Sepotong Napas dari Puntondo

Publish by -77 kali dilihat
Penulis: Ilham Aidil
Sepotong Napas dari Puntondo
Ilustrasi/foto-artistsandillustrators.co.uk

Angin berkesiur dingin di tempat aku duduk menyaksikan matahari. Sinarnya tepat mengarah padaku. Aku terpukau dengan pijar matahari. Di sebelah kiri, lautan begitu tenang. Aku meresapi aroma pantai yang menawan.

Detik demi detik berlalu. Menit hingga jam. Tak sedikit pun membuatku beranjak dari tempat duduk. Keindahan pagi di Pantai Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Puntondo sungguh menakjubkan. Sebuah tempat yang terletak di Desa Laikang, Takalar kurang lebih 60 km jauhnya dari pusat kota Makassar. Rasa kagum itu merembes masuk dalam tulisan ini.

Nun di sana gunung duduk dengan santai berhadapan denganku. Bertingkah riang. Kami seolah bercakap dan berkirim pesan lewat angin yang berhembus. Alam memang oase bagi semua mahluk hidup.

Di atas hamparan laut, nelayan-nelayan dengan perahu-perahunya tampak seperti sketsa gambar kecil dari kejauhan. Diselingi suara riak-riak ombak yang tercipta di bibir pantai. Aku mengamati dengan seksama. Siluet matahari semakin menegaskan warna yang begitu indah.

KLIK INI:  Membaca Tanda-Tanda

Di Bungalow sederhana ini, aku hendak bercerita tentang sosok setia yang menjaga alam, sebut saja Pak Buna. Seorang lelaki tua yang penuh inspirasi di mataku. Tak pernah kutemui sosok sepertinya. Orang yang banyak mengahabiskan waktunya untuk merawat alam. Raut wajahnya sudah termakan usia. Rambutnya kian memutih. Tak sehelai pun rambut hitam yang lolos. Namun, lelaki tua berkacamata ini memiliki semangat yang membaja dan tekad yang membatu. Usia tidak menghalanginya untuk peduli pada alam.

Di mata Pak Buna, alam ini adalah rumah. Pengetahuan yang melimpah tentang laut, hutan, dan pepohonan tak usah dipertanyakan lagi. Lelaki tua pecinta karya Ernest Hemingway ini mempunyai pribadi yang sederhana. Ia telah banyak melanglang buana dari suatu tempat ke tempat lain.

Pak Buna dan Ernest Hemingway adalah dua sosok manusia yang hampir sama di mataku. Menyukai petualangan dan lingkungan alam. Seperti pada satu karya Ernest Hemingway The Old Man and The Sea di mana bercerita tentang petualangan seorang nelayan yang begitu gigih. Begitulah adanya Pak Buna. Sosok yang selalu bersahabat dengan alam.

***

Di malam yang tenang. Suara angin pantai yang bergerumuh terdengar jelas di Pendopo, tempat untuk menerima tamu dan bersantai. Aku membuka tasku. Kutarik secarik kertas. Maksud hati ingin mencari inspirasi untuk sebuah tulisan. Tapi, Pak Buna lebih dulu datang menghampiriku.
“Ham”
“Pak Bun.” begitulah sapaku.
“Bagaimana perasaan kamu?”
“Kagum, Pak Bun. Luar biasa konsep dan suasana disini?”
Rasa penasaranku yang tak terbendung membuatku ingin tahu lebih tentang Puntondo ini. Aku memulai percakapan.
“Pak Bun, aku mau tanya seputar PPLH Puntondo ini, boleh?”
“Ya, jelas bolehlah, kamu ini” tegasnya.
“Bagaimana awal mula berdirinya PPLH Puntondo ini?” tanyaku.

KLIK INI:  Bercocok Cinta di Gelombang

Dengan raut wajah yang bersahaja Pak Bun menjawab, “Pada mulanya tempat ini hanyalah pantai dan lingkungan yang tak terurus. Ini berawal ketika aku masih berada di Seloliman, Jawa timur. Keinginan mengembangkan tempat pendidikan lingkungan hidup di tempat lain muncul lima belas tahun lalu yang lebih berfokus pada kelautan. Sulawesi, itulah pilihannya. Mengingat nenek moyang orang Sulawesi dikenal sebagai pelaut ulung.”

“Terus bagaimana perasaan Pak Bun sekarang?”
“Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, Ham. Yang jelas buah perjuangan selama lima belas tahun kini aku lihat secara nyata. Tempat ini, alam ini, Puntondo ini serasa rumahku.

Di sinilah aku bercerita, berbagi, dan berbuat untuk alam, untuk manusia, dan untuk Tuhan.” Aku mengangguk meyakinkan Pak Bun. Kisruh di kepalaku bergeming. Hati turut mengiyakan.

“Pak Bun bercerita penuh kedamaian. Ketika banyak orang menghujami makna hidup sebagai kesengsaraan. Namun, Pak Bun memilih hidup itu sebagai kedamaian.”

Pak Bun, sejak awal sudah mendedikasikan hidupnya untuk alam. Rasa kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan membuat sosok Pak Buna mendiami dan mengurus Puntondo bersama hampir dua puluh orang stafnya. Suka duka tentunya melekat erat dalam perjuangan hidup dan perawatan tempat ini. Tantangan yang datang silih berganti tak sedikit pun mengurunkan niatnya untuk sebuah pengabdian untuk keberlangsungan hidup umat manusia.

Waktu berlalu. Malam sudah merangkak dan menukik tajam. Dingin pun mulai meraba seluruh permukaan tubuh. Angin berembus sepoi-sepoi. Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan perbincangan. Tapi, rasa kantuk yang berat menggiringku menuju pembaringan di Asrama Dua tepat di depan Pendopo.

***

Pagi-pagi sekali, aku berdiri di ambang pintu. Aku menoleh samping kiri kanan. Burung berkicau dengan merdunya. Sejenak aku menarik napasku dalam-dalam. Lalu menghembuskannya keluar. Aku masuk kembali ke kamar. Kubuka lebar jendela agar udara bebas berkeliaran. Nyanyian burung terdengar jelas di pohon-pohon yang meranggas.

KLIK INI:  Yang Terus Saja Tiba

Dari perbincangan semalam, konon kudengar dari Pak Bun sendiri, tentang kejadian lima belas tahun yang lalu. Masih teringat jelas di ingatan Pak Bun. Ada sekelompok nelayan yang melakukan pengrusakan lingkungan dan pemboman ikan di pantai. Sebut saja Pak Guntur, salah seorang dari kelompok nelayan yang kumaksud.

Ia sosok yang dikenal arogan dan ditakuti oleh hampir sebagian warga setempat. Meski tak ada bukti yang cukup. Namun, sebagian orang menaruh curiga padanya. Pernah suatu ketika Pak Guntur tertangkap basah hendak melakukan pemboman di laut pada malam hari oleh salah seorang nelayan. Namun, karena rasa takut dia tidak menceritakannya ke siapa-siapa. Ia lebih memilih diam dan tak berbuat apa-apa.

Pak Guntur mengancamnya dengan sebilah badik1, “Awas. Jikalau berita ini sampai terdengar di telinga warga. Maka, nyawa anak dan istrimu akan jadi sasaran. Termasuk juga kau,” ancamnya. Pak Guntur menendang si nelayan itu dan berlalu meninggalkannya.

Tingkah Pak Guntur terus berlanjut. Hingga suatu malam ia beradu mulut dengan salah seorang nelayan lain yang baru saja pulang dari menangkap ikan. Pak Guntur bersama dengan anak buahnya mengambil paksa hasil tangkapan nelayan tersebut. Tidak terima dengan perlakuan Pak Guntur, si nelayan berteriak, mencari bantuan mengajak warga dan melapor ke kepala dusun.

Pada saat bersamaan, Pak Bun yang baru saja datang dari Jawa tengah berada di rumah Pak Dusun. Mereka sementara menikmati secangkir kopi hitam. Tiba-tiba suara arak-arakan dan riuh terdengar di depan rumah Pak Dusun.
“Assalamu alaikum.”
“Pak Dusun…Pak Dusun” panggil warga.
“Waalaikum salam.”

KLIK INI:  Bila Daun Itu Lepas

Dengan muka yang heran, Pak Dusun melihat sekeliling “Ada apa, kenapa semuanya berkumpul di sini?
Satu persatu mereka bercerita termasuk nelayan tadi dan nelayan yang beberapa hari yang lalu kena imbasnya. Nelayan pertama bercerita penuh iba dan napas tersengal, “Pak Dusun, Pak Guntur…Pak Guntur.”
“Ada apa dengan Pak Guntur?”
“Pak Guntur merampas hasil tangkapan kami,”

Nelayan lain turut mengiyakan dengan penuh amarah. “Betul Pak Dusun, Pak Guntur sudah sering melakukan hal yang serupa pada kami.”
Si nelayan miskin itu pun maju di hadapan Pak Dusun dan Pak Bun. Ia pun dengan sedikit gagap menceritakan kejadian yang sering dijumpainya di laut.

“Sebenarnya, aku mau menceritakan tentang perbuatan Pak Guntur. Dua malam yang lalu, aku sedang menangkap ikan di lautan. Tiba-tiba, saya lihat Pak Guntur bersama anak buahnya melakukan pemboman. Dia mengancamku dan akan membunuh anak dan istriku termasuk juga aku, jikalau sampai aku membocorkannya,”
“Tolong kami Pak Dusun. Tolong,” pelasnya.
“Baiklah. Mari kita sama-sama menemui Pak Guntur!” ajaknya.
Pak Dusun bersama warga Puntondo berbondong-bondong mendatangi balai-balai di mana Pak Guntur bersama anak buahnya biasa berkumpul.
“Hei, Pak Guntur. Ada apa ini?” gertak Pak dusun.

Pak Guntur merasa kecut melihat ada puluhan warga yang mengiringi Pak Dusun sambil membawa parang panjang masing-masing.
Sempat terjadi percakapan yang alot dan hampir saja terjadi pertikaian yang bisa saja berakhir dengan aksi saling bunuh. Mengingat situasi yang ada, melihat jumlah yang tidak sebanding. Pak Guntur dan anak buahnya memilih mundur.

Pada kesempatan itulah, bersama Pak Dusun, Pak Bun menjelaskan masksud kedatangannya di Puntondo ini. Dia bercerita tentang pembangunan PPLH Puntodo dengan konsep ramah lingkungannya yang sebelumnya sudah dibicarakan di rumah Pak Dusun tadi.

Warga pun mendukung dan Pak Bun diterima dengan mudah oleh warga setempat. Warga yang dikenal dengan adat istiadat yang begitu kental dan belum tersentuh pendidikan serta kurangnya pemahaman mengenai lingkungan berhasil diluluhkan. Warga pun bubar malam itu.
Begitulah kejadian lima belas tahun silam. Sejak itu, masyarakat setempat mulai berbenah diri. Mengelola alam dengan wajar.

***

Di hamparan pasir pantai Puntondo, sebuah kesyukuran melihat pemberian dari yang kuasa. Di tempat ini, suatu kegembiraan besar bahwa alam masih bersahabat dengan manusia dan manusia masih tetap hidup dengan harapannya.

KLIK INI:  Jendela Hujan

Ilham Aidil lahir di Bontotanga, Bulukumba. Ia menyukai sastra dan filsafat. Senang diajak minum kopi. Penulis Novel Surat Hujan

Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!