Si Mungil Capung dan 5 Fakta Mengejutkan Tentangnya

Publish by -22 kali dilihat
Penulis: Redaksi
Capung dengan perut gembung (dari family Gomphidae)/Foto-Kaskus

Klikhijau.com – Capung, si mungil dengan sayap kecil namun lincah. Menggemaskan! Pada artikel sebelumnya, telah diperkenalkan detail tentang habitat capung dan filosofi hidupnya yang menarik. Kali ini, kita menyimak beberapa fakta menarik tentang capung lebih spesifik lagi.

Dikutip dari buku “Naga Terbang Wendit” yang ditulis Wahyu Sigit Rhd dkk (2013), Indonesia memiliki kekayaan spesies capung mencapai lebih kurang 900 jenis. Atau sekitar 15 persen dari 5680 spesies yang ada di dunia.

Faktanya, kita adalah negara dengan peneliti capung sangat sedikit. Hal ini menyebabkan, informasi akademis dan penelitian soal capung sangatlah terbatas pula. Sahabat Klikhijau, berikut ini ada 5 fakta penting seputar capung yang menarik diketahui.

Serangga terbang pertama di dunia

Dikutip dari buku “Naga Terbang Wendit”, capung (Ordo Odonota) merupakan serangga terbang pertama yang ada di dunia. Kabarnya, capung muncul sejak zaman Karbon (360-290 juta ratus tahun yang lalu) dan masih bertahan sampai sekarang.

KLIK INI:  Diselamatkan dari Kepunahan, Otak Anak Burung Beo Kakapo Dioperasi
Anatomi tubuh capung

Walau mungil, tubuh capung terdiri dari suatu komposisi yang lengkap. Tubuh capung terdiri dari kepala, toraks (dada) dan abdomen (perut) serta enam tungkai. Abdomennya terdiri dari 9 sampai 10 ruas serta embelan (appendages). Oya, mata capung terdiri dari beribu lensa yang disebut dengan mata majemuk.

Jumlah Spesies dan habitatnya

Anda akan lebih sering menjumpai habitat capung di desa. Sebab di sana ada pegunungan, sungai, rawa, danau, sawah dan pantai. Anak-anak di desa, seringkali menjadikan capung sebagai teman bermain, yakni sebagai sarana berburu. Tercatat ada 5000 lebih spesies capung di dunia, 700 diantaranya ada di Indonesia.

Perkawinannya yang unik

Apakah Anda pernah melihat sepasang capung dalam posisi tandem, yaitu saat capung jantan mengaitkan ujung abdomennya ke leher betina. Untuk diketahui, posisi ini terjadi sebelum kawin dan saat proses peletakan telur.

Setelah kopulasi, capung bertelur di dalam air atau disisipkan pada tanaman air, kemudian metetas menjadi larva yang disebut nimfa. Seekor nimfa lalu dapat hidup di dalam air selama beberapa bulan hingga tahun dan sensitif terhadap kondisi air yang tercemar.

KLIK INI:  Melepasliarkan Satwa Tak Bisa Sembarangan, Ini Syaratnya!
Selain Sayapnya yang khas, capung indikator pencemaran air

Sayap capung nampak tipis dan rawan sobek. Capung memiliki dua pasang sayapnya dengan venasi yang memiliki pola khas setiap spesies. Selain sayapnya yang otentik, capung adalah pembawa pesan tentang kelestarian lingkungan.

Ini sangat mengejutkan, capung rupanya adalah bioindikator pencemaran air. Artinya, bila di sekitar Anda masih banyak capung itu berarti kondisi air di sana masih membaik.

Tetapi, bila sebaliknya, tak ada lagi capung beterbangan, itu pertanda buruk bagi kondisi lingkungan. Kondisi air yang baik atau tidak dapat diketahui dari keberadaan nimfa di suatu perairan.

KLIK INI:  Cethosia myrina, Kupu-kupu Sayap Renda yang Semakin Langka
Editor: Anis Kurniawan
Sumber: Naga Wendit Terbang karya Wahyu Sigit Rdh, dkk. Dragonfly society. (2013)

KLIK Pilihan!