Sering Kurang Tidur? Ini Dampaknya, Poin Terakhir Paling Berbahaya

oleh -205 kali dilihat
Anda Sering Kurang Tidur? Ini Dampaknya, Poin Terakhir Paling Berbahaya
Ilustrasi insomnia.

Klikhijau.com – Tidak sedikit orang yang sering mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur, khususnya insomnia, sudah menjadi hal yang umum terjadi pada masyarakat modern.

Hal ini dipicu oleh gaya hidup yang sibuk, stres serta berkembangnya produk elektronik yang berujung kurang tidur.

Kurang tidur memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan dalam jangka panjang dan pendek.

Beberapa penelitian dikutip dari Lifesyle.okezone.com, menyatakan bahwa perbandingan kualitas tidur dengan kuantitasnya memiliki pengaruh yang lebih besar pada kualitas hidup dan fungsi tubuh pada siang hari.

Apa saja dampaknya? Berikut rangkuman dari beberapa sumber!

KLIK INI:  Berpegangan Tangan dengan Orang yang Dicintai, Cara Sehat yang Romantis
Menyebabkan obesitas dan diabetes

Seperti tertulis di laman Liputan6.com, Edward Yong, seorang konsultan kesehatan menyebutkan bahwa insomnia membawa dampak serius pada kesehatan fisik.

Hal ini dapat memicu peningkatan nafsu makan yang menyebabkan obesitas dan diabetes.

Sementara itu, menurut penelitian yang dikutip dari Kompas.com, mengungkapkan bahwa kurang tidur dalam jangka panjang meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2.

Beberapa riset menunjukkan bahwa pola tidur kita berpengaruh pada kadar gula darah, hormon yang mengontrol nafsu makan, bahkan persepsi otak akan makanan berkalori tinggi.

Jika kurang, dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan dua hormon penting, yakni leptin dan ghrelin yang berfungsi mengontrol selera makan.

Mempengaruhi kesehatan jantung

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa orang-orang dengan narkolepsi memiliki risiko penyakit jantung yang lebih tinggi.

Hal ini diungkapkan oleh peneliti dari Pusat Biologi Sistem Rumah Sakit Umum Massachusetts, Amerika Serikat dikutip dari Liputan6.com.

Narkolepsi adalah suatu bentuk gangguan saraf yang memengaruhi kemampuan otak untuk mengatur siklus bangun-tidur seseorang.

Selain itu, Kemal Al Fajar di laman Hellosehat.com, menuliskan bahwa para peneliti yakin, tidur yang tidak teratur tersebut berdampak pada proses inflamasi pembuluh dari akibat meningkatnya tekanan darah dan detak jantung.

KLIK INI:  10 Manfaat Joging: Dari Mengurangi Stres Hingga Merawat Gairah Seksual

Jika berlangsung dalam waktu yang lama secara berturut-turut dapat menimbulkan dampak yang serius terhadap kesehatan jantung.

Gangguan kesehatan mental

Seiring waktu, kurang dan gangguan tidur dapat berkontribusi pada gejala depresi. Gangguan yang paling umum, insomnia, memiliki hubungan terkuat dengan depresi.

Dalam sebuah penelitian di tahun 2007 terhadap 10.000 orang, mereka yang menderita insomnia lima kali lebih mungkin untuk mengalami depresi.

Faktanya, insomnia seringkali merupakan salah satu gejala depresi pertama. Kurang tidur sering memperburuk gejala depresi yang dapat membuat Anda lebih sulit untuk tertidur.

Selain depresi, gangguan kesehatan mental yang timbul akibat insomnia dapat berupa kecemasan, kebingungan, dan frustasi.

Gangguan sistem kekebalan tubuh

Saat tidur, tubuh kita akan memproduksi sitokin. Sitokin merupakan protein-protein yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh.

Sitokin berfungsi untuk membantu tubuh melawan infeksi, peradangan, dan stres.

Jika kurang tidur, maka sitokin akan diproduksi lebih sedikit.

KLIK INI:  Berpikir Positif, Cara Sederhana dan Murah Perpanjang Usia?

Kurang tidur akan menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh dalam menyerang atau melawan infeksi.

Sehingga dapat menyebabkan proses pemulihan tubuh atau proses penyembuhan secara alami menjadi terhambat.

Risiko kematian

Mengalami insomnia dapat mempersingkat harapan hidup Anda. Sebuah analisis dari 16 studi yang mencakup lebih dari 1 juta peserta dan 112.566 kematian melihat korelasi antara durasi tidur dan kematian.

Mereka menemukan bahwa tidur yang kurang meningkatkan risiko kematian sebesar 12 persen, dibandingkan dengan mereka yang memiliki waktu tujuh hingga delapan jam per malam.

Di laman Liputan6.com, Anugerah Ayu Sendari menuliskan ada sebuah studi yang lebih baru melihat efek insomnia dan mortalitas persisten selama 38 tahun.

Mereka menemukan bahwa mereka yang menderita insomnia persisten memiliki risiko kematian 97 persen lebih tinggi.

KLIK INI:  Cuci Muka dengan Air Dingin Bisa Percantik Wajah