktorat PJLHK. Peserta tersebar mulai Sumatera hingga Papua.

Evaluasi

Setelah beberapa bulan berlalu. Ditjen KSDAE bekerjasama dengan USAID BIJAK dan Pusdiklat SDM LHK melakukan evaluasi pasca pelaksanaan pelatihan. Rencana aksi menjadi fokus evaluasi. Peserta telah menyusun rencana aksi strategi komunikasi saat pelatihan berlangsung.

Mengevaluasi progres penerapan pasca pelatihan. Evaluasi peserta kemudian berfokus pada sepuluh peserta pilihan. Surat rencana evaluasi pun dilayangkan Ditjen KSDAE melalui Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK). Meminta sepuluh peserta terpilih menyusun bahan presentasi untuk pemaparan pada tanggal 10 s.d 11 Februari 2021.

Peserta terpilih berasal dari  Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Balai Besar KSDA Papua Barat, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Balai Taman Nasional Bunaken, dan Balai Besar Bromo Tengger Semeru.

KLIK INI:  Hujan Es, Peristiwa yang Lazim di Musim Pancaroba?

Saya mewakili Balai Taman Nasional Bantiurung Bulusaraung. Kelima peserta pertama melakukan presentasi pada tanggal 10 Februari 2021.

Lima lainnya berasal dari Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Balai Taman Nasional Bali Barat, Balai Besar KSDA Sumatra Utara, Balai Taman Nasional Gunung Palung, dan Balai Taman Nasional Bukit Dua Belas.

Mereka melakukan presentasi progres rencana aksinya pada tanggal 11 Februari 2021.

Pertemuan daring pada Rabu (10/2), berlangsung melalui aplikasi virtual. Peserta yang hadir mencapai 26 orang. Sedikit ramai karena setiap peserta hadir bersama seorang mentor. Mentor umumnya kepala unit pelaksana teknis (UPT). Saya sendiri dimentori kepala balai taman nasional saya.

Hadir juga beberapa pemateri, widyaiswara dan panitia Pusdiklat SDM LHK, USAID BIJAK, dan PJLHK.

Pertemuan dalam jaringan hari itu dimulai dengan sambutan. Kemudian berlanjut dengan materi kesetaraan gender. Chitra Hariyadi, pembawa materi dari USAID BIJAK, mencerahkan tentang stereotip gender.

KLIK INI:  Whatsapp Bisa Tingkatkan Kesehatan Mental dan Jauhkan dari Kesepian?
Pengalaman peserta

Sesi selanjutnya adalah paparan lima peserta pelatihan. Kelima peserta memaparkan progres pencapaian rencana aksinya. Materi mereka sajikan dengan power point yang menarik. Tak hanya itu penjelasan setiap materi pun sangat jelas dan detail.

Pengajar yang berasal dari praktisi pun menanggapi. Novianto Bambang, Widyaiswara Pudiklat SDM LHK, menjadi moderator. Menjadi pengatur jalannya diskusi.

Adalah Hasudungan Sirait, pengajar materi komunikasi, menggantikan Feby Siahaan karena berhalangan hadir. Has,  sapaan akrabnya kemudian mulai mengenalkan diri. Menceritakan perjalanannya menjejaki beberapa taman nasional di nusantara. Taman Nasional Bunaken dan Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat adalah beberapa di antaranya.

Menurut Has, komunikasi itu adalah bagaimana menyampaikan pesan. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa prinsip menyampaikan pesan itu mengandung prinsip 5W1H. “Paling tidak mengandung 3W. What, Who, dan Why.”

Ia kemudian menjelaskan satu per satu. What, berarti apa yang akan kita sampaikan ajakan, bantahan ataukah koreksi. Who, berarti siapa yang berbicara dan siapakah yang diajak bicara. Sedangkan Why, mengandung makna: mengapa perlu berpesan? Apa tujuannya?

“Komunikasi paling efektif adalah komunikasi tatap muka,” tambahnya. Jika tidak bisa bertemu ada media yang bisa mewadahi. Media berupa media massa dan media elektronik.

“Intinya manfaatkan semua media yang bisa kita gunakan untuk mencapai tujuan yang kita harapkan. Untuk penyampaian pesan baiknya menggunakan bahasa bertutur, story telling,” tutup bahasan Has sementara.

KLIK INI:  Viral, Foto Pembungkus Indomie Bertuliskan 55 Tahun Indonesia yang Mencemaskan Netizen

Andi Muhyiddin, salah satu pengajar bidang kreasi konten, kemudian memberi tanggapan. Dio, sapaan akrabnya, kemudian berfokus ke media sosial UPT pemapar.

“Saya melihat unggahan teman-teman pengelola taman nasional dan kawasan konservasi lainnya sudah menarik. Hanya kadang masih direcoki dengan kegiatan formal. Rapat, ucapan hari tertentu, dan lainnya.”

Peran sosial media

Dio berharap admin media sosial bisa berfokus untuk menyiarkan keindahan alam kawasan konservasi. Tentunya juga berdasarkan visi yang ingin dicapai. Misalnya juga memberikan edukasi lingkungan bagi khalayak. Termasuk mengajak mereka untuk turut menjaga hutan dan lingkungan sekitar.

“Untuk eksistensi media sosial perlu merancang time line media sosial. Membuat jadwal tayang. Biar bisa konsisten membuat unggahan,” tambahnya.

Ia lalu memberi komentar tentang konten Youtube UPT. Dio telah memantau sebelumnya. “Youtube teman-teman belum maksimal. Perlu lebih kreatif lagi membuat konten. Baiknya buat thumbnail video yang menarik. Ringkas saja, cukup empat kata misalnya. Penonton biasanya kurang suka baca deskripsi panjang.”

KLIK INI:  Perihal 2 Ekor Burung Penyebab Warga Padang Pariaman Terjerat Hukum

Untuk Instagram, Dio juga berharap agar admin medsos bisa mengoptimalkan story. “Kita bisa buat story telling melalui gambar bercerita. Kita bisa buat seri foto dengan caption pada masing-masing foto.”

Tak hanya itu Dio juga berharap media sosial pengelola kawasan konservasi juga memanfaatkan konten dengan menggunakan poster. Membuat poster dengan jeli memadukan gambar, warna, huruf, dan pesan.

Bagaimana dengan foto pada konten Instagram? Menurut Dio, harus menggunakan foto beresolusi tinggi. “Jangan sekali-kali menggunakan screen capture. Fotonya jadi kurang menarik.”

“Penggunaan watermark pada foto baiknya kecil saja. Biar tidak mengganggu ekstetika foto,” tambah Dio.

“Yang paling utama dalam media sosial adalah keterlibatan audience. Jumlah followers bukan segalanya. Keterlibatan yang utama,” terang Dio.

Dio juga berharap agar admin medsos bisa mengubah akunnya menjadi akun bisnis. Karena fasilitas ini gratis.”Dengan akun bisnis kita bisa melihat analisisnya.”

Menurut Dio, profil akun Instagram juga perlu mendapat perhatian. Perlu mendapat perhatian lebih. Termasuk juga menautkan dengan media sosial lain UPT. Memudahkan pengunjung untuk berselancar. Mencari lebih banyak informasi yang ingin mereka dapatkan.

Bagaimana dengan influenser? Menurut salah satu kreator konten Kumparan.com ini, hal tersebut tak selalu efektif. “Lebih baik memaksimalkan peralatan pendukung untuk membuat konten yang menarik. Tentunya juga memaksimalkan kemampuan admin untuk membuat konten menarik.”

KLIK INI:  Perang Narasi di Balik Banjir Berulang dan Pentingnya Data Lingkungan

Adi Susmianto, Widyaiswara Pusdiklat SDM LHK, kemudian juga memberi tanggapan. “Saya senang dengan paparan teman dari Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Ada keterlibatan masyarakat dalam tata kelola taman nasional. Ini sangat menarik,” ujarnya.

Susmianto juga menanggapi presentasi saya. “Prinsip utama sanctuary adalah konservasi. Karenanya perlu memilih khalayak target yang sesuai. Pelajar atau mahasiswa misalnya.”

“Jika memang tujuannya wisata. Bisa diarahkan ke ninght hunting. Karena kan Tarsius aktifnya malam. Jadi bisa mengamati Tarsius fuscus di habitatnya. Itu lebih menarik,” tambah Susmianto.

Saya mengenalkan Sanctuary Tarsius fuscus pada materi paparan saya.

Has kembali memberikan tanggapan. “Saya melihat medsos ini kadang-kadang tidak anggap penting oleh UPT. Ini perlu ada intervensi dari pimpinan yang lebih tinggi.”

Penulisan caption tak kalah pentingnya pada akun media sosial. “Saran saya, teruslah belajar menulis dengan menulis. Karena hanya latihanlah yang membuat kita akan lebih baik. Tentunya banyak membaca dan bergaul. Bisa juga coba-coba berbagai gaya menulis untuk mengasah kemampuan,” ujar Has, yang juga berprofesi sebagai Jurnalis-Penulis-Trainer.

Hingga tak terasa tibalah di penghujung pertemuan daring ini. Susanti, Kepala Seksi Pemasaran pada Direktorat PJLHK, kemudian menutup pertemuan hari itu.

Susanti menghaturkan banyak terima kasih kepada peserta dan pengajar. Berharap sesi berbagi virtual tersebut mendatangkan manfaat.

KLIK INI:  Perspektif Alam dalam Novel Ayu Utami: Apakah Keindahan Perlu Dinamai?