Polusi Laut Mengancam Ekosistem dan Kesehatan, Ayo Fokus pada Solusinya!

oleh -25 kali dilihat
Polusi Laut Mengancam Ekosistem dan Kesehatan, Ayo Fokus pada Solusinya!
Ilustrasi polusi laut - Foto/Thomas Wolter - Pixabay

Klikhijau.com – Polusi laut akibat sampah plastik dan logam berat semakin mencemaskan. Tidak saja mencemari lautan dan biota laut di dalamnya, utamanya ikan, polusi di lautan juga akan merugikan kesehatan manusia.

Studi terbaru mengenai dampak berbahaya dan solusi pencemaran lautan ini dibahas detil dalam kajian berjudul “Human Health and Ocean Pollution”, diterbitkan Jurnal Annals of Global Health. Philip J. Landrigan dari Boston College, Amerika Serikat mempimpin penelitian ini.

Peneliti menemukan bahwa ada lebih dari 80% polusi yang terjadi di laut, berasal dari daratan. Polusi ini datang bergelimang di laut melalui sungai, limpasan, pengendapan atmosfer dan aksi buang sampah langsung ke laut.

Parahnya lagi, polusi terbanyak justru ditemukan di dekat pantai dan terkumpul di sepanjang pantai di negara-negara miskin dan berkembang. Peneliti mencatat bahwa polusi plastik meningkat paling tinggi. Ada sekira 10 juta metrik ton sampah plastik masuk ke laut setiap tahunnya.

Selain sampah plastik, laut juga terus didera oleh pencemaran logam berat yaitu merkuri. Menurut tim peneliti, logam berat ini dilepaskan dari dua sumber utama – pembakaran batu bara dan penambangan emas skala kecil.

KLIK INI:  Seberapa Besar Cinta Kita pada Hutan?

Pertanian skala industri di seluruh dunia juga turut berkontribusi pada pencemaran laut. Ini disebabkan oleh penggunaan pupuk kimia yang memicu perluasan alga yang berbahaya yang bisa meracuni spesies ikan dan kerang. Bahkan berpotensi menyebabkan adanya zona-zona mati atau “dead zones” di lautan.

Studi ini menyimpulkan bahwa polutan-polutan kimiawi telah mencemari laut dan organisme laut di mana-mana, dalam jurang terdalam, hingga ke benua Arktika di Kutub Utara.

Dampaknya terhadap ekosistem

Polusi laut telah merusak ekosistem di laut dan ini diperburuk lagi dengan adanya perubahan iklim global. Polutan berbasis minyak bumi bahkan dapat menghambat fotosintesis pada mikroorganisme laut yang menghasilkan oksigen.

Peningkatan penyerapan karbondioksida (CO2) oleh organisme di laut juga akan menyebabkan peningkatan keasaman air laut. Merusak terumbu karang hingga membunuh mikroorganisme yang menjadi sumber kalsium bagi seluruh jejaring makanan di laut. Adanya peningkatan penyerapan CO2 juga akan meningkatkan efek racun (toksisitas) beberapa polutan.

Secara spesifik, polusi sampah plastik mengancam mamalia laut, ikan, dan burung laut. Polusi plastik di lautan ini terus terbawa arus dan terakumulasi di pusaran laut yang besar. Plastik akan terurai mikroplastik dan nanoplastik yang mengandung bahan kimia yang mencemari jaringan organisme laut, termasuk spesies yang dikonsumsi oleh manusia. Sementara itu, pencemaran industri, limpasan, dan limbah rumah tangga akan memicu perkembangan alga yang berbahaya, polusi bakteri, dan resistensi anti-mikroba.

KLIK INI:  Lagi, Ditemukan Tumpukan Sampah Plastik di Perut Sapi Laut

Tim peneliti menyimpulkan, limbah industri, limbah farmasi, pestisida, dan limbah manusia berkontribusi pada penurunan global stok ikan. Bila ini terjadi, kesejahteraan nelayan akan terganggu karena kurangnya hasil tangkapan.

Dampak bagi Kesehatan

Apa dampaknya bagi kesehatan? Tim peneliti menemukan, pembuangan sampah dan limbah yang mengandung logam berat seperti methylmercury dan PCBs akan merusak kesehatan mulai dari bayi yang masih dalam kandungan hingga manusia dewasa.

Dampaknya sungguh mengerikan! Polusi logam berat dapat merusak perkembangan otak, menurunkan kecerdasan anak/IQ, risiko autisme, ADHD, dan gangguan belajar pada anak.

Sementara paparan methylmercury terhadap orang dewasa akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan demensia. Bahan-bahan kimia lain – yang diproduksi dari sampah plastik – dapat mengganggu sinyal endokrin, mengurangi kesuburan pria, merusak sistem saraf, dan meningkatkan risiko kanker.

Alga-alga yang berbahaya juga menghasilkan racun kuat yang terakumulasi dalam ikan dan kerang. Bila tertelan, racun ini bisa memantik terjadinya kerusakan saraf yang parah dan kematian yang cepat. Racun HAB juga bisa menyebar ke udara dan memicu penyakit pernafasan. Sementara infeksi bakteri laut patogen menyebabkan penyakit gastrointestinal dan infeksi luka dalam.

KLIK INI:  Di Kampung Ini, Sampah Plastik Jadi Ladang Rezeki

Kabar baiknya, menurut tim peneliti, tentu saja, pencemaran laut dapat dicegah. Seperti semua bentuk pencemaran, pencemaran laut dapat dikendalikan dengan menerapkan strategi berbasis data berdasarkan hukum, kebijakan, teknologi, dan penegakan hukum yang menargetkan sumber pencemaran prioritas.

Banyak negara telah menggunakan alat ini untuk mengontrol polusi air dan udara dan sekarang menerapkannya untuk polusi laut. Keberhasilan yang dicapai hingga saat ini menunjukkan peluang untuk melakukan kontrol terhadap polusi di lautan. Ada pelabuhan yang sangat tercemar telah berhasil dibersihkan, muara diremajakan, dan terumbu karang dipulihkan.

Selain manfaat kesehatan, pencegahan pencemaran laut juga menciptakan banyak manfaat. Seperti meningkatkan ekonomi, pariwisata, membantu memulihkan perikanan, dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia, mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). “Manfaat ini akan bertahan selama berabad-abad,” tulis mereka.

Solusi

Menurut tim peneliti, pencegahan polusi dari sumbernya yang berbasis lahan adalah kuncinya. Menghilangkan pembakaran batu bara dan melarang semua penggunaan merkuri akan mengurangi polusi merkuri. Larangan plastik sekali pakai dan pengelolaan sampah plastik yang lebih baik akan mengurangi polusi plastik. Larangan pemakaian polutan organik yang persisten (POPs) telah mengurangi polusi dari PCB dan DDT.

KLIK INI:  Presiden Jokowi, PM Belanda dan Perihal Pohon Damar yang Menawan

Pengendalian pembuangan industri, pengolahan limbah, dan pengurangan pemakaian pupuk kimia mampu mengurangi pencemaran pantai dan mengurangi pertumbuhan alga-alga yang beracun dan berbahaya.

Program pengendalian pencemaran laut secara nasional, regional dan internasional ini harus didanai secara memadai dan didukung oleh penegakan hukum yang kuat. Tim peneliti menyatakan, upaya pemantauan yang ketat sangat penting untuk melacak kemajuan dari upaya-upaya ini.

Intervensi selanjutnya yang diperlukan adalah transisi dalam skala luas ke energi terbarukan; transisi ke ekonomi sirkular yang adil dan hemat sumber daya; beralih ke bahan-bahan kimia yang ramah lingkungan dan membangun kapasitas ilmiah di semua negara.

Pemerintah juga diminta untuk menetapkan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang akan menjaga ekosistem kritis, melindungi stok ikan yang rentan, dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia. “Pembentukan KKP merupakan perwujudan penting dari komitmen nasional dan internasional untuk menjaga kesehatan laut,” tulis tim peneliti.

Studi ini semakin memperdalam data dan informasi mengenai bahaya sampah plastik dan adanya ancaman polusi di lautan. Saatnya kita fokus pada solusi dan bagaimana mengurangi segala tindakan yang dapat mencemari laut. Komitmen politik dan tanggungjawab moral tiap individu tentu amat dibutuhkan.

Ayo kita bergerak!

KLIK INI:  Tanpa Disadari, Pakaian Kita Mencemari Lautan