Polusi dan Perubahan Iklim Semakin Mempengaruhi Kesehatan Anak

oleh -12 kali dilihat
anak rekreasi ke kebun binatang
Anak di tepi danau-Foto/Pixabay.com

Klikhijau.com – Dunia anak-anak seharusnya menjadi dunia yang riang gembira. Tidak dirasuki dengan berbagai problem, misalnya polusi udara dan konsekuensi dari perubahan iklim yang dapat merampas kesehatan anak.

Namun, nyatanya tidak demikian. Dunia anak telah diobok-obok oleh polusi udara dan dampak perubahan iklim.

Fakta ini menjadi  temuan dari artikel ulasan yang diterbitkan di  New England Journal of Medicine. Artikel yang ditulis oleh Frederica Perera.

Perera sendiri berasal dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Mailman Universitas Columbia dan Kari Nadeau dari Fakultas Kedokteran Universitas Stanford.

KLIK INI:  Kurangi Polusi Udara, Industri Penerbangan akan Bayar 'Pajak Polusi'?

Ia melihat bukti dari berbagai dimensi, di mana polusi udara dan perubahan iklim yang didorong oleh bahan bakar fosil membahayakan kesehatan anak-anak. .

Ada lusinan studi penelitian yang dikutip oleh para ahli. Studi tersebut menemukan kesehatan anak-anak terganggu oleh konsekuensi polusi udara dan perubahan iklim.

Mereka menyatakan, semua anak sangat rentan terhadap dampak kesehatan dari sumber-sumber ini karena mereka masih dalam tahap perkembangan. Ini berlaku untuk janin, bayi, dan anak.

Mirisnya lagi, meskipun semua anak berisiko, beban terbesar jatuh pada mereka yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. Ini seperti pepatah, sudah jatuh tertimpah tangga pula.

Para penulis menyinggung adanya ketidaksetaraan yang signifikan antara kelompok pendapatan dan ras yang berbeda.

Misalnya, risiko gelombang panas paling besar terjadi di komunitas kulit berwarna dengan yang berpenghasilan rendah. Di mana kebijakan diskriminatif seperti redlining menciptakan pulau panas perkotaan.

Hal ini ditandai dengan aspal yang memerangkap panas, sedikit pohon, bangunan padat, lalu lintas, industri, dan jalan raya, dan di mana sumber daya untuk melindungi anak dari panas lebih sedikit.

Berikut beberapa contoh dampak negatif perubahan iklim yang telah dikaitkan  bagi kesehatan fisik dan mental anak-anak:

KLIK INI:  Tanggung Jawab Konservasi, Tanggung Jawab Bersama
  • Sangat panas

Paparan gelombang panas dalam rahim dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah, hipertermia dan kematian pada bayi, stres panas, penyakit ginjal, dan penyakit lain pada anak-anak.

  • Peristiwa ekstrem dengan intensifikasi iklim

Secara global, peristiwa terkait iklim telah menyebabkan lebih dari 50 juta anak terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Di AS misalnya, lebih dari 900.000 pengungsian, banyak di antaranya melibatkan anak-anak, terjadi pada tahun 2020 sebagai akibat dari bencana.

  • Kualitas udara

Diperkirakan 7,4 juta anak di AS terpapar asap kebakaran hutan yang merusak paru-paru setiap tahun antara 2008 dan 2012.

Jumlah ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir karena kebakaran hutan besar menjadi lebih sering.

KLIK INI:  Indonesia Butuh Lebih Banyak Penelitian Tentang Dampak Plastik di Laut
  • Pasokan dan keamanan pangan dan air

Di negara berkembang, kerawanan pangan terkait perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan tajam malnutrisi, yang mengakibatkan terhambatnya perkembangan fisik dan mental. Risiko infeksi dari patogen yang ditularkan melalui air seperti Salmonella juga diperburuk.

  • Perubahan ekologi vektor penyakit

Infeksi virus Zika pada kehamilan dapat menyebabkan mikrosefali, malformasi otak yang parah, dan cacat lahir lainnya. AS juga mengalami peningkatan yang nyata pada penyakit Lyme, dengan tingkat tertinggi pada anak-anak.

  • Polusi udara

Satu miliar anak-anak di seluruh dunia terpapar polusi udara dengan tingkat yang sangat tinggi. Polusi udara sangat terkait dengan peningkatan risiko kematian bayi, hasil kelahiran yang merugikan, asma dan penyakit pernapasan lainnya, gangguan perkembangan, dan masalah kesehatan seumur hidup, termasuk penurunan kognisi, masalah kesehatan mental, dan autisme.

Tindakan di dua bidang

Untuk  menangani dampak kesehatan yang mengkhawatirkan pada anak-anak, menurut penulis ada dua hal yang harus dilakukan, yakni

  • Anak-anak perlu dilindungi dari bahaya iklim

Sebuah strategi yang oleh penulisnya disebut “adaptasi.” Hal ini dapat mencakup tindakan-tindakan seperti penyediaan air bersih untuk anak-anak dan keluarga yang menghadapi kekeringan dan pencemaran air, sistem peringatan dini untuk banjir dan polusi udara, pelatihan dan perencanaan evakuasi untuk keluarga dan anak-anak, area teduh di mana anak-anak bermain, tinggal dan pergi ke sekolah, dan kelambu untuk melindungi anak-anak dari patogen yang dibawa serangga seperti malaria dan demam berdarah.

KLIK INI:  Pentingnya Literasi Sustainability Menuju ‘Net Zero Carbon’ dan Inklusi Keuangan
  • Akar masalah emisi gas rumah kaca harus diatasi

GRK  yang tinggi dan berkurangnya penyerap karbon alami perlu ditangani. Para penulis menyebut aspek penanganan masalah kesehatan anak ini sebagai “mitigasi”.

Mereka menekankan bahwa solusi tersedia dan dilaksanakan oleh pemerintah di seluruh dunia untuk mengatasi polusi udara dan mengurangi perubahan iklim, dan semoga ini akan mengurangi bahaya bagi kesehatan anak-anak di masa depan.

Para ahli juga menyarankan bahwa dokter berada dalam posisi untuk membantu mengidentifikasi dan membimbing individu yang berada pada risiko tertentu dari efek perubahan iklim atau polusi udara.

Identifikasi individu yang rentan mungkin didasarkan pada adanya penyakit yang mendasari (misalnya, asma), lokasi geografis (misalnya, kedekatan dengan polusi udara, pulau panas perkotaan atau banjir), dan beban kesehatan mental (misalnya, kecemasan setelah dipaksa. untuk pindah setelah kebakaran).

Bimbingan bisa dalam hal bagaimana mengelola atau mengubah situasi untuk anak yang rentan, dan dokter dapat menjadi sumber nasihat, pendidikan dan informasi dalam keadaan seperti itu.

Mengingat dampak kumulatif bahan bakar fosil pada kesehatan fisik dan mental anak-anak, para peneliti meminta para profesional kesehatan untuk menggunakan kekuatan mereka untuk melindungi anak-anak “dengan menyaring untuk mengidentifikasi mereka yang berisiko tinggi untuk konsekuensi kesehatan terkait; mendidik mereka dan keluarga mereka tentang risiko ini dan intervensi yang efektif; dan dengan mengadvokasi strategi mitigasi dan adaptasi yang kuat.” ***

KLIK INI:  Jadi Panelis di Bali, Ketua Asobsi Akan Bicara 3 Isu Ini!

Sumber: Earth