Richard Mathews: Beban Limbah Plastik Berpotensi Menghambat Pertumbuhan Ekonomi

Publish by -29 kali dilihat
Penulis: Anis Kurniawan
Konsul Jenderal Australia di Makassar Richard Mathews bersama narasumber lainnya usai diskusi di Mall Pipo, Kamis 6 Februari 2020. Foto: Ist

Klikhijau.com – Konsul Jenderal Australia di Makassar, Richard Mathews menegaskan betapa masalah global dunia saat ini salah satunya adalah sampah plastik. Hal itu dijelaskan Richard saat tampil sebagai pembicara pada Talkshow bertajuk “kebijakan pengelolaan sampah” di Mall Pipo Makassar, Kamis 6 Februari 2020.

Kegiatan yang menjadi rangkaian acara “Kemitraan Menjaga Bumi” ini juga menghadirkan Ketua DPRD Sulsel, Kepala Pusat P3E Suma KLHK, akademisi dan Ketua Asobsi. Dalam pidatonya, Richard mengatakan, pengelolaan sampah dan limbah adalah tantangan paling penting di dunia. Pasalnya, masalah sampah berkaitan dengan perubahan iklim dan masa depan anak.

“Limbah plastik yang dihasilkan dari kegiatan industri, bisnis, dan masyarakat sendiri sangat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Limbah plastik juga membawa beban biaya yang sangat besar yang bisa menghambat pertumbuhan perekonomian Indonesia,” tegas Richard.

Secara global, lanjut Richard, jika masalah limbah plastik ini tidak terkendali, pada tahun 2025 di dalam lautan dan samudera dunia, akan ada 1 ton plastik per setiap 3 ton ikan. Masalah ini tentu dapat menghancurkan kehidupan laut dan samudera dan pada gilirannya, merugikan kesejahteraan, termasuk di Indonesia.

KLIK INI:  Ini Ancaman Terbesar yang Mengepung Laut dan Isinya karena Ulah Manusia

Sampah juga menghambat pertumbuhan ekonomi

Dampak negatif dari limbah plastik juga berpotensi merusak industri-industri besar di Indonesia seperti industri perhotelan dan pariwisata. Padahal, kata Richard, pariwisata menyumbang pendapatan negara dan akses tenaga kerja yang besar.

“Menurut World Travel dan Tourism Council, pada tahun 2018 industri pariwisata dan perhotelan memberikan kontribusi senilai 62,6 miliar dolar US kepada ekonomi Indonesia. Hampir 13 juta orang Indonesia bekerja di sektor pariwisata dan perhotelan,” katanya.

Masalahnya beban limbah plastik yang dibuang ke lautan akan menimbulkan masalah besar di daratan. Hal ini, kata Richard disebabkan oleh tindakan manusia yang masih terbiasa membuang sampah ke lautan.

“Kata Ibu Susi (mantan Menteri Kelautan), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun di mana sebanyak 3.2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85,000 ton kantong plastik,” ungkapnya.

Lalu, sebagian besar sampah plastik yang masuk ke laut tersebut akan menjelma menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplastics dengan ukuran 0,3 – 5 milimeter. Mikroplastik ini sangat mudah dikonsumsi oleh hewan-hewan laut dan tentu akan berdampak pada kesehatan manusia.

KLIK INI:  Kanada Akan Berlakukan Larangan Plastik Sekali Pakai Tahun 2021

Bagaimana menghadapinya?

Richard Mathews mengajak kita untuk mengubah perilaku dan minset dalam menangani sampah plastik. Selain pencegahan juga diperlukan penanganan dalam bentuk daur ulang limbah plastik.

Richard mencontohkan, program limbah menjadi energi atau waste to energy menawarkan peluang baru bagi kota-kota besar.

“Di Australia misalnya, sebuah pabrik waste to energy dapat memproses sekitar 400,000 ton limbah padat setiap tahun yang menghasilkan sekitar 36 megawatt daya listrik. 36 megawatt cukup untuk menyuplai listrik kepada 50,000 rumah. Sekarang ada lebih dari 30 pabrik waste to energy di Australia,” katanya.

Peluang lain, lanjutnya adalah daur ulang dan penjualan kembali plastik dan produk plastik. Untuk diketahui, semua plastik dibuat dari bahan asli dari minyak dan gas. Plastik adalah 100% polimer. Berdasarkan harga polimer, saat ini terdapat peluang miliaran dolar untuk mendaur ulang dan menjual plastik baru.

“Salah satu contoh adalah sebuah perusahaan Australia yang memiliki pabrik manufaktur palet kargo, di Surabaya. Secara tradisional palet kargo terbuat dari kayu, tetapi perusahaan ini mencari plastik bekas yang didaur ulang menjadi palet kargo yang kuat dan yang tahan lama,” jelasnya.

Apa yang disampaikan Richard tersebut tentu sebuah peluang besar bagi pengelolaan sampah plastik di Indonesia. Poinnya adalah mendaur ulang plastik itu bagus dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi.

Oleh sebab itu, kata Richard, yang bisa dilakukan saat ini adalah terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.

Caranya? Ini pekerjaan rumah yang tidak ringan. Perlu waktu dan kolaborasi secara terus menerus. Seperti kata Richard, gerakan kampanye pengurangan sampah plastik adalah membutuhkan energi besar dan digerakkan secara berkelanjutan.

KLIK INI:  Begini Strategi Khusus Kemenhub Atasi Beban Sampah Plastik di Laut!
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!