Serentang Jarak

Publish by -148 kali dilihat
Penulis: I.R Makkatutu
Serentang jarak
Ilustrasi/foto-tripadvisor.co.uk

"Apakah jarak antara kita kian dekat atau kian merentang?” keluhnya kemudian.

Ia baru saja bangun. Bekas iler masih mengilar di dekat bibirnya. Warnanya putih dengan bau menyengat. Semalam ia tidur cepat dan lupa sikat gigi. Gigil menyergapnya di awal malam, dan selimut tebal membalut tubuhnya.

Lima atau sembilan menit dalam selimut, tubuhnya menghangat dan ia tak ingat apa-apa lagi. Ia hanya terbangun sebentar karena kau meneleponnya. Namun, ketika ia angkat, teleponmu telah terputus.

Ia ingin meneleponmu balik. Hanya saja rasa kantuk menguasai seluruh kesadarannya hingga kembali pulas. Hape masih tergenggam di tangannya.

Ia bangun dengan kepala pening. Gigil telah hilang dari tubuhnya, ia menyingkap selimut tebal berwarna biru. Mengecek jam di hapenya dan membaca chatmu. Masih empat puluh tujuh menit lagi jam enam pagi. Ia bergegas ke kamar mandi. Membuang kencing yang terasa telah menggumpal gunung di kantong kemihnya.

KLIK INI:  Dadamu Deru Ombak

Ketika masuk kamar mandi, pandangannya mengarah ke baskom warna hitam. Jaket warna merah pemberianmu masih ia rendam. Tepatnya lupa mencucinya, capek menyerangnya kemarin sehabis pulang dari kebun.

Di kampungnya yang sepi berpagar pepohonan, musim tire telah tiba. Kemarin separuh hari ia di kebun memanen tire.

Tire,  awalnya adalah gulma yang bebal. Tak ingin mati. Hadirnya meresahkan petani. Namun kini berubah jadi primadona. Orang-orang berlomba menamannya, juga berlomba pula mencurinya.

Saat harga kopi jatuh ke titik nol dengan mengerikan. Dan hasil panen cengkih hanya meninggalkan kenangan saja karena telah habis. Tire muncul jadi penyelamat warga, jadi sandaran mengepulkan asap dapur.

“Apa yang bisa kau temukan dalam jarak? Aku temukan rindu menampar-nampar dengan beringas dan binal,” ia menemukan chatmu pagi ini. Pagi yang masih berbau iler di wajahnya.

“Aku tak temukan apa-apa,” balasnya dingin sebelum bangun dan melangkah ke kamar mandi.

Ia suka membalas seperti itu, sambil membayangkan wajahmu yang cemberut. Dan kau tak akan menghubunginya berhari-hari.

Ia tetiba menyukai jarak yang menjarak  ini. Ia temukan ada sembrani saling tarik menarik mencipta rindu. Membuatnya merenung cukup panjang. Tentang kau, perempuan yang merampas segala cintanya.

Segala cinta

Sekembali dari kamar mandi. Ia melanjutkan membaca seri Bu Kek Siansu, novel silat karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Sungguh ia membayangkan kau seperti  Linlin yang kemudian menjelma menjadi Ratu Yalina yang memimpin bangsa Khitan, liar, tegas, berani, dan tentu saja cantik.

Dan kecantikan  Ratu Yalina yang ia bayangkan serupa kecantikanmu, pandangan mata penuh cinta, tajam, dan menggelorahkan.

“Aku akan melamarmu seusai musim tire,” janjinya. Kau melotot pada siang diremasi gerimis di hari Kamis tiga bulan lalu.

“Tire?” Kau hanya menyahut dengan nada tanya. Mata penuh selidik dan rasa penasaran.

“Iya, tire, yang telah jadi idola baru bagi petani,” jelasnya.

KLIK INI:  Suara Rimba Selepas Pesta Rakyat

Tentu saja tanpa penjelasan darinya pun kau akan tahu. Bukankah orang tuamu biasa memanen tire hingga ratusan kilo.

Ia dan keluarganya tak lagi mampu mengandalkan kopi untuk melamarmu kelak, juga tak bisa mengandalkan cengkih yang harganya tak sebukit dulu.

Maka kini ia menyandarkan harapannya pada tire. Tire konon di ekspor ke China dan Jepang untuk diolah  jadi bahan makanan. Orang-orang kota menamai ‘mantan’ gulma itu dengan porang.

Sejak tire punya harga, ia  jadi girang sebab   tire adalah tumbuhan yang tak ribet pemeliharaannya. Ia bisa membudidayakannya dengan rasa suka cita. Tak perlu dipupuk, tak perlu dipelihara berlebihan. Tanam saja lalu tunggu tumbuh dan panen.

Pun tire tak menarik minat hama seperi babi hutan untuk menyantapnya. Dan yang paling ia sukai dari  budidaya tire, sebab tak merusak lingkungan. Tire tak perlu di pupuk anorganik yang bisa membuat tanah kurang subur untuk waktu yang lama ke depan.

Dan lainnya tak perlu menebang  pohon untuk menamannya. Tire bisa tumbuh di bawah naungan pohon besar, di sela-sela pohon cengkih. Di bawah rindangnya pohon kopi.

Hanya dalam waktu satu sampai dua tahun saja tire sudah bisa dipanen. Maka, dua tahun lalu. Ketika musim hujan telah tiba menggantikan kemarau, ia menanam banyak tire.

Tire paling cocok ditanam saat musim hujan. Ia akan tumbuh subur, sesubur bunga basah. Tire akan menghilang jika sedang kemarau

Beraksinya pencuri

Pagi ini ia akan kembali ke kebunnya memanen tire. Semalam, karena tidur lelap ia tak dengar suara  orang ribut-ribut. Dari penuturan orang tuanya, orang-orang tumpah ruah ke jalan. Sebab tire Halamuddin digasak pencuri.

Padahal tire itu sudah siap dijual, telah diangkut ke samping rumahnya. Namun, begitu malam hampir menuju larutnya yang sunyi, suara mobil berhenti di depan rumah Halamuddin.

Halamuddin tak langsung membuka pintu, ia mengintip lewat jendela kaca rumahya. Dan dilihatnya tiga orang sedang mengangkut tirenya ke atas mobil.

Ia menelepon saudaranya, sebab pikiran waras masih menggenangi kepalanya. Ia tak ingin mengambil risiko. Keluar rumah saat ada pencuri sama saja mengantar nyawa.

KLIK INI:  Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah

Begitu saudaranya mengangkat telepon. Mobil itu melaju pergi. Tiga belas menit kemudian saudaranya yang bergelar haji tiba di rumah adiknya. Dan yang tersisa dari tire itu hanya sebelas biji saja.

Halamuddin ingin meraung, tire itu telah ia kumpulkan selama seminggu. Namun, yang paling membuatnya meluka. Sebab ia kenal dua orang yang mencuri tirenya.

Orang pertama adalah sepupunya sendiri, dan yang kedua adalah lelaki yang merampas kekasihnya dulu dengan terpaksa. Membawanya lari.

Maka kebencian Halamuddin kepada lelaki kedua itu semakin bukit. Orang kedua itu, kakakmu.

Zona merah

Ia teringat teleponmu semalam. Apakah akan mengabarkan jika kakakmu jadi buronan. Pagi hari Halamuddin melapor ke Pak Desa. Ia ditanggapi dingin saja. Bahkan Pak Desa baru bangun setelah Hala mendatangi kamarnya, jam telah menunjukkan angka sembilan saat itu.

Ia ingin mengunjungi rumahmu, tapi tak mungkin. Pandemi corona membuatnya bertahan, kampungmu telah zona merah. Telah terjadi penguncian wilayah yang tak memungkinkan ia datang. Pun demikian denganmu.

Karena teror virus corona pula, rasanya tak mungkin bisa melamarmu secepatnya. Musim tire yang ia janjikan akan berlalu angin saja. Kau dan keluargamu pasti akan paham, tak ada gelaran pesta di tengah pesta pandemi corona.

Ia hanya membaca tiga halaman seri Bu Kek Siansu sebelum melangkah keluar rumah menuju rumah Halamuddin.

Di halaman rumah batu itu, orang-orang telah kembali berkerumun. Mengabaikan imbauan pemerintah untuk menjaga jarak. Banyak pula tak memakai masker, termasuk dirinya.

“Area ini harus disemprot desinfektan,” ujar Rasadi, pemuda yang menjadi relawan covid-19. Maka tanpa dikomando ia menyemprot semua area itu, melarang orang yang datang memegang apa saja.

“Kita tidak tahu, jangan sampai pencurinya dari  zona merah,” ia mengungkap alasannya kepada warga. Warga kemudian terlihat pucat.

“Laporkan segera yang sudah pegang sesuatu, ” lanjut Rasadi. Warga kian pucat.

Sementara Halamuddin yang sudah tahu, jika pencuri itu adalah kakakmu, yang datang dari zoa merah hanya mengangguk.

Halamuddin memang telah memberitahukan  Rasadi, sepupunya sendiri siapa yang mencuri tirenya.

Dan Rasadi menyampaian kepadanya bahwa kakakmu yang melakukannya. Ia geram dan ingatlah ia akan teleponmu semalam yang terabaikan.

Resah dari pertemuan

Ia mencabut dua atau lima batang tire. Ia tak memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Ia kaget ketika mendongakkan kepala, dan kakakmu berdiri tiga meter darinya.

Kakakmu memakai masker dan kaos tangan. Ia menenteng  totebag warna hijau muda.  Keduanya saling pandang. Rasa benci menjalar dari hatinya. Orang di depannya adalah pencuri yang sekalikgus calon kakak iparnya.

Ia menghentikan aktivitasnya mencabut tire. Menatap saja kakakmu dengan gigi gemeratak— tanda benci yang liar. Kakakmu tak bergerak. Kakakmu hanya menundukkan wajahnya. Tak berani menatapnya.

“Apa yang kau lakukan di sini, apa kau juga akan mencuri tireku,” tanyanya. Parang telah ia siapkan dengan sangat siaga. Jika kakakmu marah dan menyerangnya. Ia akan bertaruh nyawa.

KLIK INI:  Bercocok Cinta di Gelombang

Kakakmu diam saja, menatap ujung sepatunya. Ada rasa malu terlihat dari gerak geriknya.

“Ini pertama kalinya aku mencuri,” kata kakakmu.

Kakakmu seperti menyadari jika semalam identitasnya telah terbuka. Apalagi Halamuddin adalah musuhnya. Ia membawa lari kekasih Halamuddin tujuh tahun lalu.

Kakakmu dan Halamuddin berteman baik. Sering saling mengunjungi. Sering   bermain bersama  saat masih bocah. Dan pada saat tire masih jadi gulma yang meresahkan. Batang tire yang lunak serupa batang keledi itu, mereka sahung “adu”.

Caranya dengan memasang semacam taji atau pisau kecil yang terbat dari seng. Diikat pada batang tire, satu orang akan membuang ke atas batang tirenya dan satu orang melemperi batang tire itu. Jika terkena sabetan taji, tire yang kena akan patah, maka pemiliknya akan kalah.

Ketika mereka bertarung, batang tire jagoan kakakmu salah sasaran. Mendarat tepat di pipi kanan Halamuddin. Pipi Halamuddin tergores—darah mengucur.

Keduanya lalu berduel saling tinju. Dan sejak itu permusuhan keduanya dimulai. Dan diperparah ketika kakakmu membawa lari kekasih Halamuddin.

“Untuk apa ke sini?” tanyanya lagi. Kakakmu terbelalak. Ia menyampirkan totebag di tangannya pada reranting kopi.

“Kantong ini berisi uang, hasil penjualan tire yang kucuri. Ambil dan lamar adikku, Risla,” kata kakakmu lalu melangkah pergi.

Ia tak bisa mengeluarkan kata-kata. Matanya hanya melotot, geramnya meluntur. Seluntur sore yang beralih ke senja.

“Apakah jarak antara kita kian dekat atau kian merentang?” keluhnya, kemudian menaikkan setengah karung tire ke punggungnya.

 

Kindang, 12 Mei 2020

KLIK INI:  Lelaki Penjaga Kebun
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!