Rasa memiliki di Rumah Hijau Denassa

oleh -297 kali dilihat
Rasa memiliki di Rumah Hijau Denassa
Suasana Pasar Pangkal di RHD

Klikhijau.com – Saya merasa seolah memasuki petualangan masa lalu, saat coba memarkir Avanza tak jauh dari pintu masuk Rumah Hijau Denassa (RHD). Pepohonan dan rumput hijau menghiasi kesigapan mata. Dalam kesunyian waktu yang memesona, saya merasakan getaran. Saya tidak perlu memikirkan bagaimana itu terjadi. Ini bukan tindakan pikiran. Iya datang begitu saja secara spontan.

Getaran itu bisa saja mengembalikan getar balik pada kita, saat menengok hamparan rumput hijau yang tersaji di pelataran RHD bagian belakang. Di tempat ini, kedalaman waktu tampak dengan jelas.

Area ini menjadi wahana perkemahan, outbound, dan juga sebagai tempat pemutaran film. Tempatnya dinamakan Pelataran Mappasomba RHD.

Darmawan Denassa, boleh jadi orang yang langka ditemukan. Bahkan Rumah  Hijau Denassa yang dirintisnya sejak tahun 2007 di Gowa, tepatnya jalan Borongtala No. 58 A Kelurahan Tamallayang Kecematan Bontonompo itu boleh dikatakan sebagai upaya manusia menyelamatkan hutan. RHD adalah sebuah area dengan luasan kurang lebih 1 hektar, kini menjadi hutan mini.

Dan tak berlangsung lama, kini RHD menjadi tempat berhimpunnya tetumbuhan dan pepohonan yang sudah jarang disaksikan. Bagai perlawanan adu kuat, pemodal yang setiap saat mengintai jengkal lahan untuk diratakan. Denassa, selaku pendiri sekaligus pemilik kawasan konservasi ini, merintis RHD sebagai tempat belajar dengan swadaya.

KLIK INI:  “Eksplorasi Flora” di DBG, Denassa Apresiasi Klikhijau yang Fokus Literasi Lingkungan

Setelah puas mengamati, seruan kekaguman kembali mendarat. Upaya penyelamatan tumbuhan lokal Sulawesi seperti Bitti, Uru, dan Bayur telah lama dibibitkan di sini.

Kini tanaman itu menjulang tinggi di RHD. Ratusan spesies tanaman unik dan langka dari berbagai daerah telah lama dibiakkan. Kepedulian Denassa pada alam dan hutan, telah tertanam sejak masih dibangku kuliah.

Di RHD ini masih saja menghadirkan banyak kejutan. Misalnya, saat siang mengoceh lambung. Makan siang di atas rumah panggung menjadi momen langka terjadi. Saya bernasib baik dengan teman-teman ‘perkumpulan hijau’ menikmati Bimbi Room atas lezatnya makanan yang disuguhkan siang itu, hingga lantai yang berbahan papan sesekali berbunyi.

Tak lama kemudian hujan meributkan atap rumah. Tulisan Bimbi Room tertera dengan jelas pada secarik karton yang digantung. Tepat ditengah lelangit rumah.

KLIK INI:  CVA, Komunitas Relawan yang Lahir dari Rahim Bencana

Dari luar tampak, hujan membasahi pepohonan yang tak ubahnya hutan. Tepatnya hutan mini. Oh iya, adanya hutan mini telah menjadi apotik hidup bagi Denassa bersama orang-orang di sekitar RHD. Terasa begitu menenangkan berada di sini. Sesekali membuat saya termenung, meski manusia berada dalam kendali Tuhan, tapi upaya manusia menyelamatkan kehidupan berada dalam kendali manusia.

Jelang sore, ruangan di bawah Bimbi Room, ‘permufakatan hijau’ berlangsung di ruang belajar RHD, sembari menikmati onde-onde. Tak terasa waktu senja datang menghampiri angka lima. Saatnya saya harus beranjak pulang, mendekati kemacetan dan hiruk pikuk kota. Perjalanan pulang membuat saya telah berjarak dengan RHD.

Kini, saya benar-benar tak punya kuasa atas ruang dan waktu. Jika saja harus menua karena waktu, saya masih bisa menikmati hijau dari kejauhan yang ada di RHD. Untuk bisa menikmatinya dari dekat, bolehlah saya menuangkan“Rasa Memiliki di  RHD” dengan menuliskannya.

(Catatan ini dibuat pada 2016, diposting kembali sebagai apresiasi pada RHD yang terus eksis dan berkembang)

KLIK INI:  Limbah Pustaka, Membangun Generasi di Antara Sampah dan Buku-Buku