Post 2020 GBF dan Arti Pentingnya bagi Indonesia

oleh -67 kali dilihat
Koalisi EoF Apresiasi Menteri LHK atas Penolakan Sawit jadi Tanaman Hutan
Menteri LHK Siti Nurbaya - Foto/Dok KLHK

Klikhijau.com – Post 2020 Global Biodiversity Framework (GBF) bagi Indonesia memiliki arti khusus. Karena Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengungkapkan akan menjadi standar keberlangsungan hidup.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Menteri LHK saat menjadi salah satu pembicara dalam acara PreCOP Biodiversity 2021High Level Political Forum atas undangan Pemerintah Kolombia. Kegiatan itu dipimpin oleh Presiden Kolombia, Ivan Duque Marquez.

Kegiatan tersebut diselenggarakan, Senin, 30 Juni 2021 secara virtual. Pelaksanaan kegiatan itu dalam rangkaian kegiatan Third Open Ended Working Group on Post 2020 Global Biodiversity Framework.

Setidaknya ada empat kepala negara yang mengikutinya dan lima belas  Menteri bidang lingkungan hidup dan kehutanan.

KLIK INI:  Kebakaran Lahan Gambut, Nobatkan Indonesia dan Brasil sebagai Penyumbang Besar GRK

Kegiatan itu diikuti pula oleh berbagai pemimpin entitas PBB dan lembaga internasional pemerhati keanekaragaman hayati.

“Sebagai rumah bagi lebih dari 490 ribu spesies di 19 tipe ekosistem dengan 74 tipe vegetasi. Indonesia mendukung langkah-langkah perundingan kerangka kerja biodiversitas yang sedang berlangsung. Indonesia menempuh tiga pilar sesuai tujuan konvensi keanekaragaman hayati, yaitu konservasi, pemanfaatan berkelanjutan, akses dan pembagian yang adil serta seimbang atas sumber daya genetik,” ujar Siti.

Tujuan dari pertemuan itu, untuk mempromosikan kerangka kerja global biodiversitas, integrasi dengan sektor produktif, pengembangan aliansi dan koalisi untuk keanekaragaman hayati dan pemulihan lingkungan, serta indikasi dukungan finansial dan kemitraan untuk pola pola baru secara global.

Siti Nurbaya juga menekankan, ada tiga poin penting yang diperhatikan pada forum tersebut, yaitu target global harus terukur dan fleksibel, ada keseimbangan antara target dan perangkat pendukung pelaksanaannya, serta nilai minimum untuk semua target dan indikator yang dapat dimonitor, untuk dapat dicapai oleh negara-negara di dunia.

KLIK INI:  Keanekaragaman Hayati Memberi Kita Segala Hal untuk Kehidupan Berkualitas
 Capaian Indonesia

Wiratno sebagai Dirjen KSDAE, yang pada kesempatan itu mendampingi Menteri LHK menyampaikan,  beberapa capaian signifikan yang telah dilakukan Pemerintah.

Di antaranya pada tingkat ekosistem telah berhasil mempertahankan 51 juta hektar kawasan lindung, yang mencakup lebih dari 28 persen area daratan Indonesia. termasuk di dalamnya 1.4 juta hektar areal bernilai konservasi tinggi pada wilayah konsesi swasta.

Dalam kerja konservasi Indonesia bergerak cepat,  seperti tercatat lebih dari 270 lokasi monitoring, yang antara lain di Kabupaten Aceh Timur, Kutai Barat, TN Gunung Leuser, TN Way Kambas, dan Kalimantan Timur.

Pada tahun telah terpantau peningkatan  populasi dari 25 jenis satwa prioritas yang terancam punah, seperti owa jawa, jalak bali, badak jawa banteng, badak jawa, dan elang jawa. Pihak KLHK juga telah berhasil melepasliarkan lebih dari 200 ribu satwa tahun 2020 lalu.

Sedangkan pada level genetik, KLHK terus berupaya mempromosikan bioprospeksi sumber daya genetik Indonesia untuk ketahanan pangan dan kesehatan. Seperti pemanfaatan Candidaspongia sebagai anti kanker dan gaharu sebagai bahan disinfektan, yang permintaannya semakin meningkat selama pandemi Covid-19.

“Hasil kerja yang penting dalam integrasi yang harmoni antara biodiversitas dan sektor-sektor produktif bagi kemajuan negara,” katanya.

PreCOP Biodiversitas 2021 ini dilaksanakan menyongsong Agenda COP 15 Konvensi Keanekaragaman Hayati di Khunming, China.

Agenda tersebut  akan dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu secara daring pada 11 sampai 13 Oktober 2021 dan secara tatap muka pada 25 April hingga  8 Mei 2022 mendatang.

KLIK INI:  Membuang Sampah Saat Berkendara, Kebiasaan Buruk yang Terus Terulang