Rincian Lengkap Target Rehabilitasi Mangrove hingga 2024

oleh -21 kali dilihat
Pelestarian Lingkungan Berada di Tangan Restorasi Mangrove
Hutan mangrove Tongke-tongke, Sinjai/foto- Idris
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Percakapan saya dengan Alimuddin masih terngiang. Alimuddin telah berada di usia senja. Namun, masih kokoh ke laut mencari kerang.

Di hari Sabtu, 2 Oktober 2021 lalu. Saya mengunjungi Kawasan Wisata Mangrove Luppung. Destinasi wisata itu berada di Desa Manyampa, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Di sanalah saya bertemu Alimuddin. Ia merupakan warga Desa Manyampa, di mana Kawasan Wisata Mangrove Luppung berada. Percakapan kami singkat saja di sebuah gasebo yang telah di lokasi hutan mangrove tersebut.

“Jika tidak ada ini bako, mungkin air laut sudah sampai ke rumah penduduk. Apalagi di bulan Januari saat ombak tinggi,” terang Alimuddin.

KLIK INI:  Tentang Jejak Karbon Online dan 5 Cara Menguranginya

Bako yang dimaksud olehnya adalah bakau atau mangrove. Tanaman pesisir ini memang memiliki peran yang penting sebagai “penjaga pantai”. Manrove bisa mengendalikan abrasi pantai, bahkan  mereduksi dampak dari bencana tsunami.

Tanaman ini juga berperan sebagai penguatan green economy. Karenanya, pemerintah terus berubaya merehabilitasi tanaman yang penuh manfaat ini.

Pemerintah telah punya agenda tersendiri untuk merehabilitasi mangrove hingga 2024. Target luasnya tak main-main, 600.000 ha

Bahkan kini masalah mangrove telah memiliki badan tersendiri, namanya Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

BRGM ini dinahkodai Satyawan Pudyatmoko sebagai deputi. Nah, perihal target rehabilitasi mangrove sampai tahun 2024 tak dilakukan sekaligus, tapi bertahap.

Satyawan mengungkapkan bahwa secara garis besar target rehabilitasi mangove itu dapat dirinci sebagai berikut:

  • Tahun 2021

Pada tahun 2021 ini, yang dilakukan adalah pembentukan kondisi pemungkin. Hal ini mencakup penguatan basis perencanaan, koordinasi antar lembaga terkait, di antaranya Dirjen PDAS-RH, Dirjen KSDAE, KPH, Kepala Daerah, Kepala Desa, dan Kelompok Masyarakat.

Selain itu, langkah lain yang diambil adalah  penguatan organisasi kerja, inisiasi pembentukan DMPM atau Desa Mandiri Peduli Mangrove, dan pelaksanaan rehabilitasi mangrove seluas 29.500 ha.

KLIK INI:  Deforestasi Menyeret Kota Pesisir ke Ujung Tanduk
  • Tahun 2022

Pada tahun 2022 mendatang, rehabilitasi mangrove yang masuk perencanaan seluas 228.200 ha. Untuk mewujudkan hal itu maka akan dilakukan penguatan terhadap rintisan DMPM pada tahun 2021, dan pembentukan DMPM baru sebanyak 50 Desa.

Di tahun yang sama pula (2022) akan dilakukan pula upaya-upaya koordinasi untuk mengintegrasikan rehabilitasi mangrove dalam pengelolaan hutan dan lahan.

  • Tahun 2023

Program pada tahun 2023 yang akan dilakukan terkait rehabilitasi mangrove adalah membentuk  50 DMPM baru  secara bersamaan.

Langkah lain yang akan diambil adalah penguatan DMPM yang sudah ada, dan program integrasi rehabilitasi mangrove dalam pengelolaan hutan dan lahan mulai dilakukan.

Pada tahun 2023 mendatang, rehabilitasi mangrove ditargetkan mencapai luas  199.675 ha.

  • Tahun 2024

Pada tahun 2024 mendatang, program yang akan dilaksanakan adalah rehabilitasi mangrove seluas 142.625  ha.

Pada tahun itu, akan dibentuk lagi 50 DMPM baru. Sementara DMPM yang sudah ada akan semakin diperkuat.

Pada tahun 2024 itu pula integrasi rehabilitasi mangrove dalam pengelolaan hutan dan lahan telah tuntas terlaksana.

Jika apa yang diungkapkan oleh Satyawan benar-benar terwujud, maka kawasan pesisir Indonesia bisa terselamatkan dari abrasi pantai.

Tidak hanya itu, semakin banyak hutan mangrove yang tumbuh, maka lingkungan pesisir dan ekonomi masyarakat bisa terdongkrak.

Mangrove, tidak bisa dipungkiri, bukan hanya sebagai penyelamat ekologi, tetapi bisa pula menjadi penyelamat ekonomi masyarakat dan menyerap polusi.

Kawasan wisata mangrove telah menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Semakin ramai pengunjung, akan semakin baik pula manfaatnya bagi masyarakat sekitar.

Mangrove juga bisa jadi “rumah” bagi bragam biota laut yang bisa dimanfaatkan pula oleh warga untuk mendongkrak perekonomiannya.

Namun perlu diingat, meski hutan mangrove tidak membawa manfaat secara ekonomi, tetapi kehadirannya tak akan sia-sia. Sebab manfaatnya secara ekologi tetap bisa dinikmati. Salah satunya menyelamatkan kawasan pesisir dari terjangan gelombang seperti yang diungkapkan oleh Alimuddin.

KLIK INI:  Mengenai Pangan dan Istilah Tentangnya Berdasarkan Undang-Undang