Pot Nurani

oleh -19 kali dilihat
Pot Nurani
Ilustrasi pot-foto/Pixabay
Irhyl R Makkatutu

Pot tersebut telah turun-temurun. Letaknya di sebelah timur pintu utama rumahku yang bertaman yang tak terlalu luas.  Letaknya tak pernah berubah. Mungkin nenek dari nenekku meletakkannya di sebelah timur  agar mudah mengingatkan cucu hingga cicitnya kalau keluarganya menganut adat ketimuran.

Ada aroma mistik terkandung di dalamnya, kalau tak ada bunga yang bisa tumbuh. Nenek hingga ibuku telah berulang kali mencoba menanaminya bunga, mulai bunga kamboja, bunga sepatu, bunga tulib, bunga kertas hingga bunga yang tak kutahu lagi namanya.

Namun bunga-bunga itu benar-benar tak tumbuh lama. Mungkin pot tersebut ditanduskan sepi, hingga bunga yang ditanam hanya menguncup lalu meninggalkan aroma tangis yang liar. Mungkin karenanya, hingga tak ada lagi yang mengurusi pot itu. Dan tak ada juga yang berani memindahkannya. Mungkin takut kualat, karena benda itu telah bertahun-tahun di depan rumah.

Sebagai generasi yang datang belakang. Aku kurang percaya mitos kalau pot tersebut tak bisa ditumbuhi bunga. Maka aku mulai membersihkannya, mengganti tanahnya, dan mencatnya. Aku ingin kembali menanaminya bunga.

KLIK INI:  Membaca Tanda-Tanda

“Tak perlu menanam bunga di pot itu!” pinta ayah, “Itu hanya akan lahirkan kecewa,” katanya lagi. Aku tetap asyik menanaminya bunga aster, bunga anggota suku Asteraceae yang indah, mirip bunga matahari.
“Bunga ini akan menguncup Ayah, berputik dan mekar, lalu melahirkan keriangan, kesederhanaan, dan kegembiraan. Aroma bunga ini akan mengundang berbagai jenis kupu-kupu bertamu,” kataku sok tahu.

“Semoga saja bisa tumbuh,” ucap ayah memberi harapan sambil beranjak pergi. Setelah bunga tersebut kutanam, waktu terasa lebih lambat bergulir. Ada degup dan rasa tak sabar ingin melihatnya tumbuh. Namun beberapa hari kemudian bibit bunga aster yang kutanam dimakan ayam.

Aku geram, namun aku kembali mengganti bibit tersebut, kemudian memagarinya dengan bambu. Ibu dan ayahku hanya tertawa mendengar mendengar kegagalanku.

***

Kegagalan itu menjadi jembatan kegagalanku berikutnya. Berkali-kali aku mengganti jenis bunganya. Namun tak pernah ada yang bisa tumbuh. Berkali-kali pula aku ganti tanahnya, bahkan pupuk urea hingga pupuk kandang pun telah kugunakan menyuburkan tanahnya. Tapi tetap saja bunga-bunga  itu layu tragis. Paling banter hanya putiknya  mengintip sebentar, lalu gugur karena daunnya kekuningan, batangnya seperti para penderita busung lapar.

Aku selalu ingin memindahkan pot tersebut ke sebelah barat pintu utama rumahku, tapi ibu dan ayah selalu melarang, katanya itu tanda mata dari leluhur.

“Berhentilah menanam bunga di pot itu!” kali ini ibu yang memintaku.

“Memang ada apa dengan pot itu bu?” Tanyaku penasaran.

“Nenek dari nenekmu, menamai pot itu pot nurani, ibu tak mengerti kenapa menamainya demikian, pot itu dulu dihiasai berbagai jenis bunga, memang sulit dipercaya pot sekecil itu mampu menampung ribuan bunga dari berbagai spesies. Hingga suatu musim, banyak orang datang memetiknya, mengambil bibitnya dengan paksa, bahkan pot tersebut jadi rebutan. Orang-orang juga berlomba menanam bunga di pot itu untuk  membuat wangi rumahnya sendiri, juga banyak orang yang menjual nama pot itu untuk mendapatkan bibit bunga yang unggul, keadaan itu berlangsung cukup lama, bahkan pernah memakan korban jiwa.  Mungkin karena itulah, leluhur kita mengutuk pot itu agar tidak bisa lagi ditumbuhi bunga,” terang ibu panjang lebar.

KLIK INI:  Tips Memilih Pot yang Tepat untuk Menanam Sayuran

Setelah mendengar penjelasan Ibu, aku mulai sedikit percaya  mitos  pot itu benar adanya, sebab tak ada bunga yang bisa menaklukkannya.  Yang ada, bunga di pot tersebut hanya menghitung waktu untuk ”mati.” Namun bukannya aku berhenti. Aku kian penasaran dan ingin buktikan kalau pasti ada salah satu bunga yang bisa tumbuh di pot nurani tersebut.

***

Suatu hari aku menanam bunga kenanga, bunga yang sebenarnya  tidak cocok ditanam di pot, karena pohonnya besar, lebih cocok ditanam sebagai tanaman pagar. Tapi tak ada salahnya mencoba, aku menanam hasil cangkokan. Hasilnya, seminggu kemudian bunga itu layu. Tak ada tanda-tanda kehidupan lagi dalam tubuhnya. Aku kemudian mencabutnya.

Sejak itu, aku mulai memikirkan permintaan orang tuaku. Mungkin mereka benar, tak ada lagi  bunga yang bisa tumbuh lama di pot nurani tersebut. Aku berniat jeda sejenak menanam bunga, maka aku kemudian kembali menggarap tanah yang ada di belakang rumah. Tanahnya kehitaman dan cukup subur.

Semua jenis tumbuhan bisa tumbuh di sana ,  tapi aku  tak berniat menanaminya bunga. Aku ingin menanaminya sayur sayuran, tapi sayur-sayuran juga ada yang berbunga. Ooo tidak, itu tak masuk hitunganku karena yang akan kuanggap bunga hanyalah yang bisa tumbuh di pot nurani tersebut yang jadi warisan leluhurku.

Hanya tak pernah kumengerti, kenapa pot itu tak bisa ditumbuhi bunga? Padahal tanahnya kuambil dari tanah pilihan, seperti tanah yang dipilih Tuhan untuk menciptkan Adam. Baca-baca penyubur tanaman yang kutarekat dari kakekku juga tak mempan. Setiap bunga yang kutanam tetap saja keropos hingga akhirnya mati, menyisakan batangnya yang kering.

KLIK INI:  Peneliti Temukan Karang di Hawai Tangguh di Laut yang Lebih Hangat
***

Rumahku tak begitu luas, hanya punya tiga kamar, satu kamar mandi  yang terletak di pojok kanan dekat dapur. Dua kamar tidur, satu ditempati orang tuaku dan satunya kutempati bersama adikku. Namun, cukup luas kurasa karena kami hanya tinggal berempat, adikku  jarang pulang ke rumah. Ia lebih suka tinggal di kampusnya, menjadi seorang aktivis. Pulang hanya ganti baju dan mencuci. Setelah itu  kabur lagi. Tapi aku melarangnya berdemo. Apalagi kalau berdemo di jalan.

Adikku sering bertanya kenapa aku melarangnya berdemo di jalan? Tak kujawab, aku hanya memperdengarkan rekaman dari tape recorderku. Ia terdiam setelah mendengar beberapa orang yang berkomentar tak menyetujui aksi demo di jalan. Suara itu bukan suara pejabat yang sering didemo. Tapi suara rakyat kecil yang tiap hari menggunakan jasa pete-pete, becak, ojek atau jalan kaki beraktivitas. Mencari penyambung nafas untuknya dan keluarganya.

Namun, jika macet karena demo, maka pendapatan mereka akan berkurang, bisa jadi mereka akan terlambat sampai tujuan. Jika itu terjadi, maka kehidupannya akan layu, meranggas seperti bunga yang sering kutanam di pot nurani sebelum kupu-kupu mengecup mesra kelopaknya. Sebelum aromanya memanjakan indera penciuman.

Dan adikku  mematuhi laranganku.  Mungkin karena ia kasihan pada orang-orang yang ia perjuangkan,  orang-orang tersebut juga tertindas karena terhimpit kemacetan. Aku hanya menyarankan agar ia  menulis, karena para pejabat yang sering dikritiki pastilah orang yang senang membaca.

KLIK INI:  Meribang Sawah

Ia menyanggupinya, hingga suatu hari yang petang adikku datang, di tangannya ada koran yang memuat tulisannya. Dan sebagai rasa terima kasihnya padaku, ia memberiku bunga, katanya bunga itu ia dapat di puncak Bawakaraeng. Tapi bukan edelweiss. Bunga tersebut  baru pertama kali kulihat, tak kutahu dari spesies mana? Bunganya merah muda bercampur putih bersih, ada renda-renda kecil seperti batik di pinggrinya. Batangnya ditumbuhi duri yang halus. Sangat indah.

“Jangan, Kak! Nanti bunganya mati jika ditanam  di pot sialan itu,” kata adikku yang diamini kedua orang tua kami.

“Akan kuanggap bunga jika ia bisa tumbuh di pot nurani ini,” kataku sambil menanamnya tanpa pikir panjang, bahkan baca-baca pemberian kakek untuk menyuburkan tanaman pun lupa kubaca.  Bunga tersebut kutanam bulan lalu. Aku menamainya bunga LAYU, karena hingga kini daun dan batangnya masih layu, namun tidak mati. Ia tetap mewangi..

Sekarang aku   dumba’-dumba’ menanti  bunga itu bisa mekaran.

KLIK INI:  Mencicipi 7 Pantun dari Tri Astoto Kodarie yang Bernuansa Alam

Dari kumcer: Lelaki Gerimis