Setandus Apakah Bumi Sekarang?

oleh -20 kali dilihat
Mitigasi Iklim demi Generasi Mendatang tetap Bertahan Hidup
Ilustrasi - Foto/cocoparisienne - Pixabay
Nona Reni

Kursi Kayu di Ruang Tamu

 

Kursi dari batang nangka itu masih setia menunggui tamu di ruang tamu
Sejak kepala desa baru terpilih
Ruang tamu mulai sepi pengunjung
Tak ada lagi perundingan
Tak ada lagi perundungan

Tanah di halaman kembali sekeras beton
Tiada sesuatu akan bertumbuh, gulma sekalipun. Jadi, jangan menunggu
Kecuali pohon nangka yang telah berubah menjadi kursi dan meja
Menunggu tamu di ruang tamu

Tak ada lagi lelaki berjas dan berkopiah hitam
Yang membayangkan dirinya menjadi kepala desa
Membaca kalimat yang itu-itu terus—berulang-ulang

“Uang adalah kuasa”
Di laci meja tentu saja menyimpan rencana dan bencana,
Juga rahasia mimpi-mimpi yang hampa.

Kini, kursi kayu di ruang tamu berganti sofa
Dan pohon nangka menghilang
Di kebun kopi leluhur

Gerah menusuk dari empat mata arah

Juli 2022

KLIK INI:  Jadi Hujan di Peluk Sendiri

Setandus Apakah Bumi Sekarang?

 

Pagi-pagi sekali kau mengabarkan padaku tentang tujuhbelasan
dan cerita tentang rumpun bambu jelang Pilkades
Hingga melupakan jadwal kerja yang menguras seluruh pikiranmu.
Kau mengajakku menyusuri pematang menuju masa kecil yang kau biarkan pergi bertahun-tahun silam
Sambil berkata, berjalan kaki cocok dilakukan saat penghabisan musim hujan, ketika langit berhenti menangis memikirkan padi petani yang mulai hijau

Alam telah mengubah pikiranmu untuk tak lagi menjadi politikus
Tapi pada perayaan tujuh belas ketika kau diwajibkan menanam pagar bambu di halaman lengkap dengan cat berwarna-warni
Kau kembali seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk.

Aku membaca ketidakmampuanmu dalam mengeja bentuk bumi dan bulan
Meskipun bunga matahari sudah kau rekahkan di taman bacamu berkali-kali
Kau seperti terjebak dalam satu puisi yang berkali-kali dicampakkan ke tempat sampah
Bersanding dengan buku-buku tua, dan popok bekas anak kecil.

Pada saat-saat itu, sesungguhnya kurasa kita punya kesepian yang sama
Sebab berkali-kali kita hanya menemukan bunga-bunga tiruan di bagian yang tak mampu dirampungkan tualang.

Setandus itukah Bumi sekarang? Tanyamu.
Dan kau tak butuh jawabanku untuk mengerti semua itu

Juli 2022

KLIK INI:  Perempuan yang Berjalan di Gelombang

Hanya kepada Jembatan

 

Kita nyaris menghabiskan sisa usia di sekolah, bertahan untuk tak mencintai siapapun, kecuali dekap ibu bapak yang menunggu waktu panen cengkih datang lebih awal

Meski sendiri, kita selalu ingin mewarnai gerbang sekolah dengan perayaan-perayaan kecil yang membuat penontonnya melupakan pendidikan dan penderitaan
Ibu bapak guru menyanyikan Indonesia raya, dan kita akan asyik baris berbaris menaikkan bendera merah putih di tiang bambu
meskipun dalam lomba kita tak memenangkan apa pun.
Kecuali tawa penonton yang riuh rendah.

Sungai, gunung, bendera, dan sekolah semua dilukiskan dalam satu kain menggunakan kuas dan cat air
Mengisahkan pedesaan yang pandai menyembunyikan perkelahian adik kakak
Topi caping dan hamparan padi mengajari kita tentang hal-hal palsu yang terlihat di layar kaca tv
Ketika sol sepatu para penguasa berbicara kepada sepasang telinga yang tak mampu menyetujui keinginannya

Jadi mari kuberitahu sekarang
Hanya jembatan yang mampu menceritakan sungai dengan sebenar-benarnya
Maka ketika sekolah melemparkan kau dengan berbagai macam model ijazah
Saat kau diam, kau telah kalah
Serupa alam yang kalah dari tingkah kita yang serakah.

Juli 2022

KLIK INI:  Pepohonan Menghitam di Kotamu