Safari Malam di Rimba Pattunuang Mengamati Tarsius Fuscus

oleh -92 kali dilihat
Safari Malam di Rimba Pattunuang Mengamati Tarsius Fuscus
Tarsius fuscus memiliki ukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa dengan ekor yang lebih panjang dari ukuran tubuhnya. Foto: Taufiq Ismail
Taufiq Ismail

Klikhijau.com – Tarsius. Satwa mungil. Satwa imut yang menghuni hutan. Meriuhkan hutan di kala senja menyapa. Mungkin karena itulah membuatnya jarang terlihat. Ya.. Tarsius adalah binatang malam. Satwa yang aktif pada malam hari.

Tak banyak taksa yang aktif pada malam hari. Ular, katak, dan ngengat adalah beberapa di antaranya.

Kehadiran mereka kala malam membuat hutan terasa terus berdetak.

Akhir Mei 2021 lalu saya menjelajah hutan mencari Tarsius. Mencari Tarsius sebagai objek. Objek sasaran kamera.

Saya mengawal Eko Cahyo, fotografer satwa liar asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Rasa penasaran akan Tarsius fuscus dan julang sulawesi mengantarkannya hingga ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Teknologi komunikasi memudahkan saya dan Eko bertemu. Sore itu kami kopi darat di bawah gerbang kupu-kupu Bantimurung.

Bersama sang pawang tarsius taman nasional, kami menerabas hutan berbatu gamping taman nasional.

Mencari kedua satwa incaran. Rangkong menjadi sasaran pertama. Pado, petugas taman nasional, bersama kami hari itu. Pado menjadi pemandu kami. Pado mengantar kami mengunjugi lokasi terakhir ia bersua dengan rangkong. Ia bersua beberapa hari sebelumnya.

KLIK INI:  Lebih Dekat dengan Monyet Surili, Maskot PON Jabar 2016

Saat tiba di lokasi, hari masih terang. Kumandan azan Ashar belum lama berlalu.

Saat tiba di spot tujuan, Pado menunjukkan pohon singgah sang burung Julang sulawesi, Aceros cassidix. Kami menunggu kedatangannya. Begitulah pehobi fotografi satwa. Kudu sabar dan tabah.

“Lebih baik menunggu dari pada mengejar,” ujar Eko. Sebagai tukang foto berpengalaman, ia telah menyiapkan peralatan pertempuran lengkap. Termasuk seragam tempurnya.

Untuk alat fotografi, Eko telah menyiapkan peralatan standar: kamera plus lensa tele dan tripod. Untuk penyamaran, Eko memakau kamuflase. Baju yang serupa angkatan bersenjata. Baju yang mirip dengan warna di alam: coklat dan hijau.

Saya, Eko, dan Pado, menunggu. Terus menunggu. Hingga tak terasa sudah lebih dari sejam. Pado menyarankan untuk menyudahi. “Sepertinya tidak ada tanda-tanda alo’nya mau datang,” ujar Pado, pemandu taman nasional, berpengalaman itu.

Pado juga melihat jamnya. Sudah hampir pukul 17.00 Wita. Saatnya mencari satwa incaran kedua: Tarsius.

“Tarsius sudah mau keluar dari sarang. Ayo kita menuju spot,” ajak Pado.

Saya dan Eko dengan sigap mengikuti ajakan Pado.

KLIK INI:  BKSDA Sulut Lepasliarkan Elang Paria dan Ular Sanca Lembang di Cagar Alam Lakon

Pado cukup mengenal hutan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Apalagi di wilayah Resor Pattunuang. Ia sehari-hari bertugas di sana. Belum lagi Pado adalah warga asli di kampung itu.

Kelihaiannya mengamati satwa menjadi daya tariknya. Tak hanya itu, peneliti juga begitu membutuhkan kepiawaiannya.

tarsius rangkong
Sepasang julang sulawesi bertengger pada pohon yang berada di puncak menara karst. Foto: Usman

Pado dengan penuh semangat berjalan menuju titik pengamatan kedua. Lokasi yang menjadi tempat hidup Tarsius fuscus. Habitatnya berupa hutan yang berada di batuan gamping.

“Tarsius di sini bersarang di celah-celah batu karst. Mereka biasanya mencari batu yang berlubang. Beda di tempat lain. Seperti di Tangkoko mereka bersarang di pohon beringin atau bambu,” terang Pado.

Pado memimpin saat mulai menerabas hutan berbatu gamping. Saya dan Eko selalu siaga dengan kamera di tangan. Selang beberapa lama, Pado memelankan langkahnya. Pertanda lokasi habitat tarsius sudah dekat.

Tak lama kemudian, Pado, mulai menunjuk ke arah batu cadas di depannya. “Di sana tarsiusnya,” Pado memberi tahu.

Eko saya persilahkan untuk mendekat. Mengikuti petunjuk Pado. “Wah.. Tarsiusnya bersembunyi di batu. Masih malu-malu keluar,” Eko berbisik.

KLIK INI:  Kebun Binatang Surabaya Berhasil Tetaskan 74 Telur Komodo

Kami kemudian menunggu sang satwa keluar dari sarang. Setelah beberapa saat ternyata balao cangke-nya keluar di lain arah. Kami coba mengikutinya. Namun tak membuahkan hasil. Ia melompat dengan lihainya.

Batu berduri menghadang di mana-mana. Menyulitkan kami menyusulnya.

Pado kembali memberi kode untuk menyudahi pencarian.

Pado masih punya lokasi lain yang menjadi tempat beraktivitas tarsius. Kali ini lokasinya cukup jauh dari lokasi pertama. Harus berkendara lagi menuju lokasi.

Lokasinya tak jauh dari sungai. Situasi habitatnya hampir sama — berbatu gamping.

Saat hampir tiba di lokasi pengamatan tarsius, beberapa ekor julang sulawesi melintas di atas sungai.

Eko dengan sigap membidikkan kameranya. “Sayang, enggangnya terlalu jauh. Kamera saya tak sanggup menjangkaunya,” keluh Eko.

Julang sulawesi terbang berdua. Sepertinya akan kembali ke pohon tidur. Mengunjungi pohon yang berada di puncak menara karst. Begitu tinggi. Lebih dari 500 meter. Membuatnya terlihat lebih mini. Meski dengan lensa tele sekali pun.

Eko cukup senang.  Bisa melihatnya secara langsung. Ia hanya kecewa tak mampu mengabadikannya.

KLIK INI:  Selain Burung, 4 Satwa Liar Dilindungi Ini Juga Banyak Beredar di Pasar Ilegal Sulsel
Bersua dengan Tarsius

Kami bertiga melanjutkan perjalanan. Menyusuri Sungai Pattunuang. Hari mulai gelap. Tanpa dikomando kami menyalakan senter mini yang menempel di jidat kami.

Berjalan perlahan menapaki jalan berbatu yang cukup licin.

Tak lama kemudian kami tiba di pohon yang rimbun. Liana melilit di mana-mana. Menjadi habitat yang cocok bagi tarsius.

Tak perlu menunggu lama. Pado kemudian memberi kode. Pertanda ia melihat tarsius.

Dengan sigap saya dan Eko mendekat. Mencari tarsius yang baru keluar dari sarangnya.

Benar saja dua ekor tarsius sedang bersiaga. Mencari makan. Mata selalu siaga. Memantau sekitar. Sedikit saja gerak serangga di sekitar menjadi fokusnya.

Tarsius menyukai ngengat, cicak hutan, jangkrik, hingga belalang. Saat melihat pergerakan mangsa dengan sigap ia mengawasi. Saat berada pada jarak yang tepat, ia segera menyergapnya.

Menerkam mangsanya dengan cara melompat. Menangkap leher sang mangsa kemudian mengeksekusi bagian kepala terlebih dahulu.

Tarsius adalah pemburu ulung. Ia memiliki sejumlah keunggulan dalam berburu.

KLIK INI:  Ancaman Pengakuan Negara Tetangga Mengintai Puluhan Ribu Tanaman Obat Indonesia

Matanya yang besar sangat efektif kala malam. Memantau setiap pergerakan sekitarnya. Telinga juga yang tergolong cukup lebar begitu peka. Mendeteksi suara menjadi penanda keberadaan mangsa incaran.

Belum lagi kemampuannya melompat. Tarsius bisa melompat hingga tiga meter. Lompatan yang terbilang jauh dengan ukuran satwa yang terbilang mungil.

Panjang badan Tarsius fuscus sekitar 12 cm. Seukuran kepalan tangan orang dewasa. Ekornya lebih menjuntai hingga sepanjang 27 cm. Nampak unik.

Kami terus mengawasi pergerakan tarsius. Memotretnya sembari mengamati perilakunya.

Saya terus mengikuti pergerakan salah satu tarsius amatan. Saya mengikuti gerakannya saat ia mengincar seekor cicak hutan. Matanya tak berkedip memantau pergerakan sang cicak. Saat berada dalam jangkauan ia segera melompatinya. Menerkamnya.

Tarsius tersebut kemudian kembali ke ranting awal sebelum ia menyergap. Menyantap cicak buruannya.

Wah.. seru juga mengamati satwa di malam hari. Pengalaman menarik. Eko merasa seperti safari malam. Rasanya seperti mengamati satwa di kebun binatang di malam hari.

KLIK INI:  Konflik dengan Warga, Sebab Terbesar Matinya Gajah Sumatera di Aceh

Bagi kami, ini lebih menantang. Karena satwa amatan berada di tempat hidup alaminya. Jadi kemungkinan tidak bertemu sangat besar.

Kelihaian pemandu dan keberuntungan terkadang menjadi penentu.

Puas rasanya menikmati sajian alam yang memukau ini. Karena sesungguhnya jika seseorang mencintai sesuatu, terkadang tak perlu memiliki. Cukup membiarkannya hidup tentram di tempat semestinya. Itu sudah lebih dari cukup.

Karena kebutuhan satwa tak sekedar makanan. Selayaknya makhluk hidup, mereka butuh pasangan. Mereka butuh ruang yang lapang untuk bergerak. Belum lagi menjalankan kodratnya dari sang penciptanya. Menjadi pengontrol populasi satwa lainnya. Atau jika tidak menjadi mangsa dari satwa lain. Menjadi bagian dari rantai makanan di alam.

Karena sesungguhnya, setiap ciptaan Tuhan di muka bumi ini memiliki faedah tersendiri.

Yuk.. jaga alam kita. Banyaklah belajar dari alam. Karena kita sebagai manusia sesungguhnya adalah bagian dari alam. Kita bukanlah penguasa yang bebas mengekplorasi alam.

KLIK INI:  11 Fakta Menarik Buaya Muara yang Dilepasliarkan di TN Way Kambas