Sampai Kapan Kita Tanpa Pendidikan Siaga Bencana?

Publish by -91 kali dilihat
Penulis: Irhyl R Makkatutu
Sampai Kapan Kita Tanpa Pendidikan Siaga Bencana
Foto-Pustaka Bergerak Indonesia

Klikhijau.com – Agus Wibowo (Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan BNPB) terkagum-kagum dengan model pendidikan siaga bencana di Cina.

Ketika berkunjung ke Beijing Jiaotong University, Agus melihat langsung bagaimana kampus sangat serius memberikan pemahaman dan pembekalan pada mahasiswanya tentang cara menghadapi bencana.

Demikian, Agus Wibowo melukiskan pengalamannya dalam sebuah artikelnya di Tempo berjudul “Bencana dan Pendidikan Kita” (6 Januari 2019).

Seorang pengajar di Beijing berkata, target utama edukasi bencana yang menyatu dengan kurikulum pendidikan itu adalah bagaimana orang menyadari bahwa lingkungan mereka rawan bencana.

Karenanya mereka harus bisa melakukan penyelamatan secara mandiri bila terjadi bencana.

KLIK INI:  Rumah Direktur Walhi NTB Dibakar Oknum Misterius

Kuncinya, kata Agus adalah “mandiri”. Pendidikan siaga bencana bertujuan untuk mendidik masyarakat agar setiap terjadi bencana dapat bertindak untuk dirinya sendiri sebelum menyelamatkan orang lain.

Dengan kemandirian, risiko atas bahaya bencana dapat diminimalisir.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita sudah punya kurikulum siaga bencana? Kurikulum kebencanaan sesungguhnya sudah disusun sejak 2009 oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Tetapi masih berbentuk muatan lokal.

Faktanya, praktik kurikulum ini belum merata. Di beberapa daerah, belum ada kurikulum siaga bencana.

Padahal, sebagai negara yang berada dalam cincin api dan dikelilingi gunung merapi, kewaspadaan pada bencana tidak bisa ditawar.

Bayangkan, data BNPB pada 2017 saja terdapat 2.372 kejadian bencana dalam berbagai bentuk. Merenggut 377 jiwa, 49.963 rumah dan menghancurkan 1.276 fasilitas publik, dan menyebabkan 3,49 juta jiwa terdampak bencana.

Pakar lingkungan dari Universitas Hasanuddin, Andang Suryana Soma, P.hD., mengakui perlunya model pendidikan siaga bencana.

Hal itu harus dimulai sejak dini yakni pendidikan kepedulian lingkungan dan siaga bencana serta pendidikan attitute saling menghargai sesama manusia. Ini dimulai dari tingkat paling dasar atau Taman Kanak-kanak (TK).

KLIK INI:  Kawasan Wisata Bantimurung Berbenah Pasca Banjir

Selain itu, kata Andang, pendidikan ke masyarakat dewasa juga perlu dilakukan. Sifatnya bisa non formal dengan melibatkan kelompok pemerhati lingkungan.

“Pendidikan siaga bencana juga perlu diterapkan secara berkala, misalnya setiap tahun ajaran baru. Fungsinya adalah untuk meminimalisir korban apabila terjadi bencana,” kata Alumni Kyushu University Jepang ini.

Selain itu, pemerintah juga harus memulai berpikir membuat peringatan dini apabila terjadi bencana. Caranya adalah dengan mengintegrasikan dengan sistem telekomunikasi handphone.

“Hal seperti ini sudah diterapkan di Jepang. Jadi, walaupun orang Indonesia berlibur ke Jepang, tetapi terkoneksi dengan jaringan di Jepang, maka tetap akan mendapatkan pesan peringatan,” tutupnya.

Cina, Jepang bahkan Filipina telah menerapkan pendidikan siaga bencana sejak usia dini. Lalu, kita kapan?

KLIK INI:  Membangkitkan Pesona Mangrove di Karang Cadas
Editor: Ian Konjo

KLIK Pilihan!