Pintu dari Babatan Hutan

oleh -44 kali dilihat
Pintu dari Babatan Hutan
Ilustrasi-foto/Pixabay
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Sekarat Berkarat

 

ia duduk di tepi jurang di belakang rumahnya
tiga meter dari sungai
biarkan sunyi tiba di matanya pelan, sangat pelan
hujan turun mengantar tanah ke kakinya

daun berserakan, luruh bacai cuaca
tak bergerak ia
air sungai menderah
hanyutkan pohon-pohon dari hulu

lumpur menulis pesan
“aku sekarat, hatimu berkarat”

dibacanya pesan itu
lumpur menutup mata
air membekap mulut
pohon-pohon menindih tubuh

“aku sekarat, hati berkarat,” rengeknya

air terus saja tiba, tak henti-henti

tandabaca, 2022

KLIK INI:  Pada Sebatang Pohon Kelapa

Aku Tak Bisa Memasak Sampah, Kekasih

 

aku menuju dapur
membuka panci

perut berontak
bulir peluh meliar

tenggorokan rasanya dihinggapi kemarau
kering kerontang

kuputar keran air
air menetes malas
pelan sekali
keruh bau

sejak sungai hanya mengalirkan sampah
sayur mayur hilang dalam panci

ketika pohon berganti gedung
mata air jadi air mata
bobboro lenyap dalam panci

aku tak bisa memasak sampah, kekasih, katamu
bibirmu kemarau
pecah di mana-mana

aku menatap keluar jendela
rumah kita mulai berpagar sampah
dibawa air sungai saat hujan tujuh menit lalu

tandabaca, Agustus 2022

KLIK INI:  Bukit Pattowengang

Pintu dari Babatan Hutan

 

air tiba di tangga rumahmu
kau bingung mana yang lebih dulu kau selamatkan,
kenangankah atau barang-barang

atau buku tabungan dengan isi tak seberapa
ataukah beberapa lembar ijazah yang tak mampu mengutarakan apa-apa
selain sunyi dan sesak

kau lupa mengabariku
perihal pohoh-pohon di hulu, yang menyimpan ari-ari leluhur telah tiada

barangkali ia telah hijrah ke Jakarta
atau ke kota-kota asing jauh yang penuh siasat

tanpa satu pun surat wasiat
hanya banjir yang sampai di tangga rumahmu jadi kabar duka luka

namun, kau tetap saja mematung, barangkali memikirkan air galon dan gas yang belum sempat kau isi ulang

sejak pohon-pohon hijrah ke kota, kayu bakar pun hijrah ke gas, tak ada lagi jelaga di dapur, tak ada abu gosok

aku tahu, hidupmu makin sempit dan tangga rumahmu tak ubahnya sumpit

aku tetiba saja ingin jadi air, jadi pohon, jadi kayu bakar merimbuni rindu
membawamu ke dalam bahuku dan menenggelamkankanmu dalam pelukan

kita lalu berakar, tetumbuhan tumbuh dalam tubuh, air mengalir dari pori. kehidupan kembali merayakan hidupnya.

Bukankah itu keinginanmu sejak dulu? mengekallah dalam tabuh tubuh yang jadi musik keabadian
di mana kita terus menjalar ke hulu, menanami lahan-lahan gundul dengan napas

kemarilah… kemarilah…!
genggamlah tanganku lebih erat. aku telah sampai di depan pintumu
pintu yang kau buat dari membabat hutan di hulu itu.
pintu itu membawa air ke tangga rumahmu

Agustus 2022

KLIK INI:  Tanah Duka, Tanah Luka