Pramuka dan Sampah Plastik

Publish by -45 kali dilihat
Penulis: Arief Balla
Pramuka dan Sampah Plastik
Ilustrasi pramuka/foto-dreamstime

Betapa anak pramuka dekat dengan alam, tapi...

Klikhijau.com – Setelah sepuluh tahun akhirnya saya bisa kembali merasakan langsung nuansa perkemahan. Tahun ini karena agenda yang tidak ada –bentuk halus dari ‘menganggur’–, saya memutuskan tinggal agak lama di kampung setelah lebaran sampai perayaan 17 Agustusan usai. Salah satu tujuan saya memang berkunjung ke bumi perkemahan di kampung saya.

Barangkali sekaligus bernostalgia. Maklum selama berseragam SMA, saya selalu ikut berkemah. Mula-mula sebagai peserta, lalu anggota Pramuka dan kemudian menjadi pengurus DKR (Dewan Kerja Ranting) sekaligus ketua Pramuka di SMA saya.

Tentu saya terpilih bukan karena saya cakap berpramuka. Hanya saja saya adalah juara umum di sekolah dan sepertinya teman-teman saya mengira saya lantas otomatis menguasai semua pengetahuan. Sungguh sebuah kesalahan besar.

KLIK INI:  5 Ide Selfie Tak Biasa Berkaitan dengan Sampah, Poin Terakhir Mengejutkan!

***
Tak banyak yang berubah, tenda dan pagar dibuat dari bambu. Rak piring dan gelas dari bambu. Menara juga masih dibuat dari bambu dan kayu. Semuanya adalah tanda betapa anak-anak dekat dengan alam.

Memang salah satu poin penting kepramukaan adalah kemampuan bertahan hidup dengan keadaan seadanya. Mereka mendekatkan diri dengan alam. Dengan sendirinya anak-anak Pramuka adalah pemelihara dan pelestari alam. Pahlawan lingkungan. Bukankah lambang Pramuka adalah tunas kelapa yang menunjukkan keterikatan dengan alam?

Jadi penyumbang sampah plastik

Sayangnya, anak-anak Pramuka juga menjadi penyumbang sampah plastik. Plastik pembungkus makanan ringan dan minuman. Sampai air gelas menjadi paling mudah ditemukan. Tren ini sepertinya seiya seiring dengan tren dari kota hingga kini ke kampung-kampung.

Para tuan di kampung tidak lagi menyediakan air dalam teko atau dengan gelas biasa dan tamu tinggal menuangkan ke gelas. Tuan rumah sisa menyediakan air gelas yang bisa didapat dengan mudah dan murah meriah. Tak perlu lagi repot memasak air, menyediakan gelas, apalagi mencuci gelas. Praktis.

KLIK INI:  Ada Bukit Sampah Plastik Saat Clean Beach Action di Pantai Lapeo Mandar

Sisi praktis ini nampaknya diadopsi juga dengan kegiatan-kegiatan, termasuk di dalam perkemahan. Anak-anak Pramuka hanya perlu membeli air gelas dalam kardus dengan harga yang murah, terutama jika air gelas merek lokal. Tidak perlu lagi menyedikan dalam jumbo –tempat air—dan siswa tinggal menuangkan ke gelas masing-masing. Praktis, tentu saja.

Namun di balik kepraktisan dan kemudahan itu, tersimpan harga yang harus dibayar. Plastik sebagaimana telah menjadi pengetahuan umum –yang tak dipedulikan, tentu—membutuhkan ribuan tahun untuk hancur.

Kontributor pemeliharaan dan pelestarian lingkungan

Sampah-sampah plastik memiliki daya rusak pada kesuburan tanah. Ia bisa menjadi limbah di danau, sungai, dan laut. Sering sekali kita melihat sungai atau kali yang tersumbat oleh sampah plastik terutama air gelas. Sering sekali kita menyaksikan video hewan-hewan di laut dengan perut penuh plastik. Lalu kemudian mati mengenaskan. Dan barangkali kelak akan punah.

Saya pikir pembina dan guru memiliki peran di sini. Peran sebagai pembimbing yang membiarkan siswanya mengkonsumsi air gelas saja. Dampak pada lingkungan tidak diperhatikan. Keindahan lingkungan juga menjadi rusak dengan sampah-sampah plastik berserakan.

KLIK INI:  Akuilah Tempat Sampah Memang Menjijikkan, Tapi Sangat Dibutuhkan, Kenapa?

Di saat yang bersamaan, pembina dan guru Pramuka punya peran lagi meningkatkan kesadaran berlingkungan dengan meminta siswa-siswa mengurangi penggunaan plastik. Sehingga pemahaman siswa pada alam tidak hanya diwujudkan dalam bentuk penggunaan bambu tetapi dalam konteks keseharian yang lebih luas, yang bisa mereka praktekkan di keseharian masing-masing.

Dengan demikian, anak-anak Pramuka menjadi kontributor pemeliharaan dan pelestarian lingkungan, dengan bimbingan dari para pembina masing-masing. Jika masing-masing anak Pramuka kemudian bisa mempraktekkan kesadaran ini, maka sekalipun laju perusakan lingkungan tidak dapat diatasi tetapi setidaknya dapat diperlambat.

Barangkali tahun depan dan tahun-tahun panjang berikutnya, Pramuka bisa lebih mengkampanyekan kemah ramah lingkungan. Salam Pramuka. Salam lingkungan.

KLIK INI:  Gajah Saja Buang Sampah Pada Tempatnya, Kok Kamu Tidak?
 
Editor: Irhyl R Makkatutu

KLIK Pilihan!