Semut Bisa Jadi Pendukung Pertanian Berkelanjutan dan Pengganti Pestisida

oleh -44 kali dilihat
Semut
Semut memiliki peran penting bagi lingkungan/foto-Earth Times

Klikhijau.com – Semua serangga dari ordo Hymenoptera dan anggota famili Formicidae adalah semut. Jumlahnya banyak, lebih dari 12.500 jenis. Sebagian besar dari mereka hidup di kawasan tropika.

Keberadaan semut acap dianggap sebagai pengganggu. Karenanya, banyak yang berusaha memberantasnya.

Namun, anggapan semut sebagai pengganggu sepertinya akan gugur. Sebab saat ini  para ilmuwan semakin beralih ke bentuk pertanian yang lebih berkelanjutan.

Salah satu pendukung pertanian berkelanjutan adalah semut. Hal itu diungkapkan oleh sebuah studi baru bahwa semut dapat melindungi tanaman dari kerusakan seperti halnya pestisida.

KLIK INI:  Melindungi Tanaman dari Patogen Mematikan dengan Rumput Liar

Studi internasional itu diterbitkan dalam Journal Proceedings of Royal Society B. Menurut studi tersebut banyak spesies semut memiliki kemanjuran yang serupa atau lebih tinggi daripada pestisida. Menariknya lagi biaya lebih rendah dan ramah lingkungan.

Dilansir dari euronews.com bahwa semut melindungi tanaman dari hama seperti ulat dan serangga. Terowongan seperti labirin mereka juga menganginkan tanah, membantu tanaman menyedot oksigen sehingga lebih subur.

Para peneliti mengamati 26 spesies semut , dan menemukan bahwa makhluk itu bisa menjadi mereka adalah pahlawan yang menjanjikan dalam memerangi hama lainnya.

“Petani jeruk di China adalah pelopor dalam pengendalian biologis menggunakan semut berabad-abad yang lalu,” tulis para peneliti.

Meski begitu, harus diakui jika semut juga dapat merusak tanaman , karena mereka melindungi hama seperti kutu daun dan lalat putih, yang merupakan makhluk kecil yang menghasilkan embun madu.dan hal itu disukai semut.

Hanya saja, bahaya  ini dapat diimbangi melalui praktik pengelolaan yang lebih ramah lingkungan , seperti menabur sumber gula alternatif untuk dimakan semut. Jadi, mereka tidak akan merusak tanaman.

KLIK INI:  Penggunaan Pestisida Bisa Menyebabkan Bayi Alami Autisme?
Beralih dari pestisida

Penemuan akan peran semut sebagai pengganti pestisida adalah kabar baik. Karena pestisida dapat membuat serangga lain, khusus lebah bisa mabuk. Hal itu akan mendatangkan malapetaka pada sistem saraf pusat mereka.

Jadi, dengan adanya semut sebagai pengganti pestisida, dapat menyelamatkan lebah dari rasa mabuk yang bisa mengancam populasinya.

Penggunaan pestisida di seluruh dunia sangat tinggi, petani menggunakan lebih  lebih dari 2,5 miliar kilogram pestisida setiap tahun.

Ilmuwan pertanian telah mengembangkan lebih dari 1.000 senyawa kimia ini yang dirancang untuk mengawetkan persediaan makanan dengan membunuh serangga , jamur dan gulma.

Hewan penyerbuk yang paling dirugikan oleh penggunaan pestisida adalah lebah. Padahal  lebah adalah bagian penting dari ekosistem. Tanpa mereka, banyak spesies lain akan mati. Misalnya di Eropa, lebah menyerbuki 80 persen bunga liar.

KLIK INI:  Jangan Sepelekan Perannya, Ini yang Akan Terjadi Bila Semut Punah
Lebah, sahabat petani

Lebah juga penting untuk pertanian, dengan kira-kira sepertiga dari produksi pangan global bergantung pada penyerbuk ini. Keberadaannya telah menjadi sahabat bagi petani sejak dahulu kala.

Namun, kehadiran pestisida mendatangkan malapetaka pada sistem saraf pusat lebah. Hal tersebut diungkapkan oleh sebuah studi baru.

Bahan kimia merusak kemampuan penyerbuk untuk terbang dalam garis lurus, sehingga sulit bagi mereka untuk mencari makanan.

Menurut Dr Rachel H Parkinson, penulis utama studi tersebut, kelangsungan hidup lebah terancam oleh pestisida

“Di sini kami menunjukkan bahwa insektisida yang umum digunakan seperti sulfoxaflor dan imidakloprid neonicotinoid dapat sangat merusak perilaku lebah madu yang dipandu secara visual,” kata akademisi Universitas Oxford tersebut.

KLIK INI:  Ngeri, 99% Dunia Telah Terdampak Polusi Udara

“Hasil kami menjadi perhatian karena kemampuan lebah untuk merespons informasi visual dengan tepat sangat penting untuk penerbangan dan navigasi mereka, dan dengan demikian kelangsungan hidup mereka,” lanjutnya.

Para peneliti telah menguji lebah dengan menunjukkan video batang bergerak. Video-video ini mengelabui makhluk-makhluk itu agar merasa seolah-olah mereka telah meledak.

Asimetri antara belokan kiri dan kanan setidaknya 2,4 kali lebih besar untuk lebah yang terpapar pestisida daripada lebah kontrol .

Lebah yang terpapar pestisida juga memiliki proporsi ‘sel mati’ yang lebih tinggi di otak mereka. Ini bisa berarti mereka sedang ‘rusak otak’ oleh bahan kimia dalam semprotan.

Karenanya, untuk beralih ke pertanian berkelanjutan dan menyelamatkan lebah sebagai sahabat petani dan ekosistem, tak ada salahnya mencoba semut sebagai pengganti pestisida.

KLIK INI:  Masyarakat Adat Sudah Menerapkan Ekonomi Hijau Sejak Dulu