Rembuk Komunitas MTS, Upaya Kolaborasi Penanggulangan Sampah di Kota Makassar

oleh -70 kali dilihat
Rembuk Komunitas MTS, Upaya Kolaborasi Penanggungan Sampah di Kota Makassar
Wahyuddin Junus

Klikhijau.com – Upaya komunitas Manggala Tanpa Sekat (MTS) tak pernah lelah dalam berikhtiar meretas persoalan sampah Makassar. Hari ini, Senin, (1/8/2022) menjadi babakan kesekian untuk menemukan skema keberlanjutan bagi penanganan sampah secara kolaboratif.

Diskusi nantinya diharapkan menjadi wahana berbagi pengalaman dan ruang kolaborasi dari para pelaku/penggerak yang telah lama bergiat mengurusi sampah. Antara lain, Makmur Payabo (sang pemburu limbah plastik (P3LI);  Ibu Atma yang menjadikan rumahnya sebagai bank sampah bagi pemulung (Bank Sampah Kemuning); Mashud Azikin (penggerak olah sampah organik di Manggala  dan Founder Manggala Tanpa Sekat).

Diskusi kali ini juga diharapkan keikutsertaan  para pemerhati lingkungan, praktisi, akademisi, dan pemangku kebijakan. Acara diskusi mengangkat tema, ‘Brain Storming: Ekonomi Sirkular dan Ruang Kolaborasi Penanggulangan Sampah di Kota Makassar.

Kepada media Klikhijau, Mashud menuturkan, berbagai upaya dalam mengatasi sampah organik menjadi suatu keniscayaan. Termasuk budidaya maggot yang dikembangkan Bank Sampah di Paccerakkang.

KLIK INI:  Demi Sampah, MTS Dorong Pemberdayaan Berbasis Komunitas dengan 4 Implementasi di Lapangan

Namun untuk skala kota Makassar yang volume sampahnya mencapai lebih dari 1000 ton perhari, diperlukan terobosan yang saling terintegrasi berbagai penggerak, baik di tingkat komunitas maupun individu dan berusaha secara mandiri.

“Diperlukan program yang saling berirama satu sama lain. Demi menentaskan dan meminimalkan sampah, ujar Mashud.

Baginya, program budidaya maggot, pengurai cacing dan sebagainya tidak perlu dipertentangkan yang mana lebih baik. Termasuk membuat produk eco enzym yang dibuat MTS, komunitas warga di Manggala.

Persoalan sampah tetap dibutuhkan gerakan penyadaran memilah sampah dari rumah. Sambil mengenalkan pendekatan yang mudah dilakukan dan sifatnya praktis.

“Dibutuhkan metode penanggulangan yang praktis dan mudah dilakukan dalam skala rumah tangga yang bisa dilakukan secara mandiri oleh rumah tangga, ” tutup Mashud.

KLIK INI:  Kisah BSU Hoki dan Pertamina Ubah Paradigma Masyarakat tentang Sampah