Setangkai Bunga Surga

oleh -37 kali dilihat
Begini Arti Bunga Tulip yang Membuatnya Jadi Idola di Negeri Kincir Angin
Bunga tulip ungu - Foto/Pixabay
Nona Reni

Langit Soppeng bergaris kelabu dan merah muda aneh yang meluntur–sebelumnya tidak pernah kulihat.  Ataukah mungkin hawa dingin yang sangat tajam hari ini yang mendistorsi penglihatanku.

Aku meringkuk dalam selimut, sembari mengira-ngira hari ini hujan akan kembali lagi menyapa dan menyapu ingatanku tentangmu pun tentang kita.

Aku terlalu tidak menyukai hujan, apalagi saat dia datang berkunjung atap-atap rumahku yang lubang pasti tak mampu mencegatnya masuk dan membanjiri rumah peninggalan orang tuaku.

Begitu pula air got yang melimpah ruah ke jalan jalan  berlari-lari, kejar-kejara. Terasa banyak bau, bau yang kuanggap misterius dan malas, bau tubuh yang rahasia, yang sulit kubandingkan dengan parfum harajuku milikku.

KLIK INI:  Cerita Warga Berdaya dan Kota yang Anti Ketahanan Lingkungan

Sekarang Agustus, minggu pertama, minggu kemalasan yang tampak gelap pada latar belakang dirgahayu di bantaran kali Walenna’e.

***

Kutarik kerah jas lebih ke atas dan membelakangi angin, sudah lama sekali kami tidak di sini, ketika tiba-tiba pagi tadi dia memintaku menemuinya melalui pesan elektronik singkat. Sudah lama sekali sejak kami saling berhenti berbagi khayalan—ketakutan kami .

“Dari tadi? Maaf ya memanggilmu mendadak.

Seorang laki-laki memakai jas almamater universitas di kampungku ini, mengagetkan dari arah kemunculannya di balik semak-semak. Tempat ini memang jarang dikunjungi orang, kecuali mahasiswa-mahasiswi dan sekadar tenaga relawan.

Ya, tidak ada yang tertarik dan berminat membersihkan bantaran kali yang terkenal dengan buaya penunggu dan berbagai mitos lainnya.

Hanya beberapa aktivitas penambang pasir yang seakan bercerita akan pengerukan sungai yang menurutku sangat jauh dari sistem penambangan yang diizinkan pemerintah.

Sembari menutup kegelisahan dan kekagetan, kucoba melemparkan pandanganku jauh ke depan dan menjawab sekenanya, ” Baru saja , tak apa. ”

“Akhir-akhir ini kudengar kampungmu telah beberapa kali kebanjiran, apa benar seperti itu?” Terlihat jelas gurat-gurat keprihatinan dalam sorot matanya. Aku hanya mengangguk—mengiyakan, bahwa hampir tiap kali hujan di atas 3 jam akan membenamkan rumahku yang kumuh.

Lagi-lagi aku kembali mengingat peristiwa beberapa tahun silam, ketika saudara dan ibuku menjadi salah satu korban kekejaman banjir. Masa berkabung yang panjang di musim yang begitu becek.

Aku ingat perusahaan meubel yang seenaknya menebangi kayu-kayu hutan, para petani yang melakukan pembalakan liar, dan berpindah-pindah membuka lahan baru ketika lahan lama dianggap tidak lagi produktif.

Wajah-wajah perusuh yang kutemui hampir setiap saat ketika aku melintasi gunung, menjelajah—lintas alam. Wajah-wajah yang merusak keindahan hutanku yang dulu terkenal sangat hijau. Toh mereka tidak pula dapat dipersalahkan ditudingkan perkara pengrusakan karena memiliki izin yang meskipun diperoleh dengan sedikit curang.

Semua kurasa ingin hidup mewah,  jadi tuntunan perut dan dunia pula yang kadang mengorbankan pertiwi-pertiwiku— menjadi santapan empuk, dan kehilangan bentuk.

“Kau masih saja melamunkan hal yang  lewat,” katanya seperti bisa menebak kinerja otakku.

Aku memandanginya sekilas dan kembali memintir-mintir ujung jaket yang mulai tampak kusut. Ada banyak kenangan di sana . Dan yang pasti tidak seorang pun yang akan membantuku mengingatnya, kecuali akalku sendiri.

KLIK INI:  Lelaki Penjaga Kebun

“Ayo …. !” Dia menyeret tubuhku perlahan. Tak terasa dia membawaku ke tempat yang tidak ingin lagi kulihat. Tempat di mana kumpulan binatang menjijikkan berkumpul. Apalagi kalau bukan tempat pembuangan akhir sampah.

Kalau hujan, air-air itu akan mengalirkan dan mengapungkan plastik-plastik ringan ke arah pemukimanku.

“Jorok. Aku mau pulang!” kataku setengah membentak.

“Jangan, kau harus lihat ini dulu,” dipakainya sebuah masker— menutupi wajah dan hidungnya. Hidung yang seperti blasteran India-Indonesia.

“Bukankah ini dulu cita-citamu? Menjadi penggiat dan pemelihara alam. Meskipun tidak pernah dihargai pun diapresiasi secara baik oleh kalangan yang tak peka. Kaukan sudah mengerti hukum sekarang, tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Siapa lagi yang berhak bersuara jika bukan para generasi penerus? ”

Laki-laki ini memang sama sepertiku, pecinta alam—adalah rumah dan tempatnya pulang. Dia kadang kembali dari pendakian dengan membawakan beberapa bunga cantik, terakhir anggrek bulan. Seperti namaku , Anggraini.

Tapi itu dulu, sebelum aku merasa benar- benar kehilangan. Bagaimana tidak, ketika banjir besar melanda, aku dan kumpulan Mapala lain sedang berada di Luppereng Kajao,  mentadaburi alam, bermodalkan kompas berjalan kaki dari kecamatan Lalabata hingga kebendungan yang konon diresmikan Ir . Soeharto ini.

Dan ketika sampai di pelupuknya pintu, tangis dari mereka—kafan-kafan menyambutku yang terlihat begitu tolol.

“Tidak lagi, to alam pada akhirnya juga tidak lagi peduli padaku, hingga tumbalnya pun adalah keluargaku. Kenapa bukan dari mereka saja? Kau ingat botol-botol mineral yang sering kupunguti tercecer di mana – mana, hingga mendapat gelar pemulung? Tidak lagi!” Intonasiku meninggi, sembari meninggalkannya menuju sebuah tanah lapang.

KLIK INI:  Pembakar Kisah di Danniari

Aku memilih duduk dan bersandar pada batang pohon asam yang memang banyak tumbuh di sini, bahkan di kota-pinggiran jalan dipenuhi dengan batang asam yang di cat hitam putih batangnya-entah bertujuan untuk apa dan bagaimana mulanya. Kurasa hanya sebagai pemanis saja, tidak lebih.

“Baiklah, aku tahu kau menyuruhku berhenti dari kehidupan ini dan fokus untuk melamarmu. Tetapi, izinkan sekali ini saja aku kembali mendaki gunung  Bulu Bawakaraeng, gunung pertama yang kita daki bersama-sama di jalur selatan yang terkenal curam— dan memancangkan bendera merah putih di haribaannya, sembari berteriak, ” Allahu Akbar ! Sebagai tanda kemerdekaan dan menghormati jasa pahlawan.”

“Kau lebih sayang alam daripada aku. Jadi, lebih baik kau tidak meminta izin lagi; sudah berkali-kali aku mengatakan aku tidak ingin engkau menjadi sama seperti mereka yang fanatik. Berorasi, teriak, atau apalah. Basi! Sia-sia! ” Jawabanku ketus. Aku paling tidak ingin dia membantahku untuk yang terakhir ini.

“Aku janji lepas ini aku menurutimu, sayang. Izinkan aku dulu mencari sekuntum bunga, bunga yang belum pernah kupersembahkan padamu. Bunga langka, yang hanya bisa hidup dalam keremangan hutan tropis. Bunga terakhir untukmu,” katanya menyakinkanku.

Aku memang selalu menyukai bunga, bagiku di sanalah keindahan dari segala yang indah—tak terbahasakan. Dan aku tidak akan pernah bisa menolak hadiah bunga yang selalu dia bawakan di akhir episode keberhasilannya menaklukkan puncak tertinggi, menanam pohon dan memberi banyak slogan yang ditempel pada kayu ‘Cintailah bumi, seperti ummi, bukan umi’ yang berarti cintailah bumi seperti  cinta pada seorang Ibu—pertiwi—bukan sebagai orang bodoh (buta huruf ). Atau  ‘Satu pohon menghasilkan seribu korek api, dan satu korek api dapat memusnahkan seribu pohon.’

KLIK INI:  Sajadah Subuh di Akar Walenreng

“Baiklah ini yang terakhir! Temui aku lagi sepulangmu. Ingat terakhir, dan jaga kesehatan! Kau tahu akhir-akhir ini jalan pendakian agak kurangnya runyam—licin. Banyak pula yang tersesat karena kurang pengalaman,” kataku sedikit memperlihatkan senyuman yang menurutku rada tanggung untuk disebut senyuman.

Dan adzan Ashar mengakhri pertemuan, yang kurasa sayupnya menyelip dari hutan bambu, meskipun mungkin belukar lebih tepat untuk membahasakan bambu-rumpun-rumpun kecil yang memisahkan dua kampung, kampungku dan kampungnya.

“Mengapa aku berubah pikiran? ” gumamku setelah punggungnya tak lagi terlihat di tempatnya berdiri terakhir kali.

***

Dua minggu sudah keberadaannya tidak nampak berlalu lintas di sosial mediaku, kupikir sekarang pasti dia sedang tertidur pulas, seperti tindakanku satu-satunya saat kepulanganku dari mendaki. Biasalah, punggung-kaki akan merasa sangat nyaman di belai ranjang, setelah harus memasrahkan badan di atas batu yang sama sekali tidak menjanjikan sesuatu yang empuk.

Kuhampiri remot control televisi 21 inchi yang tergeletak di atas meja. Ada gerakan atau daya tarik yang memaksaku untuk melihat berita media massa hari ini. Semalam aku memimpikannya—lelakiku, Aryan Pratama. la datang memberiku sekuntum bunga yang belum ternamai – pun katanya belum pernah terjamah, bunga dari surga, yang kusimpan di guci jambangan bunga warna biru laut yang menempati meja belajarku.

KLIK INI:  Kahayya (kisah dalam kisah)

Namun ada yang aneh, mukanya terlihat pucat, ransel hitam yang sering dia punggungi pun tak lagi terlihat. Pakaiannya sedikit berantakan, mukanya ada noda tanah agak merah. Lelaki yang sangat dipenuhi perhatian dengan mata bulat—penuh dengan bulu mata dan alis makerrah ini terlihat sangat letih.

Tak ada lagi ucapan selamat dan kecupan hangat, bahkan sebutir air matanya sempat jatuh dan menetesi bunga yang dipersembahkannya. Harga mahal untuk sebuah bunga dan pertiwi-pertiwiku katanya, sebelum mimpiku tertebus oleh kokok ayam jantan subuh.

Namun alangkah kagetnya diriku, ketika menemui cuplikan berita pendakian– mahasiswa hilang tiga hari yang lalu. Ditemukan tanpa nyawa, hasil kesimpulan sementara kematiannya karena kedinginan– pecah pembuluh darah. Ada namanya, memasuki daftar orang hilang yang (belum ) ditemukan.

Lelakiku, yang datang semalam memberi bunga yang begitu harum, akankah itu panggilan untukku kembali mencintai alam? Meneruskan perjuangannya yang memegang teguh bendera merah putih dan slogan-slogannya?.

KLIK INI:  Tak Maukah Kau Menciumiku Sekali Saja?
***

Air mataku terburai— sendu. Setelahnya banyak ucapan masuk ke emailku mengucapkan belasungkawa dan menabahkan hatiku, ya aku melihat tulisan terakhir di dinding pribadinya. Sepenggal kalimat; pendakian terakhir menujuMu dan menujumu— kelak belum sampai cintaku padamu—pada kata ‘kita’, sisi-Nya tetaplah pula yang kau- kita tuju, menunggu sua. Senyumlah cinta, ini kubawakan bunga surga untukmu, sebagai kalkulasi kata dari segala rasa.

Watansoppeng , 19 Agustus 2015

Ket : Makerrah (alis yang tebal dan sangat hitam dengan bulu mata lentik). 

Cerpen ini termuat dalam buku Ketika Wisel Berbunyi dengan judul Kalkulasi Kata.

KLIK INI:  Rumah Peradaban
Kumcer Ketika Wisel Berbunyi karya Nona Reni