Pohon Pinus, Tanaman Pionir yang Kontroversi

Publish by -269 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Pohon Pinus, Tanaman Pionir yang Kontroversi
Pohon Pinus, Tanaman Pionir yang Kontroversi/foto - @nicho_pura

Klikhijau.com – Pohon pinus tidak hanya tumbuh meneduhkan. Di banyak tempat telah disulap menjadi tempat wisata.

Kayunya yang menjulang tinggi bisa menahan laju sinar matahari untuk sampai ke permukaan tanah. Karena itulah, pohon pinus yang tumbuh banyak pada suatu area. Kemudian berubah jadi hutan pinus yang kerap menjadi pilihan untuk berkemah atau berwisata.

Saat ini di Sulawsei Selatan, sedang menggeliat destinasi wisata hutan pinus, sebut saja Hutan Pinus Malino, Gowa, Hutan Pinus Rombeng,  Bantaeng, hingga Hutan Pinus Bissoloro, Gowa.

Sebenarnya pohon ini telah lama ditanam di berbagai tempat di Indonesia sebagai tanaman reboisasi. Ia merupakan  tanaman pionir yang dapat tumbuh di berbagai kondisi dan produk utamanya sebagai penghasil getah.

KLIK INI:  Panorama Hijau Tebing dan Pantai Marumasa di Selatan Sulsel

Bahkan di pulau Jawa, hutan pinus yang telah banyak dikembangkan  sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda.

Menimbulkan kontroversi

Hanya saja, perkembangannya tidak berjalan baik. Sebab banyak masyarakat yang menentangnya. Pohon ini dianggap sebagai pohon yang ‘rakus’ akan air. Karenanya  kontroversi di masyarakat perihal pohon ini terus saja membiak. Itu karena ada dua pendapat yang berkembang.

Pendapat pertama, seperti yang disinggung di atas, yakni ada yang  mengangap pinus sebagai penyababkan kekeringan di musim kemarau, karena pinus mengonsumsi banyak air.

Sementara pendapat kedua mengatakan pinus dapat menyimpan air di musim penghujan dan mengalirkannya di musim kemarau.

Kedua pendapat itu masing-masing ada benarnya. Suatu hari ketika saya berkunjung ke Desa Bontosalama, Sinjai. Masyarakat di sana banyak yang mengeluhkan adanya pohon pinus karena menjadi salah satu penyebab kekeringan.

KLIK INI:  Pohon Kamboja, Berbunga Menawan dan 7 Fakta Menarik di Baliknya

Oleh karena itu,  penelitian yang dilakukan oleh Yonky Indrajaya dan Wuri Handayani 2018 lalu—yang mengutip pendapat Pujiharta (2008) menyarankan  agar pinus ditanam pada daerah dengan   curah hujan di atas 3.000 mm/tahun.

Melalui cara tersebut masyarakat tidak perlu khawatirkan akan terjadi kekeringan atau kehilangan ketersediaan air tanah pada musim kemarau akibat konsumsi air yang tinggi oleh pinus.

Apalagi pinus merupakan jenis primadona, sekitar  60% yang ditanam dalam Program Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air khususnya kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh sejak era tahun 60-an.

Ada berbagai alasan kenapa harus pinus, yakni tersedianya benih cukup banyak, laju pertumbuhannya cepat bahkan dapat menjadi jenis pionir dan dapat tumbuh pada lahan-lahan yang marginal.

KLIK INI:  Kenormalan Baru Bawa Ancaman Sampah bagi Dunia Pariwisata

Selain itu, penanaman pinus secara luas tidak menjadi penyesalan. Itu  karena hasil dari kegiatan baik reboasasi maupun penghijauan tergolong sukses membentuk tegakan pinus.

Pinus telah  banyak menambah devisa negara dan meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa sampai sekarang (M. Kudeng Sallata, 2013).

Manfaat pohon pinus

Pada  hasil rumusan dari Simposium Pengusahaan Hutan Pinus yang dikemas di dalam Simpo Pinus’83 yang dilaksanakan 27- 28 Juli 1983 di Jakarta oleh Pusat Litbang Hasil Hutan kerjasama Perum Perhutani menyatakan, pemilihan pinus sebagai salah satu jenis tanaman industri di Pulau Jawa dan beberapa daerah tertentu di luar Pulau Jawa dipandang cukup tepat.

Hal itu berdasarkan berbagai pertimbangan baik segi teknis, ekonomis, ekologis maupun sosial.  Menurut Handadhari, (2006) pinus memiliki beragam manfaat, yakni:

KLIK INI:  Anda Penikmat Senja? Berkunjunglah ke Hutan Mangrove Matalalang!
  • Mengurangi lahan longsor (landslide)

Hal ini karena pinus mempunyai perakaran yang dalam dan pohon pohon pinus tidak terlalu berat dan juga tidak terlalu ringan.  Sehingga dapat meningkatkan tegangan kekang pada bidang longsor, menjadikan pinus memiliki potensi untuk mengurangi kerentanan dan terjadinya longsor.

  •  Mengurangi erosi

Manfaat lainnya adalah bisa mengurangi erosi karena tajuknya dapat menghambat tenaga kinetik jatuhan air hujan

  •   Menghalangi pukulan air hujan

Pohon ini memiliki sersah yang bisa bermanfaat untuk menghalangi air hujan. sehingga secara langsung sehingga erosi percik (splash erosion) berkurang.

KLIK INI:  Kaya Manfaat, 5 Jenis Daun Mint Ini Bisa Anda Tanam di Pekarangan
  •   Memiliki nilai evapotranspirasi

Daun pinus memiliki nilai evapotranspirasi yang tinggi, sehingga akan cepat mengurangi kadar lengas dalam tanah, yaitu tanah tidak mudah menjadi jenuh air.

Selain itu, manfaat lain dari pinus adalah bisa menjadi tempat wisata, seperti yang banyak terdapat di Sulawesi Selatan dan beberapa daerag di Indonesia. Di mana masyarakat memanfaatkan hutan pinus menjadi destinasi wisata.

Hanya yang perlu dicatat, meski memiliki banyak manfaat, pinus harus di tanam di tempat yang tepat, yaitu  pada wilayah yang mempunyai curah hujan di atas 3.000 mm  per tahun. Tujuannya agar tidak mengakibatkan tergerusnya air tanah yang bisa berdampak buruk bagi manusia dan lingkungan.

KLIK INI:  Konflik Buaya dan Manusia di Towuti Berlanjut, BBKSDA Sulsel Evakasi Buaya
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!