Seperti Pernah

oleh -20 kali dilihat
Bambu
Ilustrasi bambu-foto/Fixbay
Irhyl R Makkatutu

Rumpun bambu itu telah ada, jauh sebelum Puang Lamintang lahir, lelaki paling tua di kampung itu. Tak ada yang tahu sejak kapan tumbuh. Tak ada juga saksi mata yang melihat siapa yang menanamnya atau tahu siapa pemilik pertamanya.

Bambu tersebut berada di kebun kopi seluas setengah hektar yang telah tujuh kali berpindah pemilik tanpa sertifikat. Hanya kesepakatan lisan saja antara penjual dan pembeli. Tapi, bambu yang terletak di sebelah utara, yang di bawahnya terdapat sumur tak pernah masuk dalam transaksi jual beli. Padahal posisinya terdapat dalam kebun kopi tersebut.

Walaupun tak jelas siapa pemiliknya, setiap musim cengkih atau ada orang yang perlu selalu saja datang ke rumah pemilik kebun meminta bambu. Entah sebagai tangga untuk memetik cengkeh atau walasuji di pesta pernikahan atau untuk keperluan apa saja. Karenanya pula tak ada warga yang rela mengambil rebungnya.

Menurut cerita warga ketika aku pertama datang ke kampung itu. Bambu tersebut sering mengeluarkan jerit serupa bayi menangis. Selalu seperti itu ketika ada yang akan membeli kebun kopi itu. Seakan tak tega memiliki tuan. Pernah saat pembeli ketiga memasukkannya ke dalam daftar jual beli. Rumpun bambu itu a’rekuq, (berderit) setiap malam, sehingga tak ada warga yang bisa tidur. Teror ketakutan menyebar ke mana-mana.

KLIK INI:  Ayah dan Dapur Ibu

Saat itu warga percaya jika ada perbuatan amoral terjadi dalam kampung menyebabkan bambu itu menangis. Warga saling tuduh, nyaris terjadi pertumpahan darah. Ketika kondisi kian cekam, Puang Kamaruddin  didatangi seorang perempuan yang menggendong anaknya, memohon agar bambu itu tak dijual.

Bambu pengusir penjajah

Puang Kamaruddin menceritakan kisah itu, hingga warga beramai-ramai protes. Hasilnya bambu tersebut tak masuk transaksi jual beli, dan semuanya kembali normal. Bambu tersebut tak pernah tega dijual, harus dalam status bebas pemilik.

Bambu itu tumbuh untuk keperluan orang banyak, hingga tak bisa diperjual belikan. Dan anehnya, sebanyak apapun ditebang, seperti tak pernah berkurang. Berbagai mitos berkembang mengenainya.

“Konon, bambu runcing pertama yang digunakan para pejuang di kampung ini mengusir penjajah berasal dari bambu itu,” jelas Puang Kamaruddin ketika kutanyakan perihal pohon bambu itu saat aku hendak membeli kebuh tersebut darinya.

“Bisa jadi bambu tersebut sering menangis karena telah banyak nyawa musuh yang dihilangkan,” lanjut Puang Kamaruddin dengan wajah yang serius.

“Tapi, kenapa tak bisa diperjual belikan?” tanyaku penasaran.

“Ia akan menangis jika dijual. Warga tak mau menanggung ketakutan seperti dulu, pohon itu menangis tiap malam, selama tiga bulan lamanya. Suaranya memekikkan telinga hingga tak ada yang bisa tidur,”

“Apa ada hal aneh yang sering terlihat di bambu itu?”

“Tak pernah ada, kecuali rebungnya yang berbeda dengan rebung kebanyakan. Rasanya sangat pahit dan dan hambar, meski telah diresapi beraneka bumbu. Jadi percuma saja diambil.

Selain cerita bahwa bambu runcing yang digunakan mengusir penjajah berasal dari bambu tersebut. Berbagai cerita lain pun mengiringi keberadaan bambu itu, ada yang mengatakan jika plansenta anak pertama Puang Majakarra—yang dipercaya yang menemukan kampung itu di tanam di bawah pohon bambu tersebut, ada pula yang berpendapat jika jasad Puang Majakarra dan Puang Hadima, istrinya di kubur di bawah bambu itu. Dan kebun kopi yang luasnya setengah hektar itu, di sanalah berdiri rumah panggung Puang Majakarra yang terbuat dari bambu.

Namun, dari semua cerita yang beredar, aku lebih suka cerita jika bambu runcing yang digunakan mengusir penjajah berasal dari rumpun bambu itu—yang sebentar lagi jika ada yang ingin menebang bambu, harus minta izin kepadaku.

KLIK INI:  7 Novel Indonesia yang Memakai Metafora Alam sebagai Judul
Memelihara mitos

Mitos-mitos selalu diperlukan untuk melestarikan sesuatu. Aku pikir pohon bambu itu juga demikian. Setiap aku ke kebun kopi yang kubeli itu. Aku tak pernah alpa menatapi rumpun bambu tersebut—mencari titik anehnya. Tapi, semuanya sama dengan rumpun bambu yang lain. Tak ada yang beda, jika ada yang berbeda hanya sumur di bawahnya—  airnya jernih,  tak selembar daun bambu pun yang ada di dalamnya. Sumur itu bersih.

“Kampung ini pernah dilanda musim kemarau berkepanjangan. Air berhenti mengalir, semua sumber mata air kering kecuali sumur yang ada di bawa rumpun bambu itu. Setiap hari orang datang berbondong-bondong mengambil air, tapi tak pernah habis bahkan keruh,” terang Puang Gani, sang Ketua RT.

“Kenapa tak dipasangi dinamo, mesin air, hingga warga tak perlu repot ke sana mengambil air, kan kasihan?” tanyaku

“Itu pernah dicoba, dinamo yang dipasang rusak, telah berkali-kali, tapi tak pernah berhasil, barangkali arwah Puang Majakarra tak rela,” jawab Puang Gani sambil mengelus jenggotnya yang mulai memutih.

KLIK INI:  5 Puisi Chairil Anwar Bermetafora Alam yang Akan Terus Hidup Seribu Tahun
Magis perempuan

Pada hari Jumat yang gerimis. Di pagi hari aku ke kebun kopi itu untuk menebang pisang. Suasana gigil dan cekam kuabaikan, lagi pula jarak dari rumah ke kebun kopi tak terlalu jauh. Hanya ditempuh sepuluh menit jalan kaki. Cerita mistik rumpun bambu tersebut tak membuatku gentar. Barangkali karena aku sudah terbiasa ke sana. Faktor terbiasa akan menghilangkan rasa takut.

Ketika mendekati sumur itu, suara gemericik air serupa orang sedang mandi terdengar. Aku abai saja, paling warga setempat yang mengambil air. Tapi, semakin dekat, semakin terdengar riciknya yang aneh. Rasa penasaranku membukit, aku mendekatinya. Dari jarak tujuh meter, aku melihat seorang perempuan sedang memandikan anaknya.

Ketika ia menyadari kehadiranku, perempuan itu menoleh dan tersenyum kepadaku. Aku juga tersenyum meski kikuk karena kedapatan mengintip. Rambut perempuan itu diikat seperti ekor kuda, kulitnya putih mengilap. Sorot matanya tajam, ia tak berlesung pipi. Alisnya tebal, hidungnya kecil serasi dengan wajahnya yang imut. Bibirnya tipis.

Hemmm, aku tak tahu, kenapa aku bisa mendeskripsikan sedetail itu parasnya, padahal kami bertemu pandang tak cukup dari lima menit dengan jarak tak terlalu dekat. Tapi, ada daya magis perempuan itu yang tak pernah kutemui pada perempuan lain.

Setelah benturan tatapan kami berakhir, aku melangkah ke kebun—menebang pisang dengan tergesa kemudian pulang. Aku ingin kembali melihat perempuan itu. Tapi, ketika aku sampai di sumur, perempuan tersebut telah tiada. Bahkan bekas memandikan bayinya pun hilang. Aku merinding dan berlari secepat mungkin. Ketakutan memberiku kekuatan yang tak biasa.

Memekarkan gelisah

Sejak kejadian di pagi yang gerimis itu. Aku selalu gelisah, tak bisa tidur, seakan ada rindu yang menyanggahku untuk tetap terjaga. Setiap pagi—selama berbulan-bulan aku selalu bergegas ke sumur tersebut untuk mencari perempuan itu. Tapi, aku tak pernah lagi melihatnya. Perempuan-perempuan di kampung itu pun sering kuperhatikan, tapi tak ada wajah perempuan tersebut.

Merasa kecewa karena aku tak pernah lagi menemukan perempuan itu. aku berniat menjual kembali kebun kopi seluas setengah hektar itu. Aku juga ingin meninggalkan kampung—kembali merantau. Aku akan menjualnya beserta rumpun bambu itu. Ada orang kota ingin membelinya. Orang kota tak percaya mitos. Hanya jadi kendala karena aku tak memiliki sertifikat tanah dan akta jual beli. Orang kota selalu mempermasalahkan kedua hal itu.

Pada malam Jumat yang gerimis pula, saat aku berniat menjual kebun kopi  dengan rumpun bambunya. Aku bermimpi aneh, perempuan itu datang mencekik leherku. Ketika bangun leherku sakit. Aku ingin menceritakannya kepada Puang Kamaruddin apa yang kualami.

Paginya, aku bergegas menuju rumahnya. Beberapa warga bertanya kepadaku. Apakah semalam aku mendengar jeritan tangis dari rumpun bambu itu?. Aku hanya menggeleng, suaraku tak bisa lolos, tertahan saja di tenggorokan.

KLIK INI:  Memeluk Bumi di Sebatang Porang