Pohon Kenangan

oleh -18 kali dilihat
Pohon Kenangan
Ilustrasi pohon/foto-ist

Sebatang  pohon tumbuh di belakang rumah. Berdaun lebat hingga separuh atap tertutup. Saking lebatnya sinar matahari tak diberi sempat untuk lolos. Pakaian yang dijemur Ibu harus sabar ditunggui hingga tiga hari agar kering. Aku sering ingin memangkas pohon  tersebut, tapi Ibu selalu melarang.

“Tunggu hari baik, Nak,” selalu begitu jawaban Ibu jika ada di antara kami yang akan memangkasnya. Pohon itu seolah menyimpan kutukan purba.  Kakak pertamaku pernah memangkasnya dan ia terjatuh dari pohon itu. Kepalanya mendapat enam jahitan karena terbentur di batu. Sejak kejadian itu ia tak pernah lagi memanjatnya. Kakak keduaku juga pernah melakukannya, tapi baru satu ranting  dipangkas parangnya tiba-tiba jatuh dan mengenai kakinya. Untung lukanya tak parah.  Ibu datang menyemprotnya dengan amarah.

Pohon itu hanya bisa dipangkas melalui restu Ibu.  Terakhir dipangkas tiga tahun lalu saat kakak pertamaku menikah. Dan akulah pelakunya. Sebelum memanjat Ibu mengecup ubun-ubunku tanda restunya. Dan ajaib, tak ada kejadian yang mendebarkan.

Pernah suatu hari ketika Ibu mengunjungi kakak pertamaku. Aku berniat memangkas pohon tersebut tanpa sepengetahuannya. Parang kuasah setajam mungkin, tapi niat itu berhenti dengan turunnya hujan deras selama tiga hari. Rencana matang itu berantakan.

Apa dan bagaimana pohon itu aku tak pernah tahu. Ibu tak pernah cerita. Ia melipat sendiri rahasianya. Kedua kakakku pun tak pernah tahu. Kami tak pernah mendesak Ibu untuk cerita. Begitupun dengan Ayah semasa hidupnya. Keduanya seperti sepakat memelihara misteri di dalamnya.

Jika dilihat sekilas pohon tersebut serupa pohon sawo. Tapi buahnya merah, rasa buahnya perpaduan antara asin dan manis. Aku belum pernah menemukan pohon seperti itu. Dan hanya akan berbuah di bulan Agustus sebulan penuh. Tak heran jika di bulan Agustus, pohon tersebut sibuk menerima tetamu berbagai jenis burung, bahkan pa’niki ‘kelelawar’ membuat sarang dalam rumah.

Melipat rahasia kenangan

“Rabu lusa, jam sembilan pagi pangkaslah pohon itu!” pinta Ibu. Mata tuanya tak bisa menyembunyikan sedihnya yang bukit.

“Ada apa dengan pohon itu, Bu?”

“Itu pohon kenangan, Nak”

“Maksud Ibu?”  tanyaku.

“Berdoalah sebelum memanjatnya,” saran Ibu. “Di bawahnya tertanam tembunimu, juga tembuni kedua kakakmu. Pohon itu ditanam bersama tembuni Sakir. Kalian bertiga tak bisa dipisahkan darinya,” terang Ibu.

Pohon kenangan, dadaku bergemuruh haru ketika Ibu menyebutnya demikian. Aku tak pernah menyangka jika Ibu seromantis itu. Wajar saja ketika Ayah masih ada di sisinya, keduanya kerap menghabiskan waktu minum kopi di bawahnya dan pada bulan-bulan awal kepergian Ayah, pohon itu menjadi pelarian Ibu yang paling nyaman.

Mata Ibu terus saja memanah ke pohon itu.

“Pohon itu dibawa ayahmu sepulang dari kebun jelang malam. Hujan sedang menderas saat itu. Katanya, ia hampir saja jatuh ke sungai andai tak berpegang di pohon tersebut. Batangnya  masih sangat kecil ketika menyelamatkan ayahmu,” kenang Ibu. Matanya terlihat basah.

“Rasanya  tak masuk akal pohon sekecil itu bisa menahan berat tubuhnya, tapi ayahmu tak pernah bohong. Dan lebih ajaib lagi, saat itu Ibu sedang mengerang sakit hendak melahirkan kakakmu, Sakir. Ibu berkali-kali hampir pingsan. Persalinan Ibu sangat susah, tapi setelah meminum air rebusan daun pohon tersebut, tiba-tiba saja rasa sakit itu raib. Ibu melahirkan Sakir dengan lancar bahkan hanya tiga tetes darah yang keluar mengiringi kelahirannya,” terang Ibu.

Aku mendekat ke Ibu. Ingin kudengar cerita selanjutnya perihal pohon tersebut. Tapi Ibu tak melanjutkan ceritanya.   Beliau seakan larut dalam dekapan kenangannya bersama Ayah.

Malam turun ke mata. Sepi merayap-rayap. Kunang-kunang menari.

Aku duduk di samping Ibu yang sedang asyik menonton. Gigil mulai menyergap. Ibu menarik selimut mengusir gigil. Aku perhatikan rambutnya, separuhnya telah memutih. Aku bayangkan di rambut putih itu bergelantungan malaikat maut yang siaga merampas Ibu dariku sewaktu-waktu. Aku ngeri sendiri.

TV hitam putih yang tak ingin diganti oleh Ibu menyala serak. Aku tak mengerti kenapa Ibu tak pernah ingin menggantinya dengan TV berwarna. Barangkali itu juga kenangan Ibu dengan Ayah. Bisa jadi TV tersebut adalah mahar atau erang-erang Ayah ketika menikahi Ibu berpuluh tahun lalu.

“Jangan benci malam, Nak,” pesan Ibu dengan suara bergetar karena disekap gigil

“Kenapa, Bu?” tanyaku.

“Malam, aku, dan ayahmu adalah cerita yang diturunkan dari langit,” ujar Ibu. Aku tak mengerti maksudnya. “Berdamailah dengan malam, Nak,” sarannya. Mataku menyipit, tak mengerti kenapa Ibu tiba-tiba membahas malam, padahal cerita sebelumnya adalah pohon itu. Aku curiga ibu sengaja mengalihkan pikiranku.

“Lalu bagaimana dengan pohon di belakang rumah itu?” tanyaku dirundung penasaran.

Ibu terperangah seakan menyadari dirinya terjebak dalam rahasia yang disimpannya bertahun-tahun. Ia tertunduk, sedih tergambar jelas di rupanna ‘wajahnya’. Aku merasa bersalah kepada Ibu karena pertanyaan yang dipenuhi rasa penasaran itu.

Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu setelah kedua kakakku menikah dan memiliki rumah. Pernikahan memiliki sisi kekejamannya sendiri dengan memisahkan anak dari orang tuanya. Ayah meninggal delapan tahun lalu karena sakit perut. Kehilangan Ayah bagi Ibu adalah kekejaman takdir yang tak termaafkan.

Sebagai anak bungsu, aku menjelma menjadi anak kesayangan Ibu. Aku selalu jadi nomor satu. Tapi kata Ibu itu hanya perasaanku saja. Cinta terbesar orang tua justru diterima anak pertama. Bahkan di kampungku, nama ayah atau ibu kadang diganti dengan nama anak pertamanya. Jika kalian “para pembaca” tak mengerti, baik kuterangkan sedikit.

Kakak pertamaku namanya Sakir. Nama ayahku Amirullah dan nama ibuku Maira. Namun, ketika kakak pertamaku lahir, Ayah lebih akrab disapa dengan ayahnya Sakir atau bapaknya Sakir, begitupun dengan Ibu. Ketika ada yang mencari Ayah, orang tersebut cukup menanyakan, ayahnya Sakir ada? Maka Ibu akan mengerti jika yang dicari adalah ayahku. Demikian pula jika ada yang mencari Ibu. Nama anak pertamalah yang merampas dengan lembut nama orang tuanya.

Malam terus diam. Kantuk mulai menyerang. Gigil memesra

Ibu minta dipijit. Katanya badannya pegal. Aku menuruti keinginannya sambil berharap akan ada lanjutan cerita perihal pohon tersebut.

“Jenis pohon apa di belakang rumah itu, Bu?” tanyaku lugu

“Jenis pohon cinta dan namai saja pohon kenangan,” jawab Ibu ketus.

“Kenapa bisa?”

“Bukannya Ibu telah menceritakannya” kata Ibu sambil mengusap wajahku

Beberapa menit kemudian Ibu terpulas. Namun, Ibu telah berjanji akan menceritakannya besok pagi  di bawah pohon tersebut dengan menggelar tikar.

Aku berbaring di samping Ibu. Memandangi wajahnya yang dipenuhi keriput ketuaannya. Betapa tegarnya beliau, mengasuh tiga orang anak lelaki. Betapa setianya menyimpan rahasia kenangannya.

Aku ingin mencari istri yang bisa setegar dan setabah Ibu. Perempuan yang bisa merawat segala kenangannya bersama lelaki yang telah menghalalkannya dengan ijab kabul.

Sepi mengunci malam. Suara TV itu kian serak. Ibu pulas dengan senyuman. Barangkali sedang memimpikan Ayah. Lelaki pendiam yang hanya tahu mencintai satu perempuan, yaitu Ibu. Aku melangkah ke dapur untuk mengambil air minum. Tapi niatku urung terlaksana. Pohon kenangan tersebut memancarkan cahaya.

Aku mengintip di celah dinding. Pohon itu berbuah kunang-kunang—terang benderang. Tiga anak kecil bermain riang di bawahnya dan seorang lelaki mirip Ayah tersenyum kepadaku saat tatapannya menemukanku mengintip. Ibu tiba-tiba datang menepuk bahuku sambil tersenyum. Aku kaget, napasku serasa keropos. ###

Rumah kekasih, 8 Maret 2015

Cat: Cerpen ini pernah dimuat di Harian Fajar

Penulis: Irhyl R Makkatutu

KLIK Pilihan!