Rumah Peradaban

Publish by -95 kali dilihat
Cerpen - Rumah Peradaban
Ilustrasi-Muhammad Amir Jaya

Lelaki berkaca mines itu dengan tinggi badan sekitar 160 cm selalu bermimpi untuk kembali ke kampung halamannya. Diusianya yang sudah berkepala lima (58 tahun), ia ingin menikmati masa tuanya di kampung halamannya yang pernah menyimpan banyak kenangan waktu masih muda. Ia ingin kembali menikmati aroma tanah, desah pepohonan, desau angin dan gemericik air kali. Ia ingin sejarah dan kenangan itu berulang dalam hidupnya seperti dulu.

Rumah panggung orang tuanya yang terletak di Desa Pising, 45 tahun yang lalu, memang penuh kenangan. Lelaki yang kini mulai menapak senja itu, waktu masih belia, menghabiskan waktunya di belakang rumahnya. Bersama teman-teman sebayanya, mereka berjam-jam mandi di kali yang airnya jernih dan sejuk. Sesudah itu mereka akan naik ke tepi sembari menjemur dirinya dengan sinar sang surya yang menelisik dari celah rimbun pohon. Mereka benar-benar menikmati keindahan alam, kesejukan air yang menyatu dengan desah rimbun pohon.

Kenangan itu berubah saat lelaki berkaca mata mines itu hijrah ke kota. Dan kini sudah memasuki tiga puluh delapan tahun lebih hidup di kota. Ia pun tak pernah lagi menikmati keindahan alam yang sejuk. Yang ia rasakan adalah kehidupan kota yang keras dan tak bersahabat. Setiap hari ia bergelut dengan kemacetan, dan menghirup udara yang menyesakkan. Ia berkelahi dengan waktu, yang kadang-kadang harus mengutuk diri sendiri karena tidak mampu melawan pola hidup yang penuh egoisme. Ditambah lagi hutan-hutan beton yang pongah membuatnya sesak napas.

Hidup di kota, dengan pola hidup yang hampir sembilan puluh sembilan persen menganut pola hidup sendiri-sendiri telah membuat hatinya tidak lagi peka. Dan, jika ini dibiarkan, maka ia akan menjadi manusia membatu. Manusia yang dianugerahi akal, pikiran, pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa dan hati namun seluruh panca indera itu tak berfungsi.

KLIK INI:  Suatu Pagi, Bumi Mati di Sebuah Kota

Ia pun merancang jalan hidupnya. Ia ingin berbuat sesuatu yang bisa bermanfaat. Ya, bermanfaat bagi banyak orang. Dan tentu saja bernilai ibadah di sisi-Nya. Ia ingin di dalam sisa hidupnya, ada sesuatu yang disimpankan untuk anak cucunya kelak. Ia ingin di kampungnya itu lahir sebuah peradaban.

Mulailah lelaki itu berkonsultasi dengan istrinya. Ia mengutarakan bahwa disisa hidupnya, ia ingin membangun rumah peradaban di kampung halamannya, di atas tanah ayahnya yang pernah membangun rumah panggung besar. Saat itu, rumah ayahnya menjadi sebuah magnit. Masyarakat desa sering berkumpul di rumah panggung ayahnya itu. Karena memang ayahnya, pasca pensiun dari tentara dipilih menjadi Kepala Desa pada masa orde baru.

Istrinya menyambut baik keinginan suaminya. Apalagi ketika ia memberi alasan bahwa rumah panggung yang akan dibangunnya itu adalah rumah panggung seperti rumah ayahnya jaman dulu, yang seluruh tiang dan dindingnya terdiri dari kayu jati dengan atap daun nipah. Rumah panggung itu akan diisi dengan ratusan dan bahkan ribuan buku-buku serta barang-barang kuno dan antik. Tujuannya adalah supaya masyarakat desa bisa menikmati peradaban baru dengan banyak membaca buku dan menikmati barang-barang kuno.

Disekitar rumah panggung itu akan ditanami beraneka tanaman dan tumbuhan dengan desain yang unik dan estetis. Dengan demikian warga desa bisa membaca buku sambil menikmati keindahan tanaman dan desau pepohonan.

“Masyarakat desa butuh suasana baru dengan memberinya suguhan buku-buku supaya mereka cerdas, tetapi juga menikmati kesejukan alam,”kata lelaki itu optimis.

Istrinya hanya tersenyum mendengar alasan suaminya. Tetapi di dalam hatinya sesungguhnya menyela bahwa yang dibutuhkan masyarakat desa adalah modal usaha, agar mereka bisa melanjutkan usaha dagangannya yang mulai terseot-seot karena tidak mampu bersaing dengan pengusaha yang memiliki modal besar. Masyarakat di desa ini umumnya adalah pedagang di pasar. Hanya sebagian kecil yang memiliki profesi bertani.

KLIK INI:  Lelaki yang Menjelma Api

Lelaki itu pun berharap, jika istri dan anak satu-satunya itu setiap bulannya paling tidak mereka berlibur seminggu di kampung halamannya. Karena usahanya di kota sudah mapan. Lelaki itu memiliki usaha percetakan, rumah makan, apotik dan lain-lain. Semua usahanya itu dikendalikan oleh orang-orang kepercayaannya. Karena itu. keluarganya memiliki waktu yang cukup untuk menikmati hidup segar dan nyaman di kampung.

***

DUA tahun kemudian lelaki berkaca mines itu benar-benar menjadi kenyataan. Di atas tanah almarhum ayahnya yang luasnya 30 x 40 meter itu dibangunlah rumah peradaban, yang merupakan rumah panggung terasri di desa itu. Isinya ratusan judul buku-buku, barang antik, lukisan dan benda-benda bersejarah lainnya. Disekitar rumah panggung itu, juga tumbuh tanaman dan pohon yang menyejukkan.

Pokoknya, rumah panggung itu menjadi pusat peradaban baru di desa itu. Warga desa mulai dari anak-anak kecil, remaja hingga orang tua, ketika mereka pulang dari pasar, atau pulang dari berkebun, mereka menghabiskan waktunya membaca buku-buku di rumah peradaban, yang memang disiapkan secara gratis oleh lelaki berkaca mines itu.

Lelaki berkaca mines itu, kini sungguh-sungguh menikmati sisa hidupnya bersama keluarganya di desa yang dicintainya.[]

Biodata Penulis:

Muhammad Amir Jaya, lahir di Tanaberu (Selayar). Aktif menulis cerpen, esei, puisi dan opini diberbagai media massa. Kumpulan cerpennya yang terbaru Janda Perawan yang Dilempar Keluar Jendela. Dapat dihubungi melalui email: m.amirjaya@gmail.com atau HP 0852 5571 3450.

KLIK Pilihan!