Segelas Kopi Pertemuan

oleh -84 kali dilihat
Segelas Kopi Pertemuan
Segelas Kopi Pertemuan -foto/Pixabay
Irhyl R Makkatutu

Senja di hari Jumat, Adriana berkunjung ke kos. Itu kunjungan pertamanya dan jadi pertemuan kami yang pertama pula. Kusambut ia dengan segelas kopi. Aku tahu ia penyuka kopi. Itu kulihat dari caranya menyeruput kopi yang tampak lembut. Penuh perasaan.

Ia pejamkan mata ketika menyeruputnya lalu mendesah lembut nyaris tak terdengar. Suara kopi yang mengalir ke lehernya juga terdengan lembut. Selembut ricik Sungai Je’neberang di belakang kos ketika dikunjungi gerimis.

Adriana berkaca minus, di balik kacamatanya, mata beningnya yang sipit terlihat memukau. Ingin kutatap matanya, tapi ia tertunduk. Tak membiarkanku melakukannya. Hidungnya bangir, namun sensitif. Jangan pernah menyentuh hidungnya, bisa-bisa ia influensa hingga berbulan-bulan.

Suatu ketika pernah ada temannya yang iseng menyentuh hidungnya. Hasilnya hidungnya berdarah seperti mimisan. Tapi itu bukan mimisan. Bukan.

KLIK INI:  Kunang-kunang di Mata Vhy

“Nak, kekuatan perempuan ada pada matanya, jika tak ingin jatuh cinta kepadanya jangan pernah menatap matanya!” nasehat Ibu terngiang.

Aku tersenyum. Adriana yang melihatku senyum-senyum sendiri hanya geleng kepala sambil kembali menyeruput kopinya dengan lembut.

Suguhan paling romantis: kopi

Tak ada suguhan romantik kepada tamu selain kopi. Kopi ada pemisah sekat, pemisah keasingan kepada orang lain. Mungkin karenanya tersebar warung kopi, tak ada warung teh atau warung susu. Kopi lebih punya nilai jual rupanya. Lebih puitik.

Menyeruput kopi seperti sedang menikmati getaran cinta pertama. Melihat Adriana menyeruput kopi senja itu, seperti melihat temali cinta pertama melilitku. Lilitan itu kemudian menjalar ke sekujur tubuh. Melumpuhkanku.

Ada dua hal senja itu yang buatku lumpuh di hadapannya, caranya menyeruput kopi dan mata sipitnya yang bening.

Kisah air mata bawakaraeng

“Sejak kapan menyukai kopi?” tanyaku. Ia diam. Mengumpulkan ingatan masa lalunya. Ia tersenyum singkat kepadaku.

“Sejak mengenalmu,” jawabnya dengan tenang. Tak kusangka ia akan menjawab begitu membuatku salah tingkah. Aku tertawa dan melangkah keluar kamar. Mengusir getaran aneh yang indah, yang tetiba bertamu ke hatiku.

“Ke sini sebentar!” panggilku dari luar kamar. Ia melangkah menghampiriku. Aku berdebar ketika ia mendekat dan berdiri di sampingku. Aroma napasnya kurasakan menohok hidungku. Aromanya eksotik. Perpaduan antara aroma kopi dan pasta gigi yang digunakan.

“Itu Sungai Je’neberang, konon terbentuk karena air mata cinta penghuni Gunung Bawakaraeng.

“Serius, bagaimana ceritanya?” ia bertanya tanpa menoleh ke arahku. Tatapannya tak lepas dari sungai itu.

“Dulu, di daerah ini (Sulsel) ini belum ada sungai. Belum ramai seperti sekarang ini. Daerah ini hanya dihuni sebuah keluarga yang bermukim di puncak Gunung Bawakaraeng. Mereka berjumlah tujuh orang. Seorang bapak dan ibu serta lima orang anaknya. Untuk bertahan hidup, keluarga ini hanya punya mata pencaharian mencari buah-buahan di hutan dan berburu. Mereka belum mengenal pertanian. Begitupun pekerjaan yang lain. Setiap hari sang bapak bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Sebagai kepala keluarga ia harus bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup istri dan anak-anaknya. Anak keluarga itu sudah dewasa, kecuali yang bungsu. Tapi, tak ada yang mau membantu orang tuanya bekerja.  Mereka adalah anak yang malas. Kerjanya setiap hari hanya bermain,” aku berhenti sejenak. Kulihat reaksi Andriana

“Suatu hari, sang bapak sakit dan tak bisa pergi mencari buah-buahan dan berburu. Beliau menyuruh anaknya. Tapi, anaknya pemalas sehingga perintah ayahnya tak digubris. Kecuali si bungsu, tapi karena ia masih kecil maka tak diizinkan ke hutan. Kemarahan sang bapak memuncak, beliau bangkit dari tempat tidurnya—mengabaikan sakitnya. Sang bapa lalu mengambil sebatang kayu akan memukul anaknya. Kelima anaknya lari pontang panting karena takut. Mereka berlari terpencar tak tentu arah untuk menghindari pukulan bapaknya. Ada yang lari ke timur, ada yang lari ke barat dan ada yang ke utara.,” terangku panjang lebar. Adriana tersenyum dan mengungkapkan kagumnya.

“Terus?” kejar Adriana dengan tanya

“Salah satu kakak si bungsu yang berlari ke arah barat sambil menangis tiba di selat Makassar dan menceburkan dirinya. Sepanjang perjalanan ia mencucurkan air matanya—air mata cinta dan ketakutan. Kamu tahu, ketakutan dan cinta dua hal yang sangat tipis perbedaannya,” kataku.

“Hhmmmm…” Adriana hanya menjawab dengan hmmm

“Oya, jejak air mata dari salah satu anak yang lari ke selat Makassar itulah yang membentuk Sungai Je’neberang yang ada di belakang itu,” kataku sambil menunjuk Sungai Je’neberang.

“Cinta dan ketakutan punya kekuatan maha dahsyat rupanya,” katanya seperti membisik di telingaku. Aku menoleh ke arahnya dan kami bertatapan.

Aku leluasa menatap matanya. Aku melepas kacamata minusnya dan kami bertatapan lama. Benar kata ibu, kekuatan perermpuan ada pada matanya. Aku terkesiap merasa berada pada sebuah lembah penuh bunga-bunga yang dikelilingi kupu-kupu beraneka warna.

KLIK INI:  Ayah dan Dapur Ibu
Tatapan berbunga cinta

Bunga-bunga itu kuyup oleh gerimis sehingga tampak indah memesona. Kami tak menghitung berapa detik bertatapan, mungki menitan tapi tak sampai kehitungan jam.

Adriana tertunduk, meremas jarinya. Pipinya memerah. Aku melangkah ke kamar mengambilkan kopinya yang hampir dingin. Untuk pertama kalinya, kelembutan hilang ketika ia menyeruput kopi.

Ia tergesa dan hanya sekali teguk kopi di gelas tersebut berpindah ke dalam tubuhnya. Sisa kegugupan masih terlukis di wajahnya.

“Sayang air Sungai Je’neberang keruh. Andaikan tak demikian tentu sangat indah. Kita bisa melihat wajah sendiri di dalamnya. Atau andaikan tak banyak enceng gondok pasti pemandangan akan lebih indah,” ujarku. Tatapan kami beralih tajam ke arah Sungai Je’neberang.

“Kenapa tak dijadikan tempat rekreasi air seperti yang ada di luar negeri, pasti itu akan menjadi tempat rekresai yang menyenangkan dan murah,” lanjutnya. Idenya kupikir bisa dipertimbangankan oleh pemerintah, khususnya Dinas Pariwisata Gowa dan Makassar.

Hanya menurut beberapa warga itu terlalu berbahaya, karena air sewaktu-waktu bisa naik. Bahkan baru-baru ini ada perahu pencari ikan terbalik dan menewaskan penumpangnya di sungai tersebut.

Apalagi keangkeran Sungai Je’neberang juga tak bisa diabaikan. Jika dijadikan tempat wisata bisa-bisa penunggunya jug mengamuk dan menelan korban jiwa lebih banyak. Apalagi setiap tempat rekresai pasti dijadikan juga tempat mesum dan tempat sampah leh bebepara orang.

Tapi bagaimanapun, pendapat Adriana patut dipertimbangan agar kebersihan Sungai Je’neberang terjaga.

KLIK INI:  Pamata
Maafkan pembaca

Maaf para pembaca. Harusnya kuceritakan kisah perkenalanku dengan Adriana sejak awal. Tapi aku hilang, aku kehilangan kata mengenalkannya. Aku lebih mengingat caranya menyeruput kopi dan matanya dibanding perkenalan awalku dengannya.

Aku tak tahu berawal dari mana kami berkenalan. Namun senja di hari Jumat itu menjadi pertemuan kami yang pertama secara nyata.

Aku berkenalan dengannya sekitar sebulan yang lalu melalui jejaring sosial facebook, lalu kami bertukaran nomor telepon, kami sering smsan atau telponan. Hingga di hari Jumat pagi, Adriana ingin ke kostu menikmati kopi bersama. Dan aku tak bisa melarangnya, karena aku juga telah lama ingin berjumpa dengannya.

Ia benar-benar menunaikan inginnya dengan berkunjung di senja hari di hari itu. Kujemput ia di ujung lorong. Aku kelimpangan memperhatikan tiap orang yang lewat. Karena Adriana masih samar, meski di akun facebooknya terterah puluhan foto dirinya.

Ketika aku mulai kelelahan menunggunya di ujung lorong, ia datang dengan senyum. Tak ada ritual jabat tangan sebagai tanda perkenalan. Tak ada adegan cipika cipiki.

“Hasriadi ya?” tanyanya dengn sedikit ragu

“Iya,” jawabku singkat lalu kami melangkah menelusuri lorong. Menelusuri degupan pertermuan pertama yang kaku.

Tak banyak cakap hingga kami tiba di kosku. Kupersilahkan ia masuk. Seperti itulah adegan pertemuan kami. Kaku dan polos. Hingga segelas kopi yang kusuguhkan mencairkan kebekuan kami, berubah jadi benih cinta yang menggetarkan.

Kembali belajar menyeruput kopi

Aku masih di teras kos. Malam telah menua dan terjatuh di titik dini hari. Segelas kopi menemaniku. Ricik Sungai Je’neberang berdendang ria. Aku menyeruput kopiku lembut seperti Adriana menyeruput kopinya senja itu di hari Jumat. Aku kembali belajar menyeruput kopi darinya, lebih lembut. Dan juga aku mulai belajar mencintainya.

Kamar sunyi, 02 Maret 2013

Dini hari kesunyian

KLIK INI:  Sepotong Napas dari Puntondo