Restorasi Hutan, Pengertian dan Manfaatnya

oleh -51 kali dilihat
Restorasi Hutan, Pengertian dan Manfaatnya
Ilustrasi - Foto/Ist

Klikhijau.com – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2021 mengambil tema “Restorasi hutan”.

Tema ini sangat relevan dengan deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2021-2030 sebagai dekade PBB restorasi ekosistem (UN Decade on Ecoayatem Restoration).

Restorasi sendiri dapat dimaknai sebagai suatu istilah yang digunakan dalam kegiatan pengawetan pengelolaan kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam.

Dalam aktivitas pengawetan dikenal istilah pemulihan ekosistem yakni suatu kegiatan yang bertujuan memulihkan struktur, fungsi, dinamika populasi, serta keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.

Restorasi dapat dilakukan melalui kegiatan pemeliharaan, perlindungan, penanaman, pengkayaan jenis tumbuhan dan satwa liar, atau pelepasliaran satwa liar hasil penangkaran atau relokasi satwa liar dari lokasi lain.

Istilah restorasi juga dikenal dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut. Dalam PP No. 57/2016 pasal 30 ayat (3) disebutkan bahwa pemulihan fungsi ekosistem gambut dilakukan melalui suksesi alami; rehabilitasi; restorasi; dan/atau cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

KLIK INI:  Memahami Pengertian Efek Rumah Kaca, Penyebab dan Dampaknya
Manfaat restorasi hutan

Sejumlah manfaat utama dari kegiatan restorasi hutan adalah:

1. Mencegah kebakaran hutan

Salah satu kawasan yang rawan terhadap kebakaran hutan di TNWK adalah kawasan Rawa Kadut. Kawasan ini merupakan area padang rumput dengan intensitas kebakaran sangat tinggi, sehingga perlu dikelola dengan baik agar tidak memicu kebakaran hutan.

Caranya dengan membangun sekat bakar, membuat jalur pemisah antara kawasan yang rawan terbakar dan kawasan restorasi, serta membersihkan jalur ini dari ilalang.

Setelah mencermati upaya rehabilitasi sebelumnya, Timer Manurung Timer Manurung, Ketua Yayasan Auriga Indonesia, membenarkan bahwa kebakaran merupakan hambatan utama restorasi di TNWK.

Pelaku perburuan liar sering kali dengan     sengaja memicu kebakaran hutan agar tumbuh ilalang muda. Satwa-satwa yang kemudian berkumpul di area ilalang muda dapat memudahkan mereka dalam melakukan perburuan.

KLIK INI:  Pendugaan Cadangan Karbon, Tren Sisi Pandang Hutan Terkini
2. Menghambat perburuan liar

Basuki, Koordinator Proyek Restorasi Auriga di Way Kambas, menjelaskan bahwa upaya restorasi secara tidak langsung akan menghambat perburuan liar. Pertumbuhan pohon di hutan akan menjadi banteng penjaga bagi satwa di kawasan TNWK, seperti gajah, rusa, harimau, dan satwa-satwa lainnya.

“Restorasi harus dilakukan secara integral dengan melibatkan masyarakat lokal. Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran, dan adanya sumber ekonomi alternatif. Keterlibatan masyarakat termasuk dalam hal penanaman bibit maupun kegiatan ekonomi yang bersumber dari jasa kawasan hutan, seperti pengembangan wisata edukasi di TNWK dapat dikembangkan.”

Ke depannya, Basuki berharap ada kegiatan wisata edukasi di kawasan konservasi, di mana para tamu yang berkunjung dapat menginap di rumah masyarakat, sehingga dapat menambah pemasukan bagi warga sekitar.

Dr. Mahfut Sodik, Kepala Urusan Program Anggaran & Kerja Sama TNWK, menyampaikan harapannya bahwa restorasi bukan hanya sekedar memulihkan kawasan, tetapi kehadiran petugas dalam restorasi memiliki dampak yang luar biasa. Selama ada petugas, maka satwa akan terlindungi dari perburuan, kebakaran hutan, dan juga membantu dalam pemulihan ekosistem agar satwa bisa hidup dan berkembang biak.

“Saya berharap, kegiatan restorasi di camp (area restorasi) bisa dipertahankan. Walaupun konsepnya adalah restorasi, tetapi ini termasuk juga dalam kegiatan penjagaan dan pemulihan ekosistem. Jika ada petugas, satwa secara otomatis mendekat dan pemburu akan menyingkir” kata Mahfut.

KLIK INI:  Agar Bertahan Hidup Burung Maleo Lintas Provinsi Cari Makan
3. Menciptakan habitat yang baik bagi satwa

Penciptaan habitat yang baik bagi satwa merupakan bagian penting dari upaya konservasi, karena bisa mencegah terjadinya konflik antara satwa dan manusia.

Ketika satwa memiliki habitat yang baik, maka mereka tidak akan kesulitan mencari makan sampai ke permukiman manusia. Pada saat yang sama, ketika habitatnya baik, satwa seperti gajah bisa membantu menjaga ekosistem hutan.

“Kami sering melihat gajah, rusa, harimau yang melintas di kawasan restorasi. Ini artinya mereka merasa nyaman berada di ruang gerak yang dilindungi. Kami berharap proyek penciptaan habitat bisa memberikan dampak yang baik bagi kelangsungan hidup satwa,” kata Basuki.

Tujuan akhirnya tentu adalah keseimbangan ekosistem hutan, baik flora maupun faunanya karena masing-masing memiliki fungsi menjaga alam. Misalnya saja, kotoran hewan yang bisa menjadi pupuk alami bagi tumbuhan.

4. Menekan emisi karbon

Pelestarian hutan sangat berperan dalam mengurangi emisi karbon yang mengakibatkan perubahan iklim. Kegiatan pelestarian hutan di sini termasuk upaya menghentikan deforestasi dan penanaman kembali untuk memperluas tutupan lahan hutan.

Kontribusi hilangnya tutupan lahan hutan terhadap peningkatan emisi karbon sangat tinggi, khususnya di negara-negara tropis. Karena itulah, Perjanjian Paris (Paris Agreement) berfokus pada upaya pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.

KLIK INI:  Mengenang Naif Melalui Lagunya yang Menyuarakan Lingkungan