Sexy Killers, Sengkarut Eksploitasi Batu Bara dan Lingkaran Setan Oligarki

oleh -561 kali dilihat
Sexy Killers, Sengkarut Eksploitasi Batu Bara dan Lingkaran Setan Oligarki
Foto-VoxNtt.com
Irhyl R Makkatutu

Semua berawal dari ledakan dari dalam tanah. Boom!

Klikhijau.com – Demikian kira-kira awalan film Sexy Killers yang memperlihatkan ledakan di sekitar lokasi tambang.

Namun, sebelum membahas film Sexy Killers lebih jauh, alangkah baiknya jika kita mengenal watchdoc documentary terlebih dahulu. Sebuah Rumah Produksi Film dokumenter yang kritis, investigatif dan memberikan banyak perspektif dalam mengungkap persoalan dari berbagai sudut pandang besutan Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Suparta.

Sepanjang tahun 2015, Watchdoc telah melakukan perjalanan satu tahun keliling Indonesia, mendokumentasikan hal-hal menarik.

Perjalanan tersebut diberi nama Ekspedisi Indonesia Biru yang terinspirasi dari gagasan Gunter Pauli terkait ekonomi biru.

KLIK INI:  Terbayang, Sampah Kampanye Kira-Kira Akan Meluber ke Mana?

Pertama kali diperkenalkan pada tahun 2010 “The Blue Economy: 10 Years–100 Innovations–100 Million Jobs”. Ekonomi biru menerapkan logika ekosistem, yaitu ekosistem selalu bekerja menuju tingkat efisiensi lebih tinggi untuk mengalirkan nutrien.

Dan energi tanpa limbah untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi semua kontributor dalam suatu sistem.

Ekonomi biru menitikberatkan pada inovasi dan kreativitas yang meliputi variasi produk, efisiensi sistem produksi, dan penataan sistem manajemen sumber daya.

Ada sekitar 80 lebih karyanya yang bisa diakses di kanal youtube Watchdoc Image, atau Ekspedisi Indonesia Biru.

Era digital sekarang ini kita bukan hanya dituntut memiliki data, tapi bagaimana gerakan perlawanan itu muncul di barisan masyarakat paling bawah.

Sexy Killers, film dokumenter terbaru rumah produksi Watchdoc dengan apik menarasikan bagaimana sumber energi itu menjadi pembunuh bagi warga, terutama kelompok miskin dan perdesaan.

Mungkin kita akan terlena jika melihat rumah kita sudah dilengkapi penerangan yang memadai sehingga tak takut lagi gelap, atau listrik mati.

Namun di balik itu semua, terdapat sisi bagaimana para perusahaan yang didirikan tersebut justru menimbulkan kerusakan lingkungan di darat dan di laut akibat limbah sisa pembakaran.

Selain itu, menyebabkan terganggunya kesehatan warga–terutama sakit pernapasan yang diperburuk tidak adanya pemantauan mengenai dampak kesehatan.

Persoalan yang paling serius diungkap dalam film ini pada dasarnya bukan  saja kritik terhadap elite, tapi bagaimana bangsa ini bisa membangun energi alternatif yang tidak merusak lingkungan hidup.

Ada apa dengan batu bara?

Sexy Killers mengungkap ada sekitar 3500 lubang Bekas Tambang di Kalimantan. Dalam undangan Komisi VII DPR RI, ada 290 korporat yang tidak memberi jaminan lingkungannya dengan baik.

Tambang ini kemudian menyisakan kubangan air di tengah hutan dan menelan banyak korban. Sepanjang 2018, sudah 32 orang meninggal dan mayoritas anak-anak. Kubangan raksasa ini bahkan ada pada posisi tepat di belakang sekolah dasar dengan hanya sebagaian ditutup pagar seng. Di Indonesia sendiri ada delapan juta lubang bekas tambang yang belum direklamasi.

Sebagai contoh, penambangan Batu Bara di Sanga-Sanga Kalimantan, lima rumah ambles dan sebelas rumah rusak. Peraturan jarak tambang dengan pemukiman setidaknya 500 meter, faktanya di Kutai Kartanegara tidak demikian. Rumah-rumah warga retak, pintu dan jendela tidak bisa ditutup karena tanah bergeser.

Desa yang dibangun dari transmigran Jawa berjumlah 3000 jiwa, sekarang banyak yang pergi setelah ada penambangan batu bara. Keinginan warga berakhir tanpa pilihan, semua lahan ingin dibebaskan, padahal Tahun 1991 desa ini diputuskan sebagai desa lumbung padi.

Di lain tempat, tongkang batubara hilir mudik melewati Karimun Jawa dan merusak terumbu karang akibat jangkarnya. Kapal Tongkang ini mamasok batu bara ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Bahkan PLTU juga sedang dibangun di Batang, Jawa Tengah, dan dinyatakan sebagai PLTU terbesar se-Asia Tenggara. PLTU ini dibangun dengan kapasitas 2000 watt.

Dengan konsumsi batu bara 600 ribu ton atau 2 sampai 3 tongkang per hari. Bahkan dua warga yang menolak menjual tanahnya mengalami kriminalisasi di delik telah melakukan kekerasan.

KLIK INI:  Trashed dan 4 Film Lainnya akan Ubah Sikap Cuek pada Lingkungan Jadi Cinta

Di Palu, PLTU Panau dampaknya sangat serius. Warga menderita alergi debu dan sakit paru-paru. Ada lebih 20 korban yang sebagian sudah meninggal.

Masih banyak lagi penggambaran menyoal batu bara yang dipaparkan watchdoc dalam film sexy killers. Hal ini seakan membuka mata kita untuk menyadari jawaban atas satu pertanyaan (yang sebetulnya) mendasar: siapakah pemilik saham batu bara yang bercokol di negeri ini?

Oligarki negeri ini

Siapakah pemilik perusahaan tambang batu bara di negeri ini dan telah merenggut banyak korban?

Secara singkatnya, di kubu Jokowi-Amin, ada nama terkait langsung dengan bisnis tambang dan energi yakni Luhut Binsar Pandjaitan, Fachrul Razi, dan Suadi Marasambessy. Mereka tergabung dalam tim Bravo 5.

Selain mereka ada nama lain seperti Hary Tanoesoedibjo, Surya Paloh, Sakti Wahyu Trenggono, Jusuf Kalla, Andi Syamsuddin Arsyad, dan Oesman Sapta Oedang. Di kubu Prabowo-Uno, lebih gamblang lagi. Prabowo dan Sandiaga Uno sendiri merupakan pemain lama sektor tambang dan energi. Ada juga Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, Maher Al Gadrie, Hashim Djojohadikusumo, Sudirman Said, Ferry Mursydan Baldan dan Zulkifli Hasan.

Yang menarik PT Saratoga Investama milik Sandiaga Uno, telah melepas sebagian sahamnya sebesar 130 miliar ke Perusahaan PT Toba Bara milik Luhut Binsar Panjaitan. PT Toba Bara memiliki 50 lubang tambang sehingga total kepemilikan tambang batu bara  Luhut Binsar Panjaitan berjumlah 14 ribu hektar.

PT Toba Bara pada akhirnya memiliki usaha dari hulu ke hilir dari tambang batu bara sampai pada pemilik Saham PLTU di beberapa daerah.

Grup Toba Sejahtera terbagi ke dalam 6 anak usaha yang terdiri dari Toba Coal and Mining, Toba Oil and Gas, Toba Power, Toba Perkebunan dan Kehutanan, Toba Industri dan Toba Property and Infrastructure. Anak usaha tersebut terbagi lagi menjadi 16 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor.

Skema lengkapnya bisa ditonton di film Sexy Killers yang menyuguhkan alur bagan dengan jelas. Siapa berhubungan dengan siapa, atau bekerjasama dengan siapa meskipun di panggung politik mereka seolah menawarkan diferensiasi dan jargon-jargon kerakyatan.

Film ini memberikan data yang jelas sebuah oligarki. Oligarki adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok kecil elite dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer.

Kekuasaan kepentingan masih membudaya di kalangan figur politik

Menurut Jeffrey Winters, direktur Pengembangan Kesetaraan dan Studi Globalisasi Northwestern University, Amerika Serikat, mengatakan, dinamika politik pemerintah Indonesia hingga kini masih dikuasai para oligark (elite) dengan kepentingan kekuasaan.

Winters menyatakan selepas era Orde Baru hingga memasuki masa reformasi, belum ada pola perubahan sistem pemerintahan yang mendasar. Di mana kekuasaan berbasis kepentingan masih membudaya dan terpelihara di kalangan figur politik.

Kontestasi Pilpres 2019 adalah drama kaum oligarki yang memberikan kerusakan-kerusakan baru di tengah masyarakat. Alih-alih membawa visi yang pro rakyat dan lingkungan dan akan terealisasi jika terpilih nanti, hal yang sebaliknya justru terjadi.

Kenyataannya, perusahaan mereka telah banyak menelan korban nyawa dan kerusakan ekosistem lingkungan hidup. Selain sudah berhasil membelah masyarakat menjadi golongan yang menghamba pada perubahan semu.

Di tengah panggung debat dan kontestasi pilpres, seorang capres bisa saja dengan fasih bicara UUD 1945 Pasal 33 bahwa “bumi, air, tanah dan seluruh yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh negara dan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”.

Namun dia adalah bagian dari sedikit kaum oligarki yang menguasai berbagai sektor, penguasaan lahan kelapa sawit hingga tambang, pun tanah-tanah HGU.

Sebagai penutup, seyogianya kita harus memulai mengembangkan energi alternatif dan melawan bentuk oligarki meskipun pada tatanan masyarakat yang paling kecil. Jika tidak, siapa pun yang menang di kontestasi pemilihan umum nanti, selamanya rakyat akan kalah.

KLIK INI:  Antara Pemilih Tak Peduli Lingkungan dan Politikus yang Berpihak pada Cukong