Retornous A La Nature!

Publish by -105 kali dilihat
Penulis: Alfian Nawawi (Petani dan seorang Barista)
Retornous A La Nature
Ilustrasi - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – “Retornous a la nature!”, Marilah kita kembali ke alam! Begitu Jean Jacques Rousseau pernah bersuara lantang Kepada peradaban Barat di abad 18.

Entah sejak kapan bermula sebagian kita mengakrabi rasa berbahagia turun-temurun dalam menginvasi kota-kota. Lebih separuh pada setiap generasi lahir di rumah sakit. Separuh lagi lainnya justru mati di rumah sakit.

Ternyata Rousseau tidak mengajak manusia Barat tinggal di hutan dan memakai baju dedaunan atau kulit hewan. Bahkan ia tidak mengajak kita untuk menjadi kaum nudis. Ia merayu kita untuk Retornous a la nature!”.

Jauh setelah jaman romantik berlalu. Benarkah ada gejala sebagian umat manusia mulai akrab dengan kalimat “back to nature” atau cuma sekadar jejak vandalisme di tembok kota? Benarkah mereka serius  kembali ke alam? Tanpa bertemu dengan zat kimia apa pun!

Kedengarannya serupa dongeng. Namun teori sekaligus praktik cara bertahan di alam liar kerap diajarkan di televisi dalam dua dekade terakhir.

KLIK INI:  Perihal Corona, 6 Hal Ini Harus Jadi Perhatian Pemerintah untuk Difabel

Robinson Crusoe versi modern. Robinson Crusoe adalah satu-satunya penumpang yang selamat dari sebuah kapal yang ditenggelamkan badai. Crusoe terlempar dan terdampar di pulau tak bertuan. Crusoe pun kembali ke alam. Dia berhasil bertahan hidup bertahun-tahun. Suatu hari sebuah kapal lewat dan menyelamatkannya. Acara-acara survivor selalu berupaya mengulang kisah itu.

Satu-satunya alasan kita mencintai teknologi yaitu kemudahan yang ditimbulkannya. Hingga hal-hal sekecil-kecilnya. Mana ada barang di rumah kita yang tidak disentuh teknologi.

Peradaban kita menyepakati bahan-bahan penyembuh dari alam wajib diproses melalui teknologi. Toh kapsul dan tablet sangat kecil dan ringan. Benda-benda berbahan pengawet itu datang ke rumah kita setelah melewati tiga fase: rasio, empiri, dan teknologi.

Jaman romantik pernah berlangsung sebagai reaksi terhadap semua penggunaan rasio  dan empiri. Akal dan indera pengamatan yang digunakan berlebihan memang menumpulkan naluri kemanusiaan. Sejarah punya banyak catatan buruk terhadap peradaban Barat.

KLIK INI:  Mengapa Kita Harus Memilih Caleg Peduli Lingkungan?
***

Maka jaman romantik adalah juga altar kelahiran seni dan sastra. Dari sana muncul Rousseau, Victor Hugo, Walter Scott, Keats, Shelley, dan Herder. Musik melahirkan Beethoven, Mozart, Schubert, Chopin, dan Bahms. Jaman itu pun menyentuh wilayah teologi dan filsafat.

Kemunculan jaman romantik mengisi ruang-ruang kosong manusia Barat yang dahaga mencari kedamaian. Mereka begitu lama ditinggal perasaan, feeling dan intuisinya sendiri. Terlalu lama mereka hidup dalam kalkulasi otak dan pencapaian tujuan hidup yang hanya diisi oleh kebendaan. Dunia akal sungguh membuat tumpul.

Upaya kembali ke alam justru dilakukan lebih dulu di Timur. Tidak dibutuhkan jaman romantik untuk melahirkan kaum herbalis. Di Timur yang tropik bertumbuhan obat-obat alami. Ia bisa menopang daya hidup manusia.  Dari Timur sampai ke Barat.

Di saat dunia gelisah terhadap pandemi covid-19 misalnya, memantik daya inovasi Irawan Paturusi di Makassar. Bahan-bahan alami diraciknya menjadi Jus C-19. Sama sekali tanpa campuran zat kimia.

Puluhan pasien positif covid-19 membuktikan dirinya bisa sembuh. Jus herbal itu rupanya membangun imunitas sambil bertempur melawan virus, terutama corona. Soal penguasa mau atau pun enggan meliriknya maka itu bukan hal esensial.

KLIK INI:  Reforma Agraria dalam Perspektif Ekologi Politis

Bagi seorang Irawan, mencoba menyelamatkan sesama memang bukan wilayah bisnis. Tapi menyelamatkan orang banyak dalam jangka panjang juga membutuhkan nafas finansial.

Begitulah, obat-obat alami akhirnya harus mendapatkan konsumennya. Para penderita harus membayar untuk kesembuhan. Dan itu sah pula bagi jaman romantik di Barat. Penonton membeli tiket untuk kepuasan batin menonton orkestra dan teater.

***

Seorang sahabat di Bulukumba memperkenalkan kepada saya minuman kesehatan yang difermentasi dari sari bambu. Beberapa orang yang layak dipercaya mengakui khasiatnya. Sri Puswandi,  pemuda dari Desa Salassae itu bukan penemunya. Dia salah seorang yang meyakini pelestarian resep leluhur di kampungnya akan membuat sehat lebih banyak orang.

Semasa kecil sampai sekarang, orang-orang di kampung saya mencari buah kunrulu ketika ada seseorang terduga kena gejala tyfus. Dan memang akhirnya sangat jarang mereka mendatangi rumah sakit. Sakit perut dan mencret bisa sembuh dengan air remasan pucuk daun jambu. Sama sekali tidak berbentuk kapsul. Hanya dicampur secuil garam dapur.

Orang-orang tua dahulu biasanya segera mencari pohon  “tanging-tanging” ketika mendengar anaknya mengerang akibat sakit gigi.

Sakitnya benar-benar hilang setelah gigi kita diolesi getah pohon itu. Kita saja yang begitu kejam tidak merawat pohon itu. Giliran orang tua kita sakit gigi, anak-anaknya langsung melompat ke apotek membeli tablet pereda nyeri. Barangkali anak-anaknya tidak mengenal Jean Rousseau.

KLIK INI:  Benarkah Herbal dan Rempah-Rempah Tradisional dapat Menangkal Corona?
Editor: Anis Kurniawan

KLIK Pilihan!